Monday, June 03, 2013
Pemilih Pemula dan Pembaruan Politik
Sunday, May 12, 2013
Menggugat UN
Sekolah Gratis (tanpa) Pungutan
Tuesday, April 16, 2013
Bahasa Jawa dalam Kurikulum 2013
Monday, April 15, 2013
Ke-(tega)-san Penerapan Tatib di Sekolah
Thursday, March 14, 2013
Efektivitas Tryout
Sunday, February 03, 2013
Pat Gulipat bekas RSBI
Friday, December 21, 2012
Eliminasi Ranking
Monday, November 26, 2012
Kurikulum (wajib) Pramuka
Friday, September 07, 2012
Pendidikan Anti teror
Tuesday, August 07, 2012
UKG (harus) online
Friday, June 01, 2012
Habitus Kelulusan
Wednesday, March 14, 2012
Rok Mini dan Hedonisme
Sunday, March 11, 2012
Perubahan paradigma UN
Thursday, October 13, 2011
Kaji Ulang Mengajar 27 Jam/Minggu
WACANA pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara untuk menambah jam mengajar menjadi 27 jam per minggu dari 24 jam per minggu mulai Januari 2013 layak dikritisi. Awal mula dari masalah ini, karena keresahan pegawai negeri sipil (PNS) non-guru yang merasa bahwa beban kerja mereka lebih berat dibandingkan dengan guru. Mereka sering melihat guru PNS pada saat jam kerja, keluyuran di tempat perbelanjaan seperti pasar dan mall.
Kebijakan itu bagaikan pepatah ìnilai setitik rusak susu sebelanga. Ibaratnya, semua guru dianggap melakukan tindakan serupa. Yaitu kurang peduli dan mengabaikan tanggung jawab sebagai pengajar, pendidik, dan pendamping.
Sudah Berat
Jumlah guru di Indonesia saat ini sekitar 2,7 juta jiwa, dan tidak ada lima persennya dari mereka yang keluyuran saat jam mengajar. Sebab di era kompetetif saat ini, beban keprofesionalan guru sangat berat, antara lain harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Guru memiliki multiperan, dari tugas di sekolah sampai menyelesaikan berbagai persoalan peserta didik, baik akademis, psikis maupun sosial.
Selain kewajiban mengajar, masih ada kewajiban lain seperti menyiapkan materi, melakukan evaluasi, analisa, dan kadang memberikan konseling pada siswa bermasalah. Jadi, alokasi waktu masuk kerja dari Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.00-13.30 bahkan lebih, selalu dijalani dengan tanggung jawab. Apakah ini belum dianggap berat dan masih perlu ditambah beban lagi dengan kewajiban tatap muka menjadi 27 jam per minggu? Selayaknya peraturan ini harus dikaji ulang kembali, mengingat beban pekerjaan guru sudah begitu padat.(75)
FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta.
Wednesday, January 12, 2011
Gayus dan Raja Louis IV
Meyaksikan tingkat Mafia Pajak Gayus tambunan jadi ingat pernyataan Raja Louis IV dari Perancis " l'eat c'est moi, negara adalah saya".
Begitu kuat pengaruhnya dalam melobi dan mempengaruhi siapapun. Sebanyak 68 kali keluar hotel proseo sejak masuk bui bukan prestasi biasa. Oleh karena itu terungkapnya kasus suap bagi sipir Rutan Mako Brimob yang notabene para polisi, pemalsuan identitas paspor harus diusut tuntas. Rakyat juga harus juga mulai gencar melakukan kontrol sosial. Jangan takut kalau negara ini mau maju!
Karenanya ratusan ribu rakyat telah dimiskinkan oleh perilaku mafia pajak, maka mereka (rakyat) wajib berbicara dan menuntut. Saatnya negara ini bersih dari segala bencana alam maupun akibat ulah manusia serakah!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia
Saturday, January 01, 2011
Tahun Baru, Etika Baru
Tahun 2010 hendak terlewati untuk menyongsong tahun baru. Berbagai evaluasi berkenaan bobroknya moral, banyaknya petaka (alam), banyaknya penganggur, kemiskinan yang masih masif, serta rendahnya etika berbangsa dan bernegara sebagai bentuk pandora menuju pencerahan.
Dapat terlihat dalam terkuaknya beberapa kasus besar yang melanda negeri ini. Banyaknya ”pahlawan” yang berani membuka tabir, tetapi justru menjadi tersangka membuat hati ini menjadi miris akan nasib masa depan bangsa ke depan. Di manakah nilai kejujuran dapat menjadi panglima dalam memperjuangkan keadilan?
Oleh karena itu, momen baru selalu ada harapan baru yang lebih baik. Apabila melihat karut-marut persoalan bangsa beserta buruknya manajemen pengelolaan negara, dibutuhkan pemimpin yang bermoral dan beretika dengan keteladanan yang menjadi panutan semua pihak. Begitu juga masyarakat yang semakin kritis dan berani.
Maka harapan di tahun baru menjadikan bentuk etika baru dalam segala kehidupan. Segera tuntaskan segala masalah yang mengganjal demi keberadaban sebab di sinilah jati diri, harga diri, dan martabat bangsa dipertaruhkan.
Semoga!
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia
Tuesday, December 14, 2010
Janji Pemerintah Harus Ditepati
Pepatah mengatakan ”janji harus ditepati”. Itulah yang selalu diharap oleh orang yang diberi janji. Namun, mungkinkah pemberi janji mampu dituntut, apabila tidak menepati? Bangsa, masyarakat marginal kita sudah biasa diberi janji. Sayangnya pemberi janji hanya sekadar obral mulut untuk menarik simpati, tanpa sebuah realisasi!
Lihat saja saat kampanye pemilihan anggota legislatif, kepala daerah, dan presiden. Sudah berapa banyak janji teringkari, bahkan mereka berharap akan hilang sedemikian rupa sejalan bergulirnya waktu.
Hal yang paling menyakitkan mungkin janji pemerintah yang diberikan kepada korban bencana (Merapi misalnya). Janji pemerintah memberikan ganti rugi (membeli) terhadap ternak yang mati, rumah sementara yang layak, dan jatah hidup seusai bencana sesuai kebutuhan.
Ironis memang saat pemerintah mementahkan janjinya. Manakah yang layak ditaati dan dipercaya? Kekecewaan demi kekecewaan semakin membuncah. Seolah negara meninggalkan kewajibannya untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya agar hidup layak.
Sudahlah, saat rakyat meminta kepastian. Janganlah mudah memberi janji. Dibutuhkan tindakan nyata dengan perencanaan, sosialisasi yang matang dengan perwujudan realisasi sesuai kepentingan dan kebutuhan mendesak bagi warga negaranya.
Semoga.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia
Sunday, November 14, 2010
Menghargai Pahlawan
Setiap negara dan bangsa pasti memiliki nilai historis dalam pembentukannya. Mereka yang berjuang (founding fathers) demi adanya sebuah negara dan eksistensi bangsa mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan bangsa. Demikian juga bangsa Indonesia. Setiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Lalu bagaimana kita yang telah menerima buah perjuangan dalam menghargai dan menghormati para pahlawan bangsa yang telah gugur membela bangsa dan Tanah Air. Upacara bendera, pembacaan risalah (riwayat) hidup pahlawan, pemasangan gambar pahlawan, penyanyian lagu kebangsaan, penerbitan buku dan pemberian gelar memang semestinya.
Namun, dibutuhkan pula penginternalisasian nilai semangat berkurban itu sampai ke relung hati yang paling dalam bagi segenap elemen bangsa. Sebab, nilai tanpa pamrih inilah yang kurang bersemai, khususnya bagi beberapa pejabat publik. Seperti halnya Gubernur Sumatera Barat dan Wakil Bupati Boyolali, yang malah pergi saat wilayahnya terkena bencana.
Presiden Barack Obama saja dalam kesibukannya berkunjung ke Indonesia memberi penghargaan, menghormati pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah menghargai pahlawan sampai ke dalam hati dengan sikap dan perbuatan nyata?
Selamat hari Pahlawan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta,
warga Epistoholik Indonesia
Wednesday, November 10, 2010
Menjaga Alam
Natura non facit saltum”, alam tidak membuat loncatan. Begitulah kira-kira upaya kita untuk selalu memompa semangat hidup kepada saudara yang sedang terkena bencana. Karena musibah dari murkanya alam, merupakan bentuk tanda-tanda kehidupan zaman bagian rencana Tuhan.
Bentuk peringatan dari Tuhan kepada umatnya yang sudah banyak melakukan penyimpangan alam dengan tidak menjaga dan mengelola dengan baik.
Menjadikan sebuah kesadaran bahwa menjaga alam, sebuah bagian dari rona kehidupan manusia. Maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Murkanya alam bukanlah semata-mata bersifat dadakan. Peringatan bahaya bencana sudah terlihat melalui tanda-tanda alam.
Maka janganlah kita menyalahkan alam, tetapi bagaimana kita menjalin persahabatan dengan tidak merusaknya. Bencana yang terjadi saat ini bisa menjadikan peringatan, bahwa Alam selalu memberi peringatan saat akan ”marah”. Bagaimana sekarang kita bersikap dan bertindak dengan segera!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta,
warga Epistoholik Indonesia
Saturday, October 30, 2010
TANGGUNG JAWAB NEGARA
Berbagai bencana secara beruntun menimpa negeri ini saat ini. Erupsi Gunung Merapi, tsunami di Mentawai, banjir di Jakarta (terkini), tanah longsor, gempa, banjir bandang, dan lainnya. Jelas sekali rakyat sangat membutuhkan perhatian prima dari negara.
Seperti pepatah latin "salus populi suprema lex esto", hendaklah keselamatan rakyat menjadi hukum yang tertinggi. Hal ini menginspirasikan bahwa penentu kebijakan diharuskan peka akan keselamatan rakyat sebagai bentuk tanggung jawab mereka.
Sungguh ironi saat negara penuh bencana dan rakyat mengungsi, wakil rakyat "piknik" studi banding ke luar negeri. Menjadikan bentuk luka mendalam kepergian mereka jelas di biayai oleh uang rakyat.
Bagaimanapun, bencana yang menimpa rakyat di sejumlah tempat bukan kehendak rakyat. Dalam hal ini, dibutuhkan kepekaan yang masif bagi pemimpin untuk tidak semakin melukai hati rakyat.
Segeralah bertindak demi keselamatan rakyat, janganlah diabaikan. Ingatlah waktu meminta dukungan rakyat saat pemilihan legislatif maupun pemilihan kepala daerah karena suatu saat rakyat bisa menggugat!
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta,
warga Epistoholik Indonesia
Wednesday, October 20, 2010
EVALUASI KONSTRUKTIF
Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginjak satu tahun. Semua kementerian dan sikap kebijakan Presiden banyak di sorot oleh lembaga kemasyarakatan. Isu dan desakan reshuffle semakin santer didengar. Tidak heran banyak menteri yang mulai waswas.
Bukti "pembelaan" dari berbagai kementerian di harian ini sering kita baca advetorial keberhasilan program yang telah dijalankan. Begitu pula berbagai laporan evaluasi kinerja terpublikasi dengan berbagai kekurangan dan ketidakmampuan mengejawantahkan dari kehendak Presiden.
Prinsipnya, evaluasi konstruktif menjadi harapan bersama. Dengarkan kritik dan tindak lanjuti dengan program yang nyata dan dibutuhkan saat ini. Semoga.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, October 07, 2010
Alusista dan Hamkamnas
Sistem Pertahanan keamanan Nasional yang komprehensif menjadi harga mati demi keutuhan negara dan tanah air Indonesia. Melihat kenyataan beberapa wilayah yang diakui menjadi milik negara jiran (ambalat, sipidan dan Ligitan), mengharuskan eleman bangsa dan Aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus bangkit kembali guna mempertahankan keutuhan wilayah.
Seyogyanya wilayah yang sangat luas ini sepadan dengan alusista (alat utama sistem Pertahanan) yang linguid (canggih), dalam arti skala prioritas usia menjadi harga mati dalam pengoperasiannya.Alusista dan Hamkamnas harus seiring dan sejalan.
Dirgahayu TNI ke 65 tahun.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Wednesday, September 08, 2010
Budaya Mengalah
Gelombang antrean pemudik sudah mulai terasa di jalan yang dilalui. Berbagai sosialisasi, penjagaan, dan pendirian pos keamanan/kesehatan dan pelayanan ekstra dilakukan demi kenyamanan pemudik.
Yang perlu digalakkan dan disadarkan bagi para pemudik adalah gerakan budaya mengalah, dalam arti memberi kesempatan bagi pengguna jalan lain. Acapkali kasus kecelakaan disebabkan tingginya egoisme pengguna jalan. Rasa ingin mendahului, cepat sampai, dan minta diprioritaskan merupakan bentuk individualisme masif.
Hal itu bisa dilihat dari berbagai kasus kecelakaan di perlintasan kereta api, perempatan jalan, maupun dalam satu ruas jalan. Kerugian disandang oleh pemudik sendiri. Di samping tidak bisa berlebaran, mereka justru merasakan betapa pedih dan lukanya jiwa-raga karena kurang mau mengalah kepada sesama pengguna jalan.
Mengalah perlu menjadi budaya yang bergema dalam sikap dan perbuatan para pemudik. Istilah Jawa "alon-alon asal kelakon" wajib menjadi semboyan pemudik. Meski terlambat, yang penting selamat demi kesempatan bersilaturahmi dengan orang tua, keluarga, atau sahabat. Karena itu, mengalahlah!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Monday, August 16, 2010
Merdeka
Kata Merdeka menjadi kata kunci dari sebuah perjuangan. Apalagi jaman pergerakan menuju negara Kesatuan Republik Indonesia guna melepaskan diri dari penjajahan.
Lalu, bagaimanakah cita-cita mulia kebebasan (merdeka) yang kita dapati. Apa sesuai cita-cita dan harapan dari pendiri negara?
Ternyata segala kemungkaran, kedengkian, iri hati dan kemunafikan menjadi bentuk kemudaratan masif. Korupsi, Kolusi, manipulasi, penindasan, penganiayaan, pembodohan, pengkerdilan, perampasan hak hidup termasuk dalam kebebasan memeluk agama masih melingkari berbagai masalah bangsa.
Semboyan merdeka harusya bukan hanya asa.Sebab sudah 65 tahun lamanya negara ini secara kokoh berdiri di belantara dunia. Kita butuh kedamaian dan keharmonisan hakiki.
Sayang kemiskinan, kemelaratan, disharmonisasi kehidupan bermasayarakat dan bernegara belum menunjukkan secara hakiki arti merdeka itu sendiri. Mengapa?
Negara ini sudah merdeka bung!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia.
Thursday, August 12, 2010
Mengobarkan Nasionalisme
Bulan Agustus menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke 65 RI semestinya pengobaran semangat Nasionalisme terus di galakkan. Caranya mulai dari resik-resik, pengecatan kembali, pemasangan bendera dan aneka perlombaan.
Namun tidaklah dilupakan bahwa pengobaran itu janganlah berhenti sesaat. Pasalnya semangat kebangsaan kepada negara ini merupakan harga mati untuk selalu digelorakan.
Runtuhnya nasionalisme di era kekiniaan sangat kasat mata saat rasa kasih sayang, simpati dan empati terkikis oleh egoisme dan individualisme. Secara nyata sering kita dengar, lihat dan rasakan bahwa sangat murahnya harga diri dan rentannya sikap manusia dalam meremehkan segala hal.
Mengobarkan Nasionalisme merupakan pekerjaan bersama seluruh anak bangsa, bukan kolektivitas semata. Mulai menyelesaikan masalah kecil, ringan dan sederhana.Semoga!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Puasa Bentuk Penyadaran
Karut marut masalah bangsa sudah mulai pada titik nadir. Kemerosotan mental spiritual, sosial dan moral anak bangsa termasuk pejabatnya semakin transparan.Demikian halnya upaya pembentukan pembangunan karakter bangsa seolah mentok tanpa solusi.Berbagai "borok" kehidupan semakin merajalela sampai sektor kehidupan terendah.
Sejatinya bentuk penyadaran harus dilakukan dengan berbagai contoh keteladanan dan tindakan riil. Upaya menggali perasaan tidak hanya ungkapan batin, namun wujud konkrit dalam praktek.
Bulan puasa merupakan bulan rahmat. Sebagai insan umat beriman yang cinta akan kedamaian, puasa sebagai bentuk penyadaran umat manusia bahwa kita merupakan bagian dari kehidupan alam semesta dengan segala persoalan.
Marhaban ya Ramadhan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, July 15, 2010
Bersama menjaga Elpiji
Maraknya tabung elpiji 3 kg yang meledak menjadikan masalah yang cukup serius. Berbagai tudingan berkenaan kurang sosialisasi pemakaian, kualitas selang, regulator dan tabung yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI.
Berbagai upaya pengendalian melalui sosialisasi kembali dilakukan. Begitu pula mengecek kembali kualitas komponen dari tabung sampai kompor gas.
Namun kadang kita juga lupa bahwa Tabung gas 3 kg sungguh sangat ringan. Oleh karena itu sifat kealpaan sering terlupakan saat pengangkutan, pengisian dan pendistribusian kembali.
Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat melihat beberapa pekerja di salah satu agen gas. Proses penataan tabung gas kosong ke bak truk dilempar demi kepraktisan dan efeisiensi waktu.
Oleh karena itu selain perbaikan kualitas komponen, perlu juga penataran kembali petugas (buruh angkut) gas kosong.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia
Tuesday, June 29, 2010
"KOMPAS" DAN KEPEDULIAN
Bangsa ini sungguh sudah mengalami krisis yang perlu segera diperbaiki. Berbagai persoalan silih berganti seakan menunggu giliran untuk di ketahui oleh masyarakat. Krisis identitas, etika dan moral, finansial, jati diri, keberadaban, kemanusiaan, dan kepedulian. Semua secara terbuka diketahui, dipahami dan diikuti oleh masyarakat karena pemberitaan melalui media. Media punya andil besar dalam memengaruhi "tabiat" anak bangsa.
Koran Kompas dalam usianya ke-45 tahun harus menjadi pandora kepedulian akan nasib dan masa depan bangsa. Kita ketahui berbagai kegiatan mulai "ngontel bareng" (Surabaya-Jakarta), lomba-lomba penulisan kearifan lokal, kegiatan sosial, persiapan pementasan drama kolosal dengan mengoptimalkan potensi budaya daerah, menjadikan bentuk nyata kepedulian Kompas.
Pemberitaan melalui koran masih cukup strategis dalam mengubah paradigma bangsa ini. Oleh karena itu, sebuah kepedulian dalam menjaga keseimbangan wajib selalu diciptakan.
Maka selayaknya Kompas dengan segala apresiasinya semakin menancapkan diri menjadi koran yang dapat menjadi pedoman dan suluh bagi dinamika bangsa demi keberadaban.
Selamat Ulang Tahun Ke-45 Kompas. Kepedulianmu pada nasib bangsa ini sangat dibutuhkan dalam menjaga stabilitas nasional demi terbebas dari krisis berkelanjutan. Semoga!
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia
Friday, June 18, 2010
DIFABEL DAN PEKERJAAN
Kerap kita melihat kaum difabel (cacat fisik) yang berada di persimpangan jalan lampu merah dengan meminta sedekah dari pengendara motor dan mobil. Betapa ironisnya jaminan sosial yang di dapat oleh negara yang tidak mengena pada mereka yang membutuhkan.
Sesuai Pasal 34 UUD Negara Republik Indonesia 1945, jelas sekali bahwa mereka dijamin oleh negara. Namun sekalipun harus kehujanan, kepanasan, dan kedinginan saat malam menyapa, toh tetap bekerja demi sekeping uang logam.
Bagaimanapun kaum difabel sangat butuh penghormatan dengan pekerjaan yang terhormat. Saat era tahun 1980-an, penulis masih ingat ada perusahaan yang mengoptimalkan kaum difabel untuk dipekerjakan, yaitu Kedaung Grup.
Namun sejalan reformasi dan globalisasi banyak perusahaan yang peduli kepada kaum difabel gulung tikar. Efeknya, bisa jadi kaum difabel harus turun ke jalan. Oleh karena itu, kementerian yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak dan jaminan sosial harus mulai menata dan menginventarisir kembali.
Difabel dan pekerjaan perlu berkorelasi sehingga mereka mendapatkan tempat yang layak dan pantas dalam kehidupan di masyarakat.
FX Triyas Hadi Prihantoro SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Sunday, May 30, 2010
KUALITAS SENSUS
Akhir Mei 2010, cacah jiwa (sensus) penduduk Indonesia 2010 akan berakhir. Berbagai tahapan dari sosialisasi,perekrutan petugas, pelatihan, pencatatan sampai pada pelaporan sudah sangat ditunggu oleh masyarakat.
Polemik sensus sebagai bentuk pencatatan mutakhir tidak hanya berkenaan data penduduk (usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan lain-lain). Banyak catatan segala kelemahan pelaksanaan yang tersiar di media.
Sensus sendiri menjadi bentuk pembuktian sejauh mana kuantitas dan kualitas bangsa ini. Oleh karena itu, demi sebuah akurasi data dibutuhkan proaktif dari warga. Sebab melalui hasil sensus ini segala perencanaan pembangunan negara akan tertata dengan bijaksana demi keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang merata.
Tentu kita banyak berharap hasil cacah jiwa ini benar-benar berkualitas. Sebab itu anggaran yang sudah digelontorkan benar-benar menghasilkan manfaat yang berguna bagi bangsa dan negara. Jika kita belum merasa tercacah, segera lapor kepada pak RT sebagai ujung tombak dari wakil masyarakat. Semoga!
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Sunday, May 16, 2010
Lestarikan Budaya Lokal
Berita di sebuah stasiun televisi nasional tentang pengklaiman lagu Bengawan Solo oleh empat orang warga Belanda merupakan bentuk keseriusan masalah. Perlu penanaman kecintaan budaya lokal melalui pendidikan.
Pasalnya, lagu (keroncong) Bengawan Solo identik dengan Gesang (92 tahun), Sang penciptanya yang sudah melegenda.
Pengakuan dunia akan kelegendaan Bengawan Solo terbukti dari berbagai penghargaan yang diterima pencipta lagu ini. Tak ayal lagi pengklaiman ini menjadikan kita harus selalu waspada, karena sudah banyak budaya (reog, angklung, lagu Rasa Sayange) maupun produk lokal (tempe) yang diakui dan diklaim milik bangsa asing.
Maka kehendak mengoptimalkan dan melestarikan muatan budaya lokal melalui pendidikan wajib didukung. Karena dengan pendidikan kecintaan muatan lokal sejak dini teraktualisasikan dan segera membumi dalam hati generasi muda.
Dengan demikian, melestarikan tidak hanya sebatas wacana. Karena sudah menjadi bagian dalam pendidikan sehingga muatan lokal yang ada di sekitar kita akan tetap lestari. Semoga!
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta,
Warga Epistoholik Indonesia
Wednesday, April 21, 2010
KEBOHONGAN PELAYAN(AN) PUBLIK
Terungkapnya kasus penyelewengan pajak oleh oknum Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Gayus Tambunan merupakan bentuk kebohongan pelayan(an) masyarakat. Para pelayan masyarakat banyak yang membohongi dengan melakukan manipulasi data dan korupsi.
Sejalan pengertian demokrasi (Yunani), demos berarti rakyat dan kratos atau kratein berarti pemerintahan. Dengan demikian, di dalam negara demokrasi, rakyat memegang peranan penting akan berlangsungnya negara sehingga mendapatkan hak sebagaimana mestinya. Rakyat wajib mendapatkan pelayanan prima dari "Abdi Rakyat", yaitu mereka yang berkedudukan menjadi pegawai di pemerintahan.
Lembaga negara dan aparat pemerintah Indonesia sebagai pelayan publik (rakyat) sudah berkewajiban melayani "tuannya", dalam hal ini rakyat. Namun, kenyataannya sebuah parodi kehidupan bernegara yang kita saksikan bersama. Bahkan yang menjadi "menu" sehari-hari situasinya terbalik dan menjadikan rakyat marah dan protes.
Kasus dana talangan Bank Century, penggelapan pajak, makelar kasus, dan fenomena kejanggalan keputusan hakim sebagai bentuk pengingkaran sebagai pelayan publik.
Oleh karena itu, perlu sebuah manajemen pelayanan publik yang konstruktif. Sebuah keterusterangan, kejujuran, transparansi, dan keadilan menjadikan keharusan.
Lebih dari sepuluh tahun reformasi seharusnya para pelayan publik mampu memuaskan rakyat dalam pelayanannya. Menjadi kewajiban kita saling mengingatkan, mengawasi, mengoreksi, dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, April 15, 2010
Gerakan antikorupsi
Mendengar, membaca dan melihat berita alur pemberitaan makin rumitnya masalah korupsi, kolusi dan manipilasi di Negara kita. Kenyataan tersebut tidak hanya membuat kita prihatin namun mengharuskan bergerak, bersikap dan beraksi dengan segala tindakan riil. Segala bentuk penodaaan terhadap hak-hak warga negara dan penyimpangan sudah semakin masiff. Korupsi, kolusi, manipulasi masih tumbuh subur.
Mau dibawa negara ini, kalo celah-celah korupsi masih tumbuh subur. Bagaimana negara ini segera bangkit dari keterpurukkan yang semakin kompleks? Bila toh gerakan antikorupsi masih setengah hati, karena masyarakat juga seolah mati suri dalam melakukan dukungan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia.
Saturday, April 10, 2010
Bongkar
Akhir-akhir ini lagu "Bongkar" dari Iwan Fals selalu terdengar di televisi sebagai narasi mengiring kasus besar manipulasi pajak di negeri ini. Lagu yang sangat populer di era 1990-an ini memang sarat akan makna dan arti. Perasaan kecewa, benci, emosional, putus asa, akan mengaduk-aduk dalam otak para pendengar. Kejengkelan semakin membuncah saat sindiran itu bagaikan angin lalu.
Penyakit KKN sudah lama ada, tetapi upaya mengobati dan mengamputasi serasa sulit. Memang benar efek gurita dari kasus korupsi di negeri ini sudah sangat mengakar sampai ke dalam elemen masyarakat.
Oleh karena itu, terbongkarnya kasus manipulasi pajak yang melibatkan tokoh-tokoh terkenal patut diberi dukungan dan apresiasi oleh rakyat. Kesadaran warga membayar pajak ternyata tidak diimbangi dengan kesungguhan aparat berwenang dalam pengelolaan.
Bongkar semua bentuk penyimpangan kekuasaaan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kita yakin bahwa penyakit kronis KKN ini tidak hanya berada di level atas, tetapi juga di tingkat bawah.
Mafia memang kejam dan tanpa pandang bulu. Rakyat kecil selalu menjadi korban. Mari kita bongkar. Gerakan amunisi rakyat sangat dibutuhkan demi melibas para mafioso di negeri ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Friday, March 19, 2010
Keadilan dalam Peradilan
Sudah acapkali kita melihat, membaca, dan mendengar perihal keadilan di peradilan. Sangat beda jauh antara putusan yang diharapkan masyarakat dengan senyatanya. Sangat menyayat hati saat orang yang buta hukum menjadi pesakitan karena ketidak tahuannya (lihat kasus Mbok Minah).
Apalah artinya sebuah kesalahan dengan jatuhnya vonis yang jauh dari perbuatan. Begitu banyak orang kecil dengan perkara yang (mungkin) dia sendiri tak menyadarinya. Ujung akhir dari keputusan sangat melukai hati rakyat. Bila kita renungkan dan sadari memang beginilah nasib "orang kecil" sejak negara ini dijajah dan merdeka. Mereka selalu terpuruk ditengah hegemoni kekuasaan dan kemauan orang-orang berduit.
Akankah Dewi Keadilan yang didamba hadir di peradilan? Semua orang yang berurusan dengan peradilan berharap akan mendapatkan keadilan hakiki. Sebuah keadilan yang diketuk majelis hakim terhormat dan mulia karena semua putusannya didasari hati yang jernih, tulus, dan nurani yang tidak terpengaruh berbagai "kekuasaan" apa pun juga. Semoga!
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta.
Warga Epistoholik Indonesia
Tuesday, February 02, 2010
Epistoholik Indonesia, komunitas "Penyengat"
Lebah adalah salah satu hewan yang ditakuti/ disingkiri karena sengatan beracunnya. Disatu pihak sangat dibutuhkan karena produski madunya. Bahkan banyak para tabib yang memakai sengatan lebah sebagai salah satu alternatif penyembuhan.Demikian juga komunitas EI (Warga Epsitoholik Indonesia).
Komunitas EI adalah sebuah komunitas yang egaliter, berpihak pada kebenaran demi kemasahalatan menjadikan salah satu kelompok penyeimbang dalam kehidupan.bermasyarakat dan bernegara.
Ada salah satu suara warga yang bertanya, apakah EI itu? Mengapa sering menulis di kolom Surat Pembaca Kompas edisi Jawa Tengah?
Berulang kali sudah dijabarkan dan dijelaskan oleh warga EI. Namun yang pasti EI adalah komunitas "penyengat". Bisa jadi ditakuti oleh siapa saja karena kekritisannya, satu sisi dibutuhkan karena menyuarakan suara masyarakat (kepentingan bersama).
Pada Ulang Tahun ke 5 (27 Januari 2010) Komunitas EI harus semakin berani memberikan sengatan-sengatan yang lebih berkualitas dan membangun.
Maka marilah terus menerus selalu menulis. Dengan tulisan di media massa merupakan alat penyengat ampuh bagi yang terkena. Harapannya dari tulisan tersebut ada upaya perbaikan demi keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epistoholik Indonesia
Tuesday, January 26, 2010
REDAM PROPINSIALISME
Paham kebanggaan terhadap wilayah daerahnya sah dan memang harus. Dari sini akan muncul gerakan membangun daerah dengan tidak mudah terpesona dan tergiur segala produk daerah lain.
Pasalnya kemajuan suatu daerah sangat didukung oleh gerakan cinta yang mendalam warganya. Jika perlu berkorban sampai "titik darah penghabisan" jika ada yang melecehkan, tetapi janganlah berlebihan. Namun jika kita melihat aksi bonek (bondo nekat) suporter fanatik Persebaya kita wajib mengelus dada. Kecintaan berlebihan (propinsialisme) dengan segala aksi brutal sehingga merugikan, mendatangkan musuh dari saudara sendiri (daerah lain).
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika jangan hanya sebatas simbol.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO SMA PL Santo Yosef Surakarta
Monday, December 28, 2009
Natal Menyejukkan
Negeri ini ibaratnya sedang mengalami sebuah problematika yang pelik. Ontran-ontran dengan berbagai kasus yang melibatkan masyarakat kelas bawah (kemiskinan, demonstrasi) dan menengah ke atas (adu argumentasi) membuat masyarakat umum bertambah bingung.
Kebenaran, kejujuran, dan keadilan adalah kata kunci demi kehidupan yang damai dan menyejukkan. Hal yang hakiki, semua sektor kehidupan mengharapkan suasana yang nyaman, kondusif dengan stabilitas ekonomi, sosial, politik, keamanan, dan budaya yang tertata.
Oleh karena itu, kita mengharapkan suasana Natal 2009 yang menyejukkan. Segala elemen masyarakat mengendapkan pikiran, mengurangi gejolak emosi, dan mengekang segala hawa nafsu kemurkaan yang dapat merugikan masyarakat.
Penyambutan hari Natal sangat identik dengan segala kegiatan sosial kemasyarakatan. Mari ajak masyarakat yang miskin dan termarjinalkan untuk ikut bergembira dan berbahagia di hari yang kudus ini.
Berbagi kebahagiaan dalam suasana Natal akan semakin menambah kesejukan dalam segala hal. Selamat hari Natal 2009 dan Mari Sambut Tahun Baru 2010 dengan niat yang lebih baik.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Thursday, November 19, 2009
(Ber-) langganan Banjir
Bukan hal baru di beberapa tempat wilayah Indonesia, terkhusus wilayah kota besar berlangganan banjir. Oleh karena itu di awal-awal mulai musim penghujan sebenarnya sudah ada peringatan akan bahaya banjir. Bahkan ada beberapa wilayah sudah mengalaminya.
Menjelang musim hujan, kita (warga) harus bersiap dan waspada terhadap datangnya banjir di wilayah langganan. Dibutuhkan kearifan lokal dalam penanganannya, meskipun upaya preventif dengan gotong royong membersihkan saluran dari sampah sudah dilakukan pra musim hujan.
Namun dengan tidak imbangnya pembangunan fisik dengan kapasitas saluran pembungan air yang kurang memadai dimungkinkan wilayah langganan banjir akan semakin meluas.
Status siaga dan kesiapan petugas serta dukungan SAR menjadi kebutuhan wilayah yang merupakan daerah waspada banjir. Bagaimanapun intensitas hujan yang kadang tidak terduga selalu menyisakan persoalan banjir.
Sebuah kerbersamaan, gotong royong dan saling menolong menjadi kebutuhan dalam menumbuhkan sara bela rasa. Karena memang (ber) langganan banjir bukan sebuah kehendak masyarakat.
Kondisi ini memang harus terjadi sebab kita sendiri sering mengabaikan tanda-tanda alam.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Friday, October 16, 2009
Menggerakkan Kaum Muda
Bulan Oktober identik dengan bangkitnya kaum muda Indonesia. Pasalnya delapan puluh satu tahun silam (1928) segenap elemen kaum muda telah berikrar demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Satu bangsa, tanah air dan bahasa.
Maka bukanlah heran upaya menggerakkan kaum muda sepanjang hayat demi menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada tanah air. Bukanlah sebuah perkara mudah.
Sejalan dengan era globalisasi, transparansi dan pesatnya informasi kaum muda mudah terpengaruh dan terdegradasi ke titik nadir. Buktinya kaum muda Indonesia sering dianggap lemah dan kurang perdaya dalam menghadapi segala bentuk gempuran sosial, pengaruh demi identitas kebangsaan.
Saatnya menggerakkan kaum muda dalam pertumbuhan semangat Patriotisme dan Nasionalisme. Semangat juang dan cinta tanah air haruslah menjadi pemicu untuk bangga akan bangsa dan tanah air Indonesia.
Oleh karena itu sebuah keharusan di setiap lembaga pendidikan ditanamkan Pendidikan Bela Negara, Gerakan cinta tanah air, semangat kebersamaan sosial terhadap segala permasalahan bangsa, sikap hormat, cinta dan saling mengasihi sesama makhluk Tuhan. Sebab melalui kaum muda yang pedulilah negara ini menjadi semakin beradab menuju kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan. Karena kaum muda sebagai tulang punggung negara!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Eipistoholik Indonesia
Tuesday, September 15, 2009
Kepekaan Sosial DPR
Sungguh memprihatinkan kala mendengar, membaca dan melihat betapa besarnya kebutuhan anggaran untuk pelantikan anggota DPR 2009-2014. Langkah tersebut bentuk sikap kekurang pedulian pada situasi dan kondisi kekinian masyarakat, bangsa dan negara.
Mereka seakan tidak melihat kondisi bangsa yang masih hidup dalam lingkup kemiskinan, kemelaratan ditambah adanya berbagai bencana. Seolah pmereka menutup mata akan kenyataan riil.
Bagaimanapun bentuk hajatan pelantikan bisa diminimalikan pembiayaannya. Bukti peningkatan anggaran pelantikan dari tahun 2004 dan tahun 2009 sebesar Rp. 15, 89 Juta perorang dari total Rp 11 miliar untuk 560 calon anggota DPR dan 132 calon anggota DPD. Saat itu, situasi kondisi bangsa tidak jauh berbeda besarnya anggaran ibaratnya tidak adanya kepekaan sosial.
Seharusnya pihak Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggaran bisa menekan anggaran. Atau anggaran yang besar tersebut 10 persennya dialokasikan untuk membantu masyarakat yang sangat membutuhkan. Khususnya mereka yang tertimpa bencana.
Hakekatnya sangat diperlukan kepedulian sosial anggota Dewan yang baru. Alih-alih uang saku yang mereka terima bisa di sumbangkan pula walau hanya sebagian.
Bagaimana bapak/ibu anggota Dewan terhormat?
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Suralarta
Friday, September 11, 2009
Kepedulian Alumni
Maraknya ajakan bereuni di hari lebaran secara masif oleh alumni sekolah dari berbagai angkatan perlu dukungan bersama. Begitu pula dibutuhkan kepedulian alumni kepada almamaternya.
Pertemuan antar angkatan bukan hanya sekedar nostalgia dan pesta temu kangen saja. Tetapi dibutuhkan pula sebuah niat untuk membantu dan mengembangkan pendidikannya dulu demi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pengetukan hati nurani alumni sukses untuk membantu almamater yang bersifat membangun. Tentunya harus jeli akan kebutuhan yang berkaitan erat dengan pendidikan. Paling tidak buku-buku berkualitas menjadi kebutuhan anak didik agar mampu bersaing dengan bangsa lain.
Paling tidak dengan aksi mengumpulkan buku (bekas) berkualitas dapat semakin melengkapi perpustakaan sekolah. Pengembangan institusi melalui buku yang berbobot bisa menumbuhkan niat membaca,menulis dan melahirkan pemikir intelektual sehingga mengangkat nama sekolah.
Begitu pula gerakan membantu (beasiswa) siswa miskin agar lancar dalam memperolah pendidikan layak.
Semua bisa berjalan semestinya bila kepedulian alumni bukan sekedar imajinasi. Bukti dan wujud konkrit sangat diharapkan. Selamat bertemu teman lama wahai alumni dan kepedulianmu sangat ditunggu alamater dan adik kelas khususnya buku yang bermutu dan bantuan pendidikan yang berkelanjutan. Semoga!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epsitoholik Indonesia
Sunday, August 09, 2009
Dibutuhkan Rendra Baru
Mendengar berita berpulangnya Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) pada hari Kamis pukul 22.10 WIB. Segenap anggota civitas akademika SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo ikut merasa kehilangan.
Sebab Si “Burung Merak” mempunyai ikatan yang sangat erat dengan SMA Yosef Solo. Sosok Rendra pernah mengenyam pendidikan SMA nya selama tiga tahun disini (1952 -1955). Oleh karenanya gerak langkah "ruh" WS Rendra di usahakan tetap mengakar pada siswa di SMA Yosef.
Maka pengelolaan hati dan jiwa untuk mengerti makna kehidupan dan menolong yang lemah menjadi satu misi pendidikan penting menuju manusia berkarakter. Dengan menumbuhkan semangat sosial, simpati dan empati pada anak didik di semua jenjang sekolah.
Maka dengan segenap hati siswa SMA Yosef mengadakan doa bersama dengan musikalisasi puisi Rendra demi menghantar Rendra (7/8). Tujuannya menggugah hati siswa untuk mengerti makna dalam perjalanan hidup. Mengerti hakekat pentingnya perjalanan hidup seorang satrawan, dramawan, penyair dan budayawan tangguh.
Dengan demikian akan lahir Rendra baru yang dapat mengharu birukan bangsa dan negara.
Maka sekolah jangan menganaktirikan siswa yang menyukai seni dan sastra. Dibutuhkan penghargaan dan kesempatan kepada siswa untuk berekspresi dimanapun berada. Kesempatan itu harus dimulai dari keterbukaan Sekolah.
FX Triyas Hadi Prihantoro.
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Tuesday, July 14, 2009
Bersama selamatkan air
Begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia. Seperti halnya di negara maju masyarakatnya sudah mulai berfikir menyelamatkan air. Sebab tantangan kehidupan kedepan adalah perebutan air.
Oleh karena itu di masa musim kemarau ini dipastikan beberapa wilayah tanah air akan kekurangan air. Oleh karena itu menjadi kehendak dan kewajiban bersama untuk menyelamatkan air.
Seperti dipaparkan sebagai bukti empiris bahwa air saat ini menjadi barang yang wajib dilestarikan. Banyak waduk yang mulai kekurangan debit air karena banyaknya lumpur. Bahkan di daerah Wonosobo lima tahun yang lalu ada 3.500 mata air namun saat ini sudah berkurung hampir 101 mata air.
Ini berarti para pemangku kebijakan baik tingkat Kepala Desa sampai Bupati/Walikota harus mulai mawas diri. Pasalnya bila di negara yang katanya loh jinawai karta raharja, menjadi ironis ketika kesulitan mendapatkan air.
Saatnya bersama kita ikut menyelamatkan air melalui penanaman pohon, melestarikan lingkungan hutan dan ikut mengkampanyekan stop global warming.Oleh karena itu sebuah gerakan satu orang menanam pohon bukan sekedar wacana namun menjadi gerakan bersama guna menampung resapan dan sebagai cadangan sumber air bagi kehidupan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Friday, June 26, 2009
Selamat Ulang Tahun "Kompas"
Menginjak usia ke-44 tahun menjadikan refleski bahwa kemapanan selalu tidak lepas dari berbagai ujian. Bahwa tidak mudah dalam mengarungi ketatnya pasang surutnya permediaan (koran) di tanah air. Pasang surut dan terpaan cobaan pernah dirasakan pula.
Namun Harian Kompas semakin mampu menunjukkan jati dirinya. Dengan Berbagai perubahan dan pelopor inovasi media moden.Perwajahan berbagai bentuk dengan mengkolaborasikan Tekknologi Informasi yang mengglobal.Maka di Era digitalpun menjadikan Harian Kompas semakin kreatif dan revolutif dalam memberikan kemanjaan bagi pembacanya. Maka bukan hal yang menjadi kendala bagi pembaca setia untuk selalu mengikuti perkembanganya menginjak usia 44 tahun.
Selamat Ulang tahun Kompas. Semoga semangat memperjuangkan amanat hati nurani rakyat selalu bersemai dan tumbuh sesuai visi dan misi.Memperjuangkan kepentingan rakyat marginal, miskin, tersingkirkan, tersia-siakan dan terpinggirkan menuju keadilan dan kemakmuran bangsa
Selalu memberikan berita yang berimbang tanpa terkooptasi oleh kepentingan Penguasa.Membuktikan bahwa kemampuan memilahkan dalam memberikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh pembaca.Sebab disinilah bentuk akurasi dan kepercayaan pembaca menjadi parameter diterimanya sebuah harian di hati rakyat
Semoga Kompas tetap eksis dan tidak meninggalkan jati dirinya, sebagai media komunikasi yang selalu setia menjadi "lidah" penyambung amanat rakyat. Hal yang sangat wajar bila pembaca memberikan apresiasi positif demi gerak lajunya perkembangan media ini yang semakin ekploratif.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Thursday, June 18, 2009
Adu Janji
Tidak dimungkiri janji merupakan harapan untuk menjadi lebih baik. Sebab janji mudah diucapkan namun kadang sangat sulit direalisasikan.
Ibaratnya seorang penjual pasti berkeinginan daganganya laku keras. Segala upaya dilakukan demi menggaet konsumen. Namun sebenarnya ada hukum yang tidak tertulis dan sudah menjadi kesepakatan untuk tidak saling menjatuhkan.
Demikian halnya saat para Calon Presiden (Capres), calon wakil presiden (cawapres) dan tim suksesnya saat masa kampanye. Adu janji sangat kasat mata karena memang memberi harapan bagi semua orang (rakyat).
Berbagai janji pro rakyat memang sangat potensial untuk mendulang suara. Namun perlu diingat janji haruslah ditepati. Meski sudah diadakan penandatanganan (perjanjian) sebagai kontrak politik namun rakyat harus cerdas.
Teliti dan jeli dalam menelaah janji merupakan kunci untuk menjatuhkan pilihan. Mari kita semua mulai mengajak teman, saudara dan relasi untuk mencermati janji capres dan cawapres.
Janji yang realistis dan mencerdaskan sebagai bentuk bukti bahwa kejernihan dan ketulusan nurani untuk tidak membohongi rakyat. Maka janji bukanlah hanya jargon semata sebab nantinya rakyat perlu bukti tidak sekedar adu janji.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epsitoholik Indonesia.
Monday, May 18, 2009
Proaktif Rakyat
Hasil rekapitulasi akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU) hasil dari pemilihan Legislatif sejumlah 49,6 Juta Orang Tak Memilih (29,01 persen) dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap
Berbagai tudingan dari ketidakmutkhiran data KPU dan berbagai persoalan yang mengiringinya sehingga angka golput tinggi dalam pileg 2009. Menjadikan bentuk penyadaran bahwa rakyat perlu proaktif dalam berpartisipasi dalam proses demokrasi.
Oleh karena itu berbagai pesan melalui SMS, iklan di media cetak dan elektronik agar rakyat aktif dalam menctatkan diri sebagai pemilih dalam pemilihan Presiden (Pilpres) bentuk dari koreksi yang positif. Sebab tanpa gerakan, ajakan dan kesungguhan dalam berpartisipasi dalam memilih pemimpin bangsa menjadikan kecacatan dalam proses demokrasi yang mengutakan kepanetingan rakyat.
Sangat ditunggu partisipasi rakyat dalam pilpres 2009. Sehingga legitimasi Presiden RI 2009-2014 dapat dipertanggungjawabkan. Sebab rakyat sudah menjatuhkan pilihan yang sesungguhnya. Rakyat memang harus proaktif menjadi pemilih, penjaga, mengamankan dan mengawal proses demokrasi lima tahunan ini menjadi semakin berkualitas.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Wednesday, May 13, 2009
KPK tanpa Antasari ?
Minggu -minggu terakhir ini, kasus ditangkap dan dipenjarakannya Antasari Ashar menjadi berita utama media. Pengungkapkan kasus pembunuhan tingkat tinggi yang diduga melibatkan berbagai tokoh dan Ketua komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tidak dimungkiri bahwa nama Antasri langsung anjlok ke titik nadir berkenaan diduga sebagai dalang pembunuhan terhadap Nasrudin. Padahal dua tahun terakhir nama Antasri sangat tersohor atas kepemimpinanya di KPK. Sosok yang sangat jeli, lugas, tegas dan tanpa kompromi dalam memberantas korupsi di negeri ini.
Antasari identik dengan KPK. Figur yang sudah menjadi citra positif dan menjadi acuan bagi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Sayangnya nila setitik rusak susu sebelanga.
Lalu bagaimanakah citra KPK selanjutnya tanpa Antasari? Inilah yang selalu menjadi pemikiran masyarakat pada umumnya. Masih mampukan KPK menjalankan fungsi dan tugasnya secara prima?
Kepemimpinan bersama sudah menjadi keputusan. Namun pengungkapan , ketegasan dan kelanjutan berbagai kasus yang masih menumpuk sangat diharapkan masyarakat agar seger dituntaskan pula.
Masyarakat akan selalu mendukung segala upaya dalam menuntaskan bahya korupsi di negeri ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, April 02, 2009
Bhinneka Tunggal Ika Harga mati
Indonesia adalah negara multi, negara heterogen. Jadi, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati. Di negeri ini terdapat keragaman suku bangsa, agama, golongan, kultur, dan bahasa yang merupakan kekayaan hakiki.
Sejak awal, Indonesia bukan negara homogen. Keindahan negeri ini terletak pada segala keunikannya dan semua keragaman yang ada.
FX TRIYAS HADI P
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Wednesday, April 01, 2009
Kompensasi dan BLT
Pemberian kompensasi (pengembalian uang) dari kenaikan Bahan Bakar Minyak yang ditetepkan Pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kompensasi BLT akan membantu rakyat miskin agar tidak merasa berat dalam memenuhi kebutuhan hidup karena kena imbas dengan kenaikan bahan pokok.
Maka program BLT ini biasanya bergulir seiring dengan kenaikan BBM. Logikanya pula bila harga BBM turun berarti kebutuhan Rakyat semakin ringan maka program BLT harusnya juga dihentikan.
Meski program ini selalu melahirkan pro dan kontra dalam pelaksanaannya namun rasa empati Pemerintah wajib dihormati dan dihargai. Namun yang menjadi lucu saat BBM sudah turun sampai 3 kali toh BLT jalan terus. Itu berarti program kompensasi apa lagi? Apakah bentuk komensasi BBM turun?
Dan yang menjadi masalah lagi ketika BLT juga diberikan saat masa kampanye menjelang Pemilu. Maka tidak mengherankan bila banyak kritikan dalam pembagian harga kebutuhan pokok. Bukannya BLT jalan terus, karena jelas sudah salah arah dan tuBLT kali ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epsitoholik Indonesia
Monday, March 16, 2009
Ketidakpercayaan diri Caleg
Melihat baliho, pamflet maupun spanduk calon anggota legislatif (Caleg) yang bertebaran di jalan-jalan raya, saya melihat sebuah fenomena umum. Mereka terbukti banyak yang tidak mempunyai rasa percaya diri.Sebagian besar “wajah” caleg dibayang-bayangi oleh kebesaran tokoh (negarawan, politikus maupun agamawan). Bahkan ironisnya banyak Caleg yang numpang beken pada anaknya yang artis, pemain bola (dalam maupun luar negeri) maupun artis (musisi budayawan).Lalu bagaimana masyarakat menentukan pilihan jika Caleg tidak percaya diri? Apakah setelah menjadi wakil rakyat, mereka mampu menyampaikan suara rakyat?Idealnya, saat mereka meminta dukungan, perlu dibuktikan dalam alat peraga kampanye kiprahnya dalam kegiatan sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Dengan dukungan gambar bukti keterlibatan Caleg dalam kegiatan kemasyarakatan, menandakan kepercayaan dirinya besar. Kemampuan menyampaikan aspirasi rakyat akan layak diandalkan. Oleh karena itu, masyarakat tinggal menunggu, strategi apa dari Caleg pada kampanye terbuka. Sebab aspirasi rakyat perlu sebuah saluran yang benar dan meyakinkan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Monday, March 02, 2009
Caleg Egois
Jika kita melihat berbagai spanduk, baliho, pamflet, stiker yang merupakan propaganda para calon anggota legislatif di berbagai sudut wilayah/kota, sangat kental bentuk egoisme dan individualisme mereka.
Hal itu dibuktikan banyaknya alat peraga yang dibuat hanya menonjolkan "kelebihan" pribadi masing-masing. Unsur kerjasama dengan semangat gotong royong dan persatuan (meski) satu partai pun kelihatan sangat sedikit.
Seandainya para caleg dalam satu parta bersatu dalam mengkampanyekan diri, kesemrawutan pemasangan spanduk tak akan terjadi. Keasrian dan keindahan lingkungan pun terjaga.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL. Santo Yosef Surakarta