Tuesday, January 26, 2010

REDAM PROPINSIALISME

Surat Pembaca KOMPAS Jateng 27 Januari 2010

Paham kebanggaan terhadap wilayah daerahnya sah dan memang harus. Dari sini akan muncul gerakan membangun daerah dengan tidak mudah terpesona dan tergiur segala produk daerah lain.

Pasalnya kemajuan suatu daerah sangat didukung oleh gerakan cinta yang mendalam warganya. Jika perlu berkorban sampai "titik darah penghabisan" jika ada yang melecehkan, tetapi janganlah berlebihan. Namun jika kita melihat aksi bonek (bondo nekat) suporter fanatik Persebaya kita wajib mengelus dada. Kecintaan berlebihan (propinsialisme) dengan segala aksi brutal sehingga merugikan, mendatangkan musuh dari saudara sendiri (daerah lain).

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika jangan hanya sebatas simbol.

FX TRIYAS HADI PRIHANTORO SMA PL Santo Yosef Surakarta

Monday, December 28, 2009

Natal Menyejukkan

Surat Pembaca KOMPAS Jateng 24/12/09


Negeri ini ibaratnya sedang mengalami sebuah problematika yang pelik. Ontran-ontran dengan berbagai kasus yang melibatkan masyarakat kelas bawah (kemiskinan, demonstrasi) dan menengah ke atas (adu argumentasi) membuat masyarakat umum bertambah bingung.

Kebenaran, kejujuran, dan keadilan adalah kata kunci demi kehidupan yang damai dan menyejukkan. Hal yang hakiki, semua sektor kehidupan mengharapkan suasana yang nyaman, kondusif dengan stabilitas ekonomi, sosial, politik, keamanan, dan budaya yang tertata.

Oleh karena itu, kita mengharapkan suasana Natal 2009 yang menyejukkan. Segala elemen masyarakat mengendapkan pikiran, mengurangi gejolak emosi, dan mengekang segala hawa nafsu kemurkaan yang dapat merugikan masyarakat.

Penyambutan hari Natal sangat identik dengan segala kegiatan sosial kemasyarakatan. Mari ajak masyarakat yang miskin dan termarjinalkan untuk ikut bergembira dan berbahagia di hari yang kudus ini.

Berbagi kebahagiaan dalam suasana Natal akan semakin menambah kesejukan dalam segala hal. Selamat hari Natal 2009 dan Mari Sambut Tahun Baru 2010 dengan niat yang lebih baik.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta

Thursday, November 19, 2009

(Ber-) langganan Banjir

Surat Pembaca Kompas Jateng 20/11/09

Bukan hal baru di beberapa tempat wilayah Indonesia, terkhusus wilayah kota besar berlangganan banjir. Oleh karena itu di awal-awal mulai musim penghujan sebenarnya sudah ada peringatan akan bahaya banjir. Bahkan ada beberapa wilayah sudah mengalaminya.
Menjelang musim hujan, kita (warga) harus bersiap dan waspada terhadap datangnya banjir di wilayah langganan. Dibutuhkan kearifan lokal dalam penanganannya, meskipun upaya preventif dengan gotong royong membersihkan saluran dari sampah sudah dilakukan pra musim hujan.
Namun dengan tidak imbangnya pembangunan fisik dengan kapasitas saluran pembungan air yang kurang memadai dimungkinkan wilayah langganan banjir akan semakin meluas.
Status siaga dan kesiapan petugas serta dukungan SAR menjadi kebutuhan wilayah yang merupakan daerah waspada banjir. Bagaimanapun intensitas hujan yang kadang tidak terduga selalu menyisakan persoalan banjir.
Sebuah kerbersamaan, gotong royong dan saling menolong menjadi kebutuhan dalam menumbuhkan sara bela rasa. Karena memang (ber) langganan banjir bukan sebuah kehendak masyarakat.
Kondisi ini memang harus terjadi sebab kita sendiri sering mengabaikan tanda-tanda alam.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Friday, October 16, 2009

Menggerakkan Kaum Muda

dimuat Surat Pembaca Kompas Jateng 17/10/09

Bulan Oktober identik dengan bangkitnya kaum muda Indonesia. Pasalnya delapan puluh satu tahun silam (1928) segenap elemen kaum muda telah berikrar demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Satu bangsa, tanah air dan bahasa.
Maka bukanlah heran upaya menggerakkan kaum muda sepanjang hayat demi menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada tanah air. Bukanlah sebuah perkara mudah.
Sejalan dengan era globalisasi, transparansi dan pesatnya informasi kaum muda mudah terpengaruh dan terdegradasi ke titik nadir. Buktinya kaum muda Indonesia sering dianggap lemah dan kurang perdaya dalam menghadapi segala bentuk gempuran sosial, pengaruh demi identitas kebangsaan.
Saatnya menggerakkan kaum muda dalam pertumbuhan semangat Patriotisme dan Nasionalisme. Semangat juang dan cinta tanah air haruslah menjadi pemicu untuk bangga akan bangsa dan tanah air Indonesia.
Oleh karena itu sebuah keharusan di setiap lembaga pendidikan ditanamkan Pendidikan Bela Negara, Gerakan cinta tanah air, semangat kebersamaan sosial terhadap segala permasalahan bangsa, sikap hormat, cinta dan saling mengasihi sesama makhluk Tuhan. Sebab melalui kaum muda yang pedulilah negara ini menjadi semakin beradab menuju kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan. Karena kaum muda sebagai tulang punggung negara!

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Eipistoholik Indonesia

Tuesday, September 15, 2009

Kepekaan Sosial DPR

Dimuat Surat Pembaca KOMPAS Jateng 16/9/09

Sungguh memprihatinkan kala mendengar, membaca dan melihat betapa besarnya kebutuhan anggaran untuk pelantikan anggota DPR 2009-2014. Langkah tersebut bentuk sikap kekurang pedulian pada situasi dan kondisi kekinian masyarakat, bangsa dan negara.
Mereka seakan tidak melihat kondisi bangsa yang masih hidup dalam lingkup kemiskinan, kemelaratan ditambah adanya berbagai bencana. Seolah pmereka menutup mata akan kenyataan riil.
Bagaimanapun bentuk hajatan pelantikan bisa diminimalikan pembiayaannya. Bukti peningkatan anggaran pelantikan dari tahun 2004 dan tahun 2009 sebesar Rp. 15, 89 Juta perorang dari total Rp 11 miliar untuk 560 calon anggota DPR dan 132 calon anggota DPD. Saat itu, situasi kondisi bangsa tidak jauh berbeda besarnya anggaran ibaratnya tidak adanya kepekaan sosial.
Seharusnya pihak Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggaran bisa menekan anggaran. Atau anggaran yang besar tersebut 10 persennya dialokasikan untuk membantu masyarakat yang sangat membutuhkan. Khususnya mereka yang tertimpa bencana.
Hakekatnya sangat diperlukan kepedulian sosial anggota Dewan yang baru. Alih-alih uang saku yang mereka terima bisa di sumbangkan pula walau hanya sebagian.
Bagaimana bapak/ibu anggota Dewan terhormat?

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Suralarta

Friday, September 11, 2009

Kepedulian Alumni

Pos Pembaca SOLOPOS 12/9/09

Maraknya ajakan bereuni di hari lebaran secara masif oleh alumni sekolah dari berbagai angkatan perlu dukungan bersama. Begitu pula dibutuhkan kepedulian alumni kepada almamaternya.
Pertemuan antar angkatan bukan hanya sekedar nostalgia dan pesta temu kangen saja. Tetapi dibutuhkan pula sebuah niat untuk membantu dan mengembangkan pendidikannya dulu demi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pengetukan hati nurani alumni sukses untuk membantu almamater yang bersifat membangun. Tentunya harus jeli akan kebutuhan yang berkaitan erat dengan pendidikan. Paling tidak buku-buku berkualitas menjadi kebutuhan anak didik agar mampu bersaing dengan bangsa lain.
Paling tidak dengan aksi mengumpulkan buku (bekas) berkualitas dapat semakin melengkapi perpustakaan sekolah. Pengembangan institusi melalui buku yang berbobot bisa menumbuhkan niat membaca,menulis dan melahirkan pemikir intelektual sehingga mengangkat nama sekolah.
Begitu pula gerakan membantu (beasiswa) siswa miskin agar lancar dalam memperolah pendidikan layak.
Semua bisa berjalan semestinya bila kepedulian alumni bukan sekedar imajinasi. Bukti dan wujud konkrit sangat diharapkan. Selamat bertemu teman lama wahai alumni dan kepedulianmu sangat ditunggu alamater dan adik kelas khususnya buku yang bermutu dan bantuan pendidikan yang berkelanjutan. Semoga!

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epsitoholik Indonesia

Sunday, August 09, 2009

Dibutuhkan Rendra Baru

dimuat Surat Pembaca Kompas Jateng 10/8/09

Mendengar berita berpulangnya Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) pada hari Kamis pukul 22.10 WIB. Segenap anggota civitas akademika SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo ikut merasa kehilangan.
Sebab Si “Burung Merak” mempunyai ikatan yang sangat erat dengan SMA Yosef Solo. Sosok Rendra pernah mengenyam pendidikan SMA nya selama tiga tahun disini (1952 -1955). Oleh karenanya gerak langkah "ruh" WS Rendra di usahakan tetap mengakar pada siswa di SMA Yosef.
Maka pengelolaan hati dan jiwa untuk mengerti makna kehidupan dan menolong yang lemah menjadi satu misi pendidikan penting menuju manusia berkarakter. Dengan menumbuhkan semangat sosial, simpati dan empati pada anak didik di semua jenjang sekolah.
Maka dengan segenap hati siswa SMA Yosef mengadakan doa bersama dengan musikalisasi puisi Rendra demi menghantar Rendra (7/8). Tujuannya menggugah hati siswa untuk mengerti makna dalam perjalanan hidup. Mengerti hakekat pentingnya perjalanan hidup seorang satrawan, dramawan, penyair dan budayawan tangguh.
Dengan demikian akan lahir Rendra baru yang dapat mengharu birukan bangsa dan negara.
Maka sekolah jangan menganaktirikan siswa yang menyukai seni dan sastra. Dibutuhkan penghargaan dan kesempatan kepada siswa untuk berekspresi dimanapun berada. Kesempatan itu harus dimulai dari keterbukaan Sekolah.

FX Triyas Hadi Prihantoro.
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Tuesday, July 14, 2009

Bersama selamatkan air

Surat Pembaca Kompas Jateng 15 Juli 2009

Begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia. Seperti halnya di negara maju masyarakatnya sudah mulai berfikir menyelamatkan air. Sebab tantangan kehidupan kedepan adalah perebutan air.

Oleh karena itu di masa musim kemarau ini dipastikan beberapa wilayah tanah air akan kekurangan air. Oleh karena itu menjadi kehendak dan kewajiban bersama untuk menyelamatkan air.

Seperti dipaparkan sebagai bukti empiris bahwa air saat ini menjadi barang yang wajib dilestarikan. Banyak waduk yang mulai kekurangan debit air karena banyaknya lumpur. Bahkan di daerah Wonosobo lima tahun yang lalu ada 3.500 mata air namun saat ini sudah berkurung hampir 101 mata air.

Ini berarti para pemangku kebijakan baik tingkat Kepala Desa sampai Bupati/Walikota harus mulai mawas diri. Pasalnya bila di negara yang katanya loh jinawai karta raharja, menjadi ironis ketika kesulitan mendapatkan air.

Saatnya bersama kita ikut menyelamatkan air melalui penanaman pohon, melestarikan lingkungan hutan dan ikut mengkampanyekan stop global warming.Oleh karena itu sebuah gerakan satu orang menanam pohon bukan sekedar wacana namun menjadi gerakan bersama guna menampung resapan dan sebagai cadangan sumber air bagi kehidupan.

FX Triyas Hadi Prihantoro

SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Friday, June 26, 2009

Selamat Ulang Tahun "Kompas"

Surat Pembaca Kompas Jateng 27 Juni 2009

Menginjak usia ke-44 tahun menjadikan refleski bahwa kemapanan selalu tidak lepas dari berbagai ujian. Bahwa tidak mudah dalam mengarungi ketatnya pasang surutnya permediaan (koran) di tanah air. Pasang surut dan terpaan cobaan pernah dirasakan pula.
Namun Harian Kompas semakin mampu menunjukkan jati dirinya. Dengan Berbagai perubahan dan pelopor inovasi media moden.Perwajahan berbagai bentuk dengan mengkolaborasikan Tekknologi Informasi yang mengglobal.Maka di Era digitalpun menjadikan Harian Kompas semakin kreatif dan revolutif dalam memberikan kemanjaan bagi pembacanya. Maka bukan hal yang menjadi kendala bagi pembaca setia untuk selalu mengikuti perkembanganya menginjak usia 44 tahun.

Selamat Ulang tahun Kompas. Semoga semangat memperjuangkan amanat hati nurani rakyat selalu bersemai dan tumbuh sesuai visi dan misi.Memperjuangkan kepentingan rakyat marginal, miskin, tersingkirkan, tersia-siakan dan terpinggirkan menuju keadilan dan kemakmuran bangsa

Selalu memberikan berita yang berimbang tanpa terkooptasi oleh kepentingan Penguasa.Membuktikan bahwa kemampuan memilahkan dalam memberikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh pembaca.Sebab disinilah bentuk akurasi dan kepercayaan pembaca menjadi parameter diterimanya sebuah harian di hati rakyat
Semoga Kompas tetap eksis dan tidak meninggalkan jati dirinya, sebagai media komunikasi yang selalu setia menjadi "lidah" penyambung amanat rakyat. Hal yang sangat wajar bila pembaca memberikan apresiasi positif demi gerak lajunya perkembangan media ini yang semakin ekploratif.


FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia

Thursday, June 18, 2009

Adu Janji

Surat Pembaca Kompas Jateng 18/6/09

Tidak dimungkiri janji merupakan harapan untuk menjadi lebih baik. Sebab janji mudah diucapkan namun kadang sangat sulit direalisasikan.
Ibaratnya seorang penjual pasti berkeinginan daganganya laku keras. Segala upaya dilakukan demi menggaet konsumen. Namun sebenarnya ada hukum yang tidak tertulis dan sudah menjadi kesepakatan untuk tidak saling menjatuhkan.
Demikian halnya saat para Calon Presiden (Capres), calon wakil presiden (cawapres) dan tim suksesnya saat masa kampanye. Adu janji sangat kasat mata karena memang memberi harapan bagi semua orang (rakyat).
Berbagai janji pro rakyat memang sangat potensial untuk mendulang suara. Namun perlu diingat janji haruslah ditepati. Meski sudah diadakan penandatanganan (perjanjian) sebagai kontrak politik namun rakyat harus cerdas.
Teliti dan jeli dalam menelaah janji merupakan kunci untuk menjatuhkan pilihan. Mari kita semua mulai mengajak teman, saudara dan relasi untuk mencermati janji capres dan cawapres.
Janji yang realistis dan mencerdaskan sebagai bentuk bukti bahwa kejernihan dan ketulusan nurani untuk tidak membohongi rakyat. Maka janji bukanlah hanya jargon semata sebab nantinya rakyat perlu bukti tidak sekedar adu janji.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epsitoholik Indonesia.

Monday, May 18, 2009

Proaktif Rakyat

Surat Pembaca Kompas Jateng 18/5/09

Hasil rekapitulasi akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU) hasil dari pemilihan Legislatif sejumlah 49,6 Juta Orang Tak Memilih (29,01 persen) dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap
Berbagai tudingan dari ketidakmutkhiran data KPU dan berbagai persoalan yang mengiringinya sehingga angka golput tinggi dalam pileg 2009. Menjadikan bentuk penyadaran bahwa rakyat perlu proaktif dalam berpartisipasi dalam proses demokrasi.
Oleh karena itu berbagai pesan melalui SMS, iklan di media cetak dan elektronik agar rakyat aktif dalam menctatkan diri sebagai pemilih dalam pemilihan Presiden (Pilpres) bentuk dari koreksi yang positif. Sebab tanpa gerakan, ajakan dan kesungguhan dalam berpartisipasi dalam memilih pemimpin bangsa menjadikan kecacatan dalam proses demokrasi yang mengutakan kepanetingan rakyat.
Sangat ditunggu partisipasi rakyat dalam pilpres 2009. Sehingga legitimasi Presiden RI 2009-2014 dapat dipertanggungjawabkan. Sebab rakyat sudah menjatuhkan pilihan yang sesungguhnya. Rakyat memang harus proaktif menjadi pemilih, penjaga, mengamankan dan mengawal proses demokrasi lima tahunan ini menjadi semakin berkualitas.


FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Wednesday, May 13, 2009

KPK tanpa Antasari ?

Surat Pembaca, Kompas Jateng 14/5/09

Minggu -minggu terakhir ini, kasus ditangkap dan dipenjarakannya Antasari Ashar menjadi berita utama media. Pengungkapkan kasus pembunuhan tingkat tinggi yang diduga melibatkan berbagai tokoh dan Ketua komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tidak dimungkiri bahwa nama Antasri langsung anjlok ke titik nadir berkenaan diduga sebagai dalang pembunuhan terhadap Nasrudin. Padahal dua tahun terakhir nama Antasri sangat tersohor atas kepemimpinanya di KPK. Sosok yang sangat jeli, lugas, tegas dan tanpa kompromi dalam memberantas korupsi di negeri ini.
Antasari identik dengan KPK. Figur yang sudah menjadi citra positif dan menjadi acuan bagi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Sayangnya nila setitik rusak susu sebelanga.
Lalu bagaimanakah citra KPK selanjutnya tanpa Antasari? Inilah yang selalu menjadi pemikiran masyarakat pada umumnya. Masih mampukan KPK menjalankan fungsi dan tugasnya secara prima?
Kepemimpinan bersama sudah menjadi keputusan. Namun pengungkapan , ketegasan dan kelanjutan berbagai kasus yang masih menumpuk sangat diharapkan masyarakat agar seger dituntaskan pula.
Masyarakat akan selalu mendukung segala upaya dalam menuntaskan bahya korupsi di negeri ini.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Thursday, April 02, 2009

Bhinneka Tunggal Ika Harga mati

Surat Pembaca Kompas Jateng 3/4/09

Indonesia adalah negara multi, negara heterogen. Jadi, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati. Di negeri ini terdapat keragaman suku bangsa, agama, golongan, kultur, dan bahasa yang merupakan kekayaan hakiki.
Sejak awal, Indonesia bukan negara homogen. Keindahan negeri ini terletak pada segala keunikannya dan semua keragaman yang ada.

FX TRIYAS HADI P
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta

Wednesday, April 01, 2009

Kompensasi dan BLT

Surat Pembaca Kompas Jateng 2/4/09

Pemberian kompensasi (pengembalian uang) dari kenaikan Bahan Bakar Minyak yang ditetepkan Pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kompensasi BLT akan membantu rakyat miskin agar tidak merasa berat dalam memenuhi kebutuhan hidup karena kena imbas dengan kenaikan bahan pokok.
Maka program BLT ini biasanya bergulir seiring dengan kenaikan BBM. Logikanya pula bila harga BBM turun berarti kebutuhan Rakyat semakin ringan maka program BLT harusnya juga dihentikan.
Meski program ini selalu melahirkan pro dan kontra dalam pelaksanaannya namun rasa empati Pemerintah wajib dihormati dan dihargai. Namun yang menjadi lucu saat BBM sudah turun sampai 3 kali toh BLT jalan terus. Itu berarti program kompensasi apa lagi? Apakah bentuk komensasi BBM turun?
Dan yang menjadi masalah lagi ketika BLT juga diberikan saat masa kampanye menjelang Pemilu. Maka tidak mengherankan bila banyak kritikan dalam pembagian harga kebutuhan pokok. Bukannya BLT jalan terus, karena jelas sudah salah arah dan tuBLT kali ini.
Pada hematnya dengan turunya BBM harusnya diimbangi dengan turunyajuan dari pengadaaan program BLT itu sendiri.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epsitoholik Indonesia

Monday, March 16, 2009

Ketidakpercayaan diri Caleg

Pos Pembaca, SOLOPOS 16/3/09

Melihat baliho, pamflet maupun spanduk calon anggota legislatif (Caleg) yang bertebaran di jalan-jalan raya, saya melihat sebuah fenomena umum. Mereka terbukti banyak yang tidak mempunyai rasa percaya diri.Sebagian besar “wajah” caleg dibayang-bayangi oleh kebesaran tokoh (negarawan, politikus maupun agamawan). Bahkan ironisnya banyak Caleg yang numpang beken pada anaknya yang artis, pemain bola (dalam maupun luar negeri) maupun artis (musisi budayawan).Lalu bagaimana masyarakat menentukan pilihan jika Caleg tidak percaya diri? Apakah setelah menjadi wakil rakyat, mereka mampu menyampaikan suara rakyat?Idealnya, saat mereka meminta dukungan, perlu dibuktikan dalam alat peraga kampanye kiprahnya dalam kegiatan sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Dengan dukungan gambar bukti keterlibatan Caleg dalam kegiatan kemasyarakatan, menandakan kepercayaan dirinya besar. Kemampuan menyampaikan aspirasi rakyat akan layak diandalkan. Oleh karena itu, masyarakat tinggal menunggu, strategi apa dari Caleg pada kampanye terbuka. Sebab aspirasi rakyat perlu sebuah saluran yang benar dan meyakinkan.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo

Monday, March 02, 2009

Caleg Egois

Surat Pembaca Kompas Jateng 3/3/09

Jika kita melihat berbagai spanduk, baliho, pamflet, stiker yang merupakan propaganda para calon anggota legislatif di berbagai sudut wilayah/kota, sangat kental bentuk egoisme dan individualisme mereka.
Hal itu dibuktikan banyaknya alat peraga yang dibuat hanya menonjolkan "kelebihan" pribadi masing-masing. Unsur kerjasama dengan semangat gotong royong dan persatuan (meski) satu partai pun kelihatan sangat sedikit.
Seandainya para caleg dalam satu parta bersatu dalam mengkampanyekan diri, kesemrawutan pemasangan spanduk tak akan terjadi. Keasrian dan keindahan lingkungan pun terjaga.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL. Santo Yosef Surakarta

Tuesday, February 24, 2009

Sosialisasi Pemilu

Surat Pembaca Kompas Jateng 25/2/09

Banyak kritik terhadap kinerja Komisi Pemilihan Umum dan kesiapannya menghadapi Pemilu April nanti. Salah satunya kebingungan masyarakat terhadap sah tidaknya suara dalam Pemilu dalam hal mencentang.
Apalagi ada sebuah rumor baru berkenaan hendak dianulirnya lagi pasal 214 (sahnya pilihan dengan suara terbanyak bagi calon anggota legislatif) dari UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu. Kelak masyarakat akan semakin bingung lagi. Pasalnya sosialisasi dari alat peraga caleg berbeda dengan kenyataan akan membuat kendala di lapangan.
Contoh terbaru terbaru dari mencoblos menjadi mencentang saja masih banyak yang belum paham, apalagi aturan berkenaan dengan sah tidaknya suara. Oleh karena itu perlu sosialisasi Pemilu yang benar secara terus menerus. Jangan sampai kisruh pada 9 April.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Monday, February 16, 2009

Cermin bagi Legislatif

Surat Pembaca, harian Joglosemar 16/2/09

Bukanya untuk menyurutkan nyali bagi calon legislatif (Caleg), tapi inilah sebuah fakta. Di mana, jadi legislator tidaklah mudah. Sampai maut pun harus dijalani seperti yang terjadi di Sumatra Utara. Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat, harus meregang nyawa saat aksi demo masyarakat akan tuntutan provinsi baru Tapanuli Utara(3/2/09).
Oleh karena itu, bagi calon anggota legislatif (Caleg) janganlah nanti setelah menjadi anggota legislatif ingkar janji. Lupa akan jargon, semboyan, minta restu yang sekarang marak bertebar di mana-mana.
Sebab, bila sudah duduk di kursi dewan kadang lupa akan masa lalu. Lupa akan janji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Lupa bahwa melalui dukungan rakyatlah mereka bisa menjadi anggota legislatif yang terhormat.
Maka peristiwa di DPRD Sumut sebagai pembelajaran dan peringatan para Caleg. Jika belum siap jiwa raga masih ada waktu untuk mengundurkan diri. Sebab anggota legislatif bukan satu-satunya tempat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia

Thursday, January 29, 2009

Keteladanan Pejabat

Surat Pembaca Kompas Jateng 28/1/09

Sebuah keteladanan memang harus tumbuh dari dalam diri manusianya. Seperti halnya dalam hal budaya anti korupsi. Meski "upeti" sudah di depan mata namun bila mental spiritual untuk tidak mau menerima sudah ada dalam pribadinya, maka sebuah upaya "tanda terimakasih" tetap akan ditolak secara halus.
Begitulah seharusnya mental keteladanan pejabat kita, kalau menghendaki negara ini segera menuju keadilan dan kemakmuran. Oleh karena itu dengan maraknya publikasi dan kampanye calon anggota Legiuslatif (Caleg) akan bentuk kepedulian perjuangan demi kepentingan rakyat janganlah slogan belaka. Sebab sudah banyak contoh setelah mereka jadi anggota legislatif mental dan perbuatannya tidak menunjukkan keteladan seorang pejabat publik.
Keteladanan pejabat memang harus diawali dari peristiwa kecil, seperti menolak menerima amplop meski itu sebagai bentuk ucapan syukur dan terimakasih.


FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia

Friday, January 16, 2009

Budaya Turun

dimuat Surat Pembaca Kompas Jateng 17/01/09

Sudah pasti bahwa harga bahan bakar minyak mengalami penurunan harga untuk ketigakalinya. Sudah dipastikan masyarakat berharap akan terjadi penurunan harga kebutuhan pokok lain (sembako) dan juga penurunan tarif angkutan umum.
Namun sudah diprediksi pula bahwa harga-harga yang sudah terlanjur naik sulit untuk turun. Berbagai alasan muncul untuk tarif angkutan karena suku cadang kendaraan belum turun dan berbagai alasan lain.
Budaya segera turun belum menjadi kebiasaan kehidupan di Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab. Sebab contoh maju terus pantang mudur dan budaya enggan turun juga sering dicontohkan oleh para pejabat publik (birokrat). Meski berbagai kasus penyelewengan, penyimpangan (korupsi) sudah terkuak lebar, namun berbagai alibi untuk membela diri dan tetap berupaya duduk di "kursi empuknya" sudah menjadi kehendak.
Maka wajar pula jika masyarakat meniru tingkah polah mereka. Termasuk para pelaku usaha dan pelaku angkutan yang enggan juga menurunkan tarif meski BBM sudah turun secara bertahap sampai tiga kali dalam kurun waktu dua bulan.
Perlu sikap peduli dalam membiasakan budaya turun dan ketegasan sikap Pemerintah demi kepentingan yang lebih luas karena masyarakat sudah sangat terpuruk sebagai efek krisis global.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia