Tuesday, September 15, 2009
Kepekaan Sosial DPR
Sungguh memprihatinkan kala mendengar, membaca dan melihat betapa besarnya kebutuhan anggaran untuk pelantikan anggota DPR 2009-2014. Langkah tersebut bentuk sikap kekurang pedulian pada situasi dan kondisi kekinian masyarakat, bangsa dan negara.
Mereka seakan tidak melihat kondisi bangsa yang masih hidup dalam lingkup kemiskinan, kemelaratan ditambah adanya berbagai bencana. Seolah pmereka menutup mata akan kenyataan riil.
Bagaimanapun bentuk hajatan pelantikan bisa diminimalikan pembiayaannya. Bukti peningkatan anggaran pelantikan dari tahun 2004 dan tahun 2009 sebesar Rp. 15, 89 Juta perorang dari total Rp 11 miliar untuk 560 calon anggota DPR dan 132 calon anggota DPD. Saat itu, situasi kondisi bangsa tidak jauh berbeda besarnya anggaran ibaratnya tidak adanya kepekaan sosial.
Seharusnya pihak Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggaran bisa menekan anggaran. Atau anggaran yang besar tersebut 10 persennya dialokasikan untuk membantu masyarakat yang sangat membutuhkan. Khususnya mereka yang tertimpa bencana.
Hakekatnya sangat diperlukan kepedulian sosial anggota Dewan yang baru. Alih-alih uang saku yang mereka terima bisa di sumbangkan pula walau hanya sebagian.
Bagaimana bapak/ibu anggota Dewan terhormat?
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Suralarta
Friday, September 11, 2009
Kepedulian Alumni
Maraknya ajakan bereuni di hari lebaran secara masif oleh alumni sekolah dari berbagai angkatan perlu dukungan bersama. Begitu pula dibutuhkan kepedulian alumni kepada almamaternya.
Pertemuan antar angkatan bukan hanya sekedar nostalgia dan pesta temu kangen saja. Tetapi dibutuhkan pula sebuah niat untuk membantu dan mengembangkan pendidikannya dulu demi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pengetukan hati nurani alumni sukses untuk membantu almamater yang bersifat membangun. Tentunya harus jeli akan kebutuhan yang berkaitan erat dengan pendidikan. Paling tidak buku-buku berkualitas menjadi kebutuhan anak didik agar mampu bersaing dengan bangsa lain.
Paling tidak dengan aksi mengumpulkan buku (bekas) berkualitas dapat semakin melengkapi perpustakaan sekolah. Pengembangan institusi melalui buku yang berbobot bisa menumbuhkan niat membaca,menulis dan melahirkan pemikir intelektual sehingga mengangkat nama sekolah.
Begitu pula gerakan membantu (beasiswa) siswa miskin agar lancar dalam memperolah pendidikan layak.
Semua bisa berjalan semestinya bila kepedulian alumni bukan sekedar imajinasi. Bukti dan wujud konkrit sangat diharapkan. Selamat bertemu teman lama wahai alumni dan kepedulianmu sangat ditunggu alamater dan adik kelas khususnya buku yang bermutu dan bantuan pendidikan yang berkelanjutan. Semoga!
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epsitoholik Indonesia
Sunday, August 09, 2009
Dibutuhkan Rendra Baru
Mendengar berita berpulangnya Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) pada hari Kamis pukul 22.10 WIB. Segenap anggota civitas akademika SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo ikut merasa kehilangan.
Sebab Si “Burung Merak” mempunyai ikatan yang sangat erat dengan SMA Yosef Solo. Sosok Rendra pernah mengenyam pendidikan SMA nya selama tiga tahun disini (1952 -1955). Oleh karenanya gerak langkah "ruh" WS Rendra di usahakan tetap mengakar pada siswa di SMA Yosef.
Maka pengelolaan hati dan jiwa untuk mengerti makna kehidupan dan menolong yang lemah menjadi satu misi pendidikan penting menuju manusia berkarakter. Dengan menumbuhkan semangat sosial, simpati dan empati pada anak didik di semua jenjang sekolah.
Maka dengan segenap hati siswa SMA Yosef mengadakan doa bersama dengan musikalisasi puisi Rendra demi menghantar Rendra (7/8). Tujuannya menggugah hati siswa untuk mengerti makna dalam perjalanan hidup. Mengerti hakekat pentingnya perjalanan hidup seorang satrawan, dramawan, penyair dan budayawan tangguh.
Dengan demikian akan lahir Rendra baru yang dapat mengharu birukan bangsa dan negara.
Maka sekolah jangan menganaktirikan siswa yang menyukai seni dan sastra. Dibutuhkan penghargaan dan kesempatan kepada siswa untuk berekspresi dimanapun berada. Kesempatan itu harus dimulai dari keterbukaan Sekolah.
FX Triyas Hadi Prihantoro.
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Tuesday, July 14, 2009
Bersama selamatkan air
Begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia. Seperti halnya di negara maju masyarakatnya sudah mulai berfikir menyelamatkan air. Sebab tantangan kehidupan kedepan adalah perebutan air.
Oleh karena itu di masa musim kemarau ini dipastikan beberapa wilayah tanah air akan kekurangan air. Oleh karena itu menjadi kehendak dan kewajiban bersama untuk menyelamatkan air.
Seperti dipaparkan sebagai bukti empiris bahwa air saat ini menjadi barang yang wajib dilestarikan. Banyak waduk yang mulai kekurangan debit air karena banyaknya lumpur. Bahkan di daerah Wonosobo lima tahun yang lalu ada 3.500 mata air namun saat ini sudah berkurung hampir 101 mata air.
Ini berarti para pemangku kebijakan baik tingkat Kepala Desa sampai Bupati/Walikota harus mulai mawas diri. Pasalnya bila di negara yang katanya loh jinawai karta raharja, menjadi ironis ketika kesulitan mendapatkan air.
Saatnya bersama kita ikut menyelamatkan air melalui penanaman pohon, melestarikan lingkungan hutan dan ikut mengkampanyekan stop global warming.Oleh karena itu sebuah gerakan satu orang menanam pohon bukan sekedar wacana namun menjadi gerakan bersama guna menampung resapan dan sebagai cadangan sumber air bagi kehidupan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Friday, June 26, 2009
Selamat Ulang Tahun "Kompas"
Menginjak usia ke-44 tahun menjadikan refleski bahwa kemapanan selalu tidak lepas dari berbagai ujian. Bahwa tidak mudah dalam mengarungi ketatnya pasang surutnya permediaan (koran) di tanah air. Pasang surut dan terpaan cobaan pernah dirasakan pula.
Namun Harian Kompas semakin mampu menunjukkan jati dirinya. Dengan Berbagai perubahan dan pelopor inovasi media moden.Perwajahan berbagai bentuk dengan mengkolaborasikan Tekknologi Informasi yang mengglobal.Maka di Era digitalpun menjadikan Harian Kompas semakin kreatif dan revolutif dalam memberikan kemanjaan bagi pembacanya. Maka bukan hal yang menjadi kendala bagi pembaca setia untuk selalu mengikuti perkembanganya menginjak usia 44 tahun.
Selamat Ulang tahun Kompas. Semoga semangat memperjuangkan amanat hati nurani rakyat selalu bersemai dan tumbuh sesuai visi dan misi.Memperjuangkan kepentingan rakyat marginal, miskin, tersingkirkan, tersia-siakan dan terpinggirkan menuju keadilan dan kemakmuran bangsa
Selalu memberikan berita yang berimbang tanpa terkooptasi oleh kepentingan Penguasa.Membuktikan bahwa kemampuan memilahkan dalam memberikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh pembaca.Sebab disinilah bentuk akurasi dan kepercayaan pembaca menjadi parameter diterimanya sebuah harian di hati rakyat
Semoga Kompas tetap eksis dan tidak meninggalkan jati dirinya, sebagai media komunikasi yang selalu setia menjadi "lidah" penyambung amanat rakyat. Hal yang sangat wajar bila pembaca memberikan apresiasi positif demi gerak lajunya perkembangan media ini yang semakin ekploratif.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Thursday, June 18, 2009
Adu Janji
Tidak dimungkiri janji merupakan harapan untuk menjadi lebih baik. Sebab janji mudah diucapkan namun kadang sangat sulit direalisasikan.
Ibaratnya seorang penjual pasti berkeinginan daganganya laku keras. Segala upaya dilakukan demi menggaet konsumen. Namun sebenarnya ada hukum yang tidak tertulis dan sudah menjadi kesepakatan untuk tidak saling menjatuhkan.
Demikian halnya saat para Calon Presiden (Capres), calon wakil presiden (cawapres) dan tim suksesnya saat masa kampanye. Adu janji sangat kasat mata karena memang memberi harapan bagi semua orang (rakyat).
Berbagai janji pro rakyat memang sangat potensial untuk mendulang suara. Namun perlu diingat janji haruslah ditepati. Meski sudah diadakan penandatanganan (perjanjian) sebagai kontrak politik namun rakyat harus cerdas.
Teliti dan jeli dalam menelaah janji merupakan kunci untuk menjatuhkan pilihan. Mari kita semua mulai mengajak teman, saudara dan relasi untuk mencermati janji capres dan cawapres.
Janji yang realistis dan mencerdaskan sebagai bentuk bukti bahwa kejernihan dan ketulusan nurani untuk tidak membohongi rakyat. Maka janji bukanlah hanya jargon semata sebab nantinya rakyat perlu bukti tidak sekedar adu janji.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epsitoholik Indonesia.
Monday, May 18, 2009
Proaktif Rakyat
Hasil rekapitulasi akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU) hasil dari pemilihan Legislatif sejumlah 49,6 Juta Orang Tak Memilih (29,01 persen) dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap
Berbagai tudingan dari ketidakmutkhiran data KPU dan berbagai persoalan yang mengiringinya sehingga angka golput tinggi dalam pileg 2009. Menjadikan bentuk penyadaran bahwa rakyat perlu proaktif dalam berpartisipasi dalam proses demokrasi.
Oleh karena itu berbagai pesan melalui SMS, iklan di media cetak dan elektronik agar rakyat aktif dalam menctatkan diri sebagai pemilih dalam pemilihan Presiden (Pilpres) bentuk dari koreksi yang positif. Sebab tanpa gerakan, ajakan dan kesungguhan dalam berpartisipasi dalam memilih pemimpin bangsa menjadikan kecacatan dalam proses demokrasi yang mengutakan kepanetingan rakyat.
Sangat ditunggu partisipasi rakyat dalam pilpres 2009. Sehingga legitimasi Presiden RI 2009-2014 dapat dipertanggungjawabkan. Sebab rakyat sudah menjatuhkan pilihan yang sesungguhnya. Rakyat memang harus proaktif menjadi pemilih, penjaga, mengamankan dan mengawal proses demokrasi lima tahunan ini menjadi semakin berkualitas.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Wednesday, May 13, 2009
KPK tanpa Antasari ?
Minggu -minggu terakhir ini, kasus ditangkap dan dipenjarakannya Antasari Ashar menjadi berita utama media. Pengungkapkan kasus pembunuhan tingkat tinggi yang diduga melibatkan berbagai tokoh dan Ketua komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tidak dimungkiri bahwa nama Antasri langsung anjlok ke titik nadir berkenaan diduga sebagai dalang pembunuhan terhadap Nasrudin. Padahal dua tahun terakhir nama Antasri sangat tersohor atas kepemimpinanya di KPK. Sosok yang sangat jeli, lugas, tegas dan tanpa kompromi dalam memberantas korupsi di negeri ini.
Antasari identik dengan KPK. Figur yang sudah menjadi citra positif dan menjadi acuan bagi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Sayangnya nila setitik rusak susu sebelanga.
Lalu bagaimanakah citra KPK selanjutnya tanpa Antasari? Inilah yang selalu menjadi pemikiran masyarakat pada umumnya. Masih mampukan KPK menjalankan fungsi dan tugasnya secara prima?
Kepemimpinan bersama sudah menjadi keputusan. Namun pengungkapan , ketegasan dan kelanjutan berbagai kasus yang masih menumpuk sangat diharapkan masyarakat agar seger dituntaskan pula.
Masyarakat akan selalu mendukung segala upaya dalam menuntaskan bahya korupsi di negeri ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, April 02, 2009
Bhinneka Tunggal Ika Harga mati
Indonesia adalah negara multi, negara heterogen. Jadi, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati. Di negeri ini terdapat keragaman suku bangsa, agama, golongan, kultur, dan bahasa yang merupakan kekayaan hakiki.
Sejak awal, Indonesia bukan negara homogen. Keindahan negeri ini terletak pada segala keunikannya dan semua keragaman yang ada.
FX TRIYAS HADI P
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Wednesday, April 01, 2009
Kompensasi dan BLT
Pemberian kompensasi (pengembalian uang) dari kenaikan Bahan Bakar Minyak yang ditetepkan Pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kompensasi BLT akan membantu rakyat miskin agar tidak merasa berat dalam memenuhi kebutuhan hidup karena kena imbas dengan kenaikan bahan pokok.
Maka program BLT ini biasanya bergulir seiring dengan kenaikan BBM. Logikanya pula bila harga BBM turun berarti kebutuhan Rakyat semakin ringan maka program BLT harusnya juga dihentikan.
Meski program ini selalu melahirkan pro dan kontra dalam pelaksanaannya namun rasa empati Pemerintah wajib dihormati dan dihargai. Namun yang menjadi lucu saat BBM sudah turun sampai 3 kali toh BLT jalan terus. Itu berarti program kompensasi apa lagi? Apakah bentuk komensasi BBM turun?
Dan yang menjadi masalah lagi ketika BLT juga diberikan saat masa kampanye menjelang Pemilu. Maka tidak mengherankan bila banyak kritikan dalam pembagian harga kebutuhan pokok. Bukannya BLT jalan terus, karena jelas sudah salah arah dan tuBLT kali ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epsitoholik Indonesia
Monday, March 16, 2009
Ketidakpercayaan diri Caleg
Melihat baliho, pamflet maupun spanduk calon anggota legislatif (Caleg) yang bertebaran di jalan-jalan raya, saya melihat sebuah fenomena umum. Mereka terbukti banyak yang tidak mempunyai rasa percaya diri.Sebagian besar “wajah” caleg dibayang-bayangi oleh kebesaran tokoh (negarawan, politikus maupun agamawan). Bahkan ironisnya banyak Caleg yang numpang beken pada anaknya yang artis, pemain bola (dalam maupun luar negeri) maupun artis (musisi budayawan).Lalu bagaimana masyarakat menentukan pilihan jika Caleg tidak percaya diri? Apakah setelah menjadi wakil rakyat, mereka mampu menyampaikan suara rakyat?Idealnya, saat mereka meminta dukungan, perlu dibuktikan dalam alat peraga kampanye kiprahnya dalam kegiatan sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Dengan dukungan gambar bukti keterlibatan Caleg dalam kegiatan kemasyarakatan, menandakan kepercayaan dirinya besar. Kemampuan menyampaikan aspirasi rakyat akan layak diandalkan. Oleh karena itu, masyarakat tinggal menunggu, strategi apa dari Caleg pada kampanye terbuka. Sebab aspirasi rakyat perlu sebuah saluran yang benar dan meyakinkan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Monday, March 02, 2009
Caleg Egois
Jika kita melihat berbagai spanduk, baliho, pamflet, stiker yang merupakan propaganda para calon anggota legislatif di berbagai sudut wilayah/kota, sangat kental bentuk egoisme dan individualisme mereka.
Hal itu dibuktikan banyaknya alat peraga yang dibuat hanya menonjolkan "kelebihan" pribadi masing-masing. Unsur kerjasama dengan semangat gotong royong dan persatuan (meski) satu partai pun kelihatan sangat sedikit.
Seandainya para caleg dalam satu parta bersatu dalam mengkampanyekan diri, kesemrawutan pemasangan spanduk tak akan terjadi. Keasrian dan keindahan lingkungan pun terjaga.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL. Santo Yosef Surakarta
Tuesday, February 24, 2009
Sosialisasi Pemilu
Banyak kritik terhadap kinerja Komisi Pemilihan Umum dan kesiapannya menghadapi Pemilu April nanti. Salah satunya kebingungan masyarakat terhadap sah tidaknya suara dalam Pemilu dalam hal mencentang.
Apalagi ada sebuah rumor baru berkenaan hendak dianulirnya lagi pasal 214 (sahnya pilihan dengan suara terbanyak bagi calon anggota legislatif) dari UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu. Kelak masyarakat akan semakin bingung lagi. Pasalnya sosialisasi dari alat peraga caleg berbeda dengan kenyataan akan membuat kendala di lapangan.
Contoh terbaru terbaru dari mencoblos menjadi mencentang saja masih banyak yang belum paham, apalagi aturan berkenaan dengan sah tidaknya suara. Oleh karena itu perlu sosialisasi Pemilu yang benar secara terus menerus. Jangan sampai kisruh pada 9 April.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Monday, February 16, 2009
Cermin bagi Legislatif
Bukanya untuk menyurutkan nyali bagi calon legislatif (Caleg), tapi inilah sebuah fakta. Di mana, jadi legislator tidaklah mudah. Sampai maut pun harus dijalani seperti yang terjadi di Sumatra Utara. Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat, harus meregang nyawa saat aksi demo masyarakat akan tuntutan provinsi baru Tapanuli Utara(3/2/09).
Oleh karena itu, bagi calon anggota legislatif (Caleg) janganlah nanti setelah menjadi anggota legislatif ingkar janji. Lupa akan jargon, semboyan, minta restu yang sekarang marak bertebar di mana-mana.
Sebab, bila sudah duduk di kursi dewan kadang lupa akan masa lalu. Lupa akan janji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Lupa bahwa melalui dukungan rakyatlah mereka bisa menjadi anggota legislatif yang terhormat.
Maka peristiwa di DPRD Sumut sebagai pembelajaran dan peringatan para Caleg. Jika belum siap jiwa raga masih ada waktu untuk mengundurkan diri. Sebab anggota legislatif bukan satu-satunya tempat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Thursday, January 29, 2009
Keteladanan Pejabat
Sebuah keteladanan memang harus tumbuh dari dalam diri manusianya. Seperti halnya dalam hal budaya anti korupsi. Meski "upeti" sudah di depan mata namun bila mental spiritual untuk tidak mau menerima sudah ada dalam pribadinya, maka sebuah upaya "tanda terimakasih" tetap akan ditolak secara halus.
Begitulah seharusnya mental keteladanan pejabat kita, kalau menghendaki negara ini segera menuju keadilan dan kemakmuran. Oleh karena itu dengan maraknya publikasi dan kampanye calon anggota Legiuslatif (Caleg) akan bentuk kepedulian perjuangan demi kepentingan rakyat janganlah slogan belaka. Sebab sudah banyak contoh setelah mereka jadi anggota legislatif mental dan perbuatannya tidak menunjukkan keteladan seorang pejabat publik.
Keteladanan pejabat memang harus diawali dari peristiwa kecil, seperti menolak menerima amplop meski itu sebagai bentuk ucapan syukur dan terimakasih.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia
Friday, January 16, 2009
Budaya Turun
Sudah pasti bahwa harga bahan bakar minyak mengalami penurunan harga untuk ketigakalinya. Sudah dipastikan masyarakat berharap akan terjadi penurunan harga kebutuhan pokok lain (sembako) dan juga penurunan tarif angkutan umum.
Namun sudah diprediksi pula bahwa harga-harga yang sudah terlanjur naik sulit untuk turun. Berbagai alasan muncul untuk tarif angkutan karena suku cadang kendaraan belum turun dan berbagai alasan lain.
Budaya segera turun belum menjadi kebiasaan kehidupan di Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab. Sebab contoh maju terus pantang mudur dan budaya enggan turun juga sering dicontohkan oleh para pejabat publik (birokrat). Meski berbagai kasus penyelewengan, penyimpangan (korupsi) sudah terkuak lebar, namun berbagai alibi untuk membela diri dan tetap berupaya duduk di "kursi empuknya" sudah menjadi kehendak.
Maka wajar pula jika masyarakat meniru tingkah polah mereka. Termasuk para pelaku usaha dan pelaku angkutan yang enggan juga menurunkan tarif meski BBM sudah turun secara bertahap sampai tiga kali dalam kurun waktu dua bulan.
Perlu sikap peduli dalam membiasakan budaya turun dan ketegasan sikap Pemerintah demi kepentingan yang lebih luas karena masyarakat sudah sangat terpuruk sebagai efek krisis global.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia
Tuesday, December 30, 2008
Tahun Caleg
Meski krisis finansial melanda dan imbasnya menggulung pelaku usaha di Indonesia, para calon legislatif terus berlomba berbuat baik.
Mereka gencar membuat spanduk, baliho, brosur, pamflet, dan sebagainya yang bertebaran di jalan raya. Tujuannya meminta restu agar pencalonannya sebagai pengemban amanat rakyat mendapat dukungan.
Namu, apakah mereka mampu memenuhi semua janjinya setelah terpilih tahun 2009 nanti.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Tuesday, December 09, 2008
Ko(rup)tor
Beberapa hari ini di televisi kita lihat iklan salah satu partai politik meneriakan kata ”tidak” dengan mengepalkan tangan penuh semangat. Mereka mengatakan tidak korupsi dan berantas.
Korupsi merupakan tindakan kotor karena sangat merugikan kepentingan masyarakat. Maka dari itu, semangat peringatan hari Anti Korupsi Sedunia pada tanggal 9 Desember bukanlah hanya sebuah peringatan dengan jargon-jargon belaka. Perlu tindakan konkrit dan berkesinambungan untuk memberantas korupsi.
Masyarakat sudah terlalu banyak dirugikan. Maka marilah bersama menyatukan tekad, sikapdan tindakan untuk selalu mengatakan bahwa koruptor merupakan perilaku kotor yang menjadikan negara tekor (rugi)
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epsitoholik Indonesia
Friday, November 28, 2008
Selamatkan Pepohonan
Setiap bepergian berkendaraan, sepanjang perjalanan terlihat pamflet dan poster calon anggota Legislatif (caleg) yang mempromosikan dirinya.
Ironsisnya, fasilitas yang dimanfaatkan adalah pohon-pohon yang bersinggungann dengan badan jalan. Seolah partai politik dan caleg berebutan untuk memanfaatkan :”tubuh” pohon yang tersisa.
Sayang sekali mereka mengabaikan berbagai imbauan dari masyarakat peduli lingkungan. Tanpa memedulikan kelestarian lingkungan , berbagai sarana (paku, kawat) menancap di pohon yang seharusnya dilindungi.
Gerakan selamatkan pohon jangan hanya sebatas wacana tanpa implikasi. Hanya melalui contoh nyata dengan saling mengingatkan dan tidak merusak, gerakan itu akan menjadi gerakan yang mengakar.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Larisnya Program Magister
dimuat dalam Surat pembaca Kompas Jateng 15/11/08
Kualitas mutu lulusan Perguruan Tinggi (PT) memang lagi menjadi sorotan. Hal yang paling absurd bahwa Lulusan PT kurang profesional sehingga tidak mudah langsung beradaptasi di dunia kerja. Akhirnya penggangguran PT semakin signifikan peningkatannya tiap tahun.
Kesulitan mencari pekerjaan tidak dipungkiri banyak yang studi lanjut ke program Magister atau Pasca Sarjana. Alhasil kelak lulusan Magisterpun akan melonjak. Ironisnya Pasar dunia kerja kadang tidak sanggup menetapkan standar gaji bagi mereka. Akhirnya mereka menjadi pengganggur pula.
Oleh karena itu perlu sebuah regulasi demi jaminan mutu lulusan dengan larisnya Program Magister. Pasalnya banyak Perguruan Tinggi Swasta jyang memiliki jumlah Sarjana S2 lebih banyak keimbang lulusa S1..
Tidak mengherankan pula banyak lulusan S2 yang masih muda. Namun apakah mereka sanggup menanggung beban tanggung jawab tugas sesuai klasifikasi Ijasah/sertfikat yang di dapat? Ini yang perlu dipikirkan bersama demi kualitas mutu pendidikan yang semestinya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, October 02, 2008
Ketega(s)an Sanksi
"Sanksi bagi PNS yang mangkir", begitulah judul berita harian Kompas edisi Minggu 28 September 2008 halaman 4. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang melanggar karena tidak taat aturan dalam menggunakan hari libur lebaran mendapat sanksi teguran, pencopotan jabatan sampai pemecatan.
Sudahkan ketegasan dan ketegaan (tanpa kompromi/tidak main-main) atasan dalam memberikan sanksi (hukuman) benar-benar teraktualisasi? Pasalnya molor dalam menggunakan hari libur guna merayakan lebaran dengan mudik, beranjangsana, bersilaturahmi dan bernostalgia sudah menjadi acara rutinitas tahunan.
Namun demikian pelangaran demi pelanggaran oleh PNS, juga masih terjadi dengan tidak masuk kerja tepat pada waktunya. Sebab, negoisasi pengampunan dan ketidak tegaan Pimpinan, bagi PNS yang mangkir dengan memberikan sanksi yang seharusnya juga sudah menjadi pembiasaan.
Oleh karena itu guna mengembalikan mental disiplin, taat, tertib karena PNS adalah abdi masyarakat perlu sebuah ketegasan dalam sanksi (hukuman).
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia