dimuat dalam surat pembaca Harian Joglosemar 21 Mei 2008
Tahun 2008 dapat dianalogikan sebagai “pangkat sepuluh”. Sebuah angka yang sempurna sebenarnya. Benarkah demikian dengan bangsa ini angka tersebut bermakna? Sebuah kesempurnaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan dambaan bersama. Sebuah keagungan bangsa yang berkemakmuran dan berkeadilan menjadi tujuan yang diidamkan, sepuluh tahun yang lalu reformasi bergulir. Harapannya akan ada perubahan hidup dalam negara menjadi lebih baik. Seratus tahun yang lalu Dr Sutomo dengan organisasi Budi Utomo mengobarkan semangat persatuan (nasionalisme). Pembentukan organisasi modern melebur sifat kedaerahan, provinsialisme dan perlawanan sporadis.Lalu kini di tahun 2008 makna sepuluh dan seratus tahun yang lalu, sudahkan mendapat secercah pencerahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelihatannya kita harus prihatin dan merefleksikan diri kembali dalam memperingati sepuluh tahun reformasi dan seratus tahun Kebangkitan Nasional. Kebangkitan itu harus selalu ada di manapun, kapanpun dan kepada siapa saja anak bangsa Indonesia.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epsitoholik Indonesia
Friday, May 30, 2008
Thursday, May 01, 2008
Olah Raga Minimalis
dimuat di kolom Surat Pembaca Kompas Jateng 2 Mei 2008
Terbatasnya ruang publik, area bermain dan lapangan olah raga di kota besar menjadikan banyak orang berpikir praktis. Sebab kebutuhan untuk berolah raga dan menjaga kesehatan menjadikan kebutuhan bersama. Akhirnya tempat yang masih tersisa di optimalkan perannya.
Model minimalis tidak hanya dalam bentuk rumah tetapi juga sarana bermain olah raga.
Maraknya Olah raga minimalis seperti dengan bermain futsal, bola basket dengan three on three, voli dikenal dengan voli pantai. Mungkin kelak akan muncul lagi jenis oleh raga berkelompok minimalis lainnya.
Ternyata tempat dan ruang terbatas tidak membatasi orang untuk berolah raga. Semua cara dapat dilakukan asal ada niat.
Makanya orang kota harus pandai memanfaatkan area publik yang tersisa guna berolah raga, berekreasi, bersosialisasi dan berkomunikasi.
Semoga menjamurnya area bermain futsal menjadi inspirasi warga kota untuk bisa memanfaatkan lahan yang tersisa dengan sarana olah raga yang rekreatif dan komunikatif.
FX Triyas Hadi Prihntoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef SUrakarta
Ironi Surat Pembaca
dimuat di harian Joglosemar 24 April 2008
Hari Rabu 9 April 2008 saya dapat SMS dari rekan EI (Epistoholik Indonesia). Sebuah harian terbitan nasional memberitakan vonis Rp 1 miliar bagi 4 penulis SP (Surat Pembaca) karena tulisannya di media massa. Ironis memang dalam ranah keterbukaan informasi dan komunikasi terjadi ketidakadilan dalam sebuah keputusan. Dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tercantum pula kode etik Pers. Ada sebuah hak jawab mengenai sebuah pemberitaan di mana pihak yang dirugikan diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi.Padahal para penulis SP dalam menyampaikan pesan umumnya berdasarkan apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan dialami. Sebuah pemberitaan berdasarkan kebenaran, kejujuran, lugas, apa adanya diperjuangkan melalui SP demi kemaslahatan publik. Namun saat ada tuntutan kepada penulis SP seolah-olah UU Pers terabaikan. Harapan saya sebagai salah satu dari sekian banyak penulis SP yang berjuang untuk kebenaran, penerapan UU Pers jangan hanya sebagai payung hukum bagi para wartawan. Perlu usaha advokasi bagi para penulis lepas (SP dan Opini) sebab di sinilah pembelajaran mengeluarkan pikiran dan pendapat teraktualisasi secara riil.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Kontrak politik
dimuat di kolom Surat Pembaca Kompas Jateng 9 April 2008
Dalam era demokrasi secara langsung saat ini saatnya calon pemimpin melakukan kontrak politik. Sebab acapkali mereka lupa janji setelah terpilih menjadi Penguasa, meski itu berdasarkan suara rakyat.
Saat ini para calon Gubernur Jateng mengusung tema memperjuangkan kaum yang lemah, mengentaskan kemisikinan, pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis menjadi isu utama.
Oleh karena itu saatnya rakyat berani melakukan kontrak politik dengan para kandidat tersebut. Sebuah perjanjian dengan rakyat bisa menjadi alat "tagih" yang legal bila pemimpin terpilih mengingkari janji.
Kontrak politik menunjukkan kedewasaab berdemokrasi yang sesungguhnya. Kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang.?
FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA PAngudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Terbatasnya ruang publik, area bermain dan lapangan olah raga di kota besar menjadikan banyak orang berpikir praktis. Sebab kebutuhan untuk berolah raga dan menjaga kesehatan menjadikan kebutuhan bersama. Akhirnya tempat yang masih tersisa di optimalkan perannya.
Model minimalis tidak hanya dalam bentuk rumah tetapi juga sarana bermain olah raga.
Maraknya Olah raga minimalis seperti dengan bermain futsal, bola basket dengan three on three, voli dikenal dengan voli pantai. Mungkin kelak akan muncul lagi jenis oleh raga berkelompok minimalis lainnya.
Ternyata tempat dan ruang terbatas tidak membatasi orang untuk berolah raga. Semua cara dapat dilakukan asal ada niat.
Makanya orang kota harus pandai memanfaatkan area publik yang tersisa guna berolah raga, berekreasi, bersosialisasi dan berkomunikasi.
Semoga menjamurnya area bermain futsal menjadi inspirasi warga kota untuk bisa memanfaatkan lahan yang tersisa dengan sarana olah raga yang rekreatif dan komunikatif.
FX Triyas Hadi Prihntoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef SUrakarta
Ironi Surat Pembaca
dimuat di harian Joglosemar 24 April 2008
Hari Rabu 9 April 2008 saya dapat SMS dari rekan EI (Epistoholik Indonesia). Sebuah harian terbitan nasional memberitakan vonis Rp 1 miliar bagi 4 penulis SP (Surat Pembaca) karena tulisannya di media massa. Ironis memang dalam ranah keterbukaan informasi dan komunikasi terjadi ketidakadilan dalam sebuah keputusan. Dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tercantum pula kode etik Pers. Ada sebuah hak jawab mengenai sebuah pemberitaan di mana pihak yang dirugikan diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi.Padahal para penulis SP dalam menyampaikan pesan umumnya berdasarkan apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan dialami. Sebuah pemberitaan berdasarkan kebenaran, kejujuran, lugas, apa adanya diperjuangkan melalui SP demi kemaslahatan publik. Namun saat ada tuntutan kepada penulis SP seolah-olah UU Pers terabaikan. Harapan saya sebagai salah satu dari sekian banyak penulis SP yang berjuang untuk kebenaran, penerapan UU Pers jangan hanya sebagai payung hukum bagi para wartawan. Perlu usaha advokasi bagi para penulis lepas (SP dan Opini) sebab di sinilah pembelajaran mengeluarkan pikiran dan pendapat teraktualisasi secara riil.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Kontrak politik
dimuat di kolom Surat Pembaca Kompas Jateng 9 April 2008
Dalam era demokrasi secara langsung saat ini saatnya calon pemimpin melakukan kontrak politik. Sebab acapkali mereka lupa janji setelah terpilih menjadi Penguasa, meski itu berdasarkan suara rakyat.
Saat ini para calon Gubernur Jateng mengusung tema memperjuangkan kaum yang lemah, mengentaskan kemisikinan, pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis menjadi isu utama.
Oleh karena itu saatnya rakyat berani melakukan kontrak politik dengan para kandidat tersebut. Sebuah perjanjian dengan rakyat bisa menjadi alat "tagih" yang legal bila pemimpin terpilih mengingkari janji.
Kontrak politik menunjukkan kedewasaab berdemokrasi yang sesungguhnya. Kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang.?
FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA PAngudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Wednesday, March 12, 2008
Terimakasih Walikota Solo
dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng 3 Maret 2008
Obsesi walikota Solo untuk menghijaukan kota bukan basa-basi. Upaya penanaman pohon di area publik yang masih ada sudah biasa kita dengar. Bagaimana sekarang warga Solo mendukung dan mengaktualisasikan gagasan Walikota.
Seperti yang dilakukan SMA Pangudi Luhur Santo Yosef. Rasa prihatin akan global Warming (pemanasan global), aksi penanaman pohon sudah biasa dilakukan. Namun sekarang lebih gencar dan Intensif.
Seperti halnya pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2008, Walikota Solo berkenan audensi dengan Seluruh keluarga besar SMA Yosef. Dengan tajuk "Meet Mr. Meyer" dan bertema "Love Green" suasana hijau mendominasi pertemuan itu. Walikota sendiri memberi pujian bagi SMA Yosef sebagai sekolah yang terhijau di kota Solo. Sebab area 3,7 hektar 60 persennya merupakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) mulai dari lapangan sepak bola sampai "hutan kecil".
Sebuah kepedulian semua warga sekolah dan siswanya menjadikan walikota terketuk dengan memberi bantuan 25 bibit pohon nangka, 25 bibit pohon jambu biji, 25 bibit pohon akasia dan 25 bibit pohon Equalitus. Pada kesempatan itu Walikota juga secara simbolis berkenan menanam pohon wahyu turmurun dan Cempoko Mulyo. Selain itu Walikota juga berjanji mengucurkan bantuan dana Rp. 200 juta kepada SMA Yosef guna mengeksiskan RTHnya.
Terimakasih Walikota Solo, amanat untuk menghijaukan kota Solo akan dikawal dengan suasana hijau di Lingkungan SMA Pangudi Luhur Santo Yosef. Semoga derap pembangunan yang lain tidak melupakan untuk menyisakan bagi RTH.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Gus Dur dan Imlek
dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng tanggal 5 Februari 2008
Kebebasan memeluk Agama merupakan Salah satu Hak Asasi Manusia. Salah satu tokoh pejuang Hak ini adalah KH Abdurahman Wahid (Presiden keempat) Republik Indonesia.
Maka setiap kali menjelang perayaan Imlek saya selalu ingat Gus Dur. Dimana sejak menjabat sebagai Ketua NU tiada henti dia membela penganut Aliran Kepercayaan dan pemeluk Kong Hu Cu untuk memperoleh Haknya sebagai warga negara.
Maka tidak heran sejak Pemerintahan Gu Dur Perayaan Tahun Baru Cina mendapat tempat. Meski waktu itu baru secara fakultatif sebagai hari Libur Nasional namun sebuah kepastian pengakuan negara sebagai bukti bahwa Kebebasan beragama memang dijamin sesuai pasal 29 ayat 2 UUD 1945.
Sekarang Tahun Baru Imlek sudah menjadi hari Libur Nasional. Oleh karena itu marilah kita tebarkan semangat toleransi beragama. Kita hargai dan hormati siapa saja yang di sekitar kita meski memiliki agama dan keyakinan yang berbeda.
Seperti yang di deklarasikan oleh Tokoh Agama Nasional di Metro Lampung beberapa waktu yang lalu.
Selamat hari raya Imlek 2559 saudaraku. Gong Ci Fat Choi
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Pemimping perlu bersikap ramah
dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng tanggal 2 Februari 2008
Setiap menjelang pesta demokrasi. Baik itu untuk pengisian kursi di lembaga legislatif maupun eksekutif, para calon berusaha mencari dukungan dan perhatian rakyat.
Mulai ajang silaturahmi, aktif berkunjung, memberi bantuaan kepada rakyat dan berbagai aktifitas sosial lainnya. Upaya menarik simpati dan dukungan hanya sebatas saat membutuhkan saja. Padahal untuk menjadi Pemimpin dibutuhkan sikap ramah sepanjang masa.
Pemimpin yang seperti ini akan selalu di keenang oleh rakyatnya. Sehingga bukan lagi setelah tidak menjabat, justru hujatan yang diterima.Maka marilah menjadi pemimpin yang ramah.
Seperti contoh saat saya mendamping siswa untuk ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Presiden RI yang ke dua. Sejak pukul 07.00 pagi tanggal 28 Januari 2008 bersama 200 an siswa/siswi berjejer di sepanjang Jl. Adisucipto yang hendak dilewati rombongan jenasah maupun tamu yang hendak berbelasungkawa menuju Astana Giribangun.
Pada saat itu hampir tiap menit sirine petugas berbunyi meraung-raung mengiringi para tamu (pejabat) negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla. Ironisnya kami tidak bisa melihat siapa saja yang sedang mendapatkan pengawalan ketat tersebut.
Hanya satu rombongan yang cukup membanggakan bagi saya dan para siswa-i dan masyarakat yang berjejer. Saat Rombongan Orang nomor satu di tanah air lewat, jendela mobil sedan RI 1 yang ditumpangi Presiden SBY terbuka lebar-lebar. Dengan lambaian dan senyuman khasnya Bapak Presiden memberi salam kepada orang-orang yang berjejer di sepanjang jalan.
Sebuah sapaan yang menyejukkan. Sikap ramah seorang pemimpin (meski dengan senyum dan lampaian tangan) namun sebuah penghargaan kepada rakyat yang ikut menyambut cukup tinggi dan membahagiakan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia
Obsesi walikota Solo untuk menghijaukan kota bukan basa-basi. Upaya penanaman pohon di area publik yang masih ada sudah biasa kita dengar. Bagaimana sekarang warga Solo mendukung dan mengaktualisasikan gagasan Walikota.
Seperti yang dilakukan SMA Pangudi Luhur Santo Yosef. Rasa prihatin akan global Warming (pemanasan global), aksi penanaman pohon sudah biasa dilakukan. Namun sekarang lebih gencar dan Intensif.
Seperti halnya pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2008, Walikota Solo berkenan audensi dengan Seluruh keluarga besar SMA Yosef. Dengan tajuk "Meet Mr. Meyer" dan bertema "Love Green" suasana hijau mendominasi pertemuan itu. Walikota sendiri memberi pujian bagi SMA Yosef sebagai sekolah yang terhijau di kota Solo. Sebab area 3,7 hektar 60 persennya merupakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) mulai dari lapangan sepak bola sampai "hutan kecil".
Sebuah kepedulian semua warga sekolah dan siswanya menjadikan walikota terketuk dengan memberi bantuan 25 bibit pohon nangka, 25 bibit pohon jambu biji, 25 bibit pohon akasia dan 25 bibit pohon Equalitus. Pada kesempatan itu Walikota juga secara simbolis berkenan menanam pohon wahyu turmurun dan Cempoko Mulyo. Selain itu Walikota juga berjanji mengucurkan bantuan dana Rp. 200 juta kepada SMA Yosef guna mengeksiskan RTHnya.
Terimakasih Walikota Solo, amanat untuk menghijaukan kota Solo akan dikawal dengan suasana hijau di Lingkungan SMA Pangudi Luhur Santo Yosef. Semoga derap pembangunan yang lain tidak melupakan untuk menyisakan bagi RTH.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Gus Dur dan Imlek
dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng tanggal 5 Februari 2008
Kebebasan memeluk Agama merupakan Salah satu Hak Asasi Manusia. Salah satu tokoh pejuang Hak ini adalah KH Abdurahman Wahid (Presiden keempat) Republik Indonesia.
Maka setiap kali menjelang perayaan Imlek saya selalu ingat Gus Dur. Dimana sejak menjabat sebagai Ketua NU tiada henti dia membela penganut Aliran Kepercayaan dan pemeluk Kong Hu Cu untuk memperoleh Haknya sebagai warga negara.
Maka tidak heran sejak Pemerintahan Gu Dur Perayaan Tahun Baru Cina mendapat tempat. Meski waktu itu baru secara fakultatif sebagai hari Libur Nasional namun sebuah kepastian pengakuan negara sebagai bukti bahwa Kebebasan beragama memang dijamin sesuai pasal 29 ayat 2 UUD 1945.
Sekarang Tahun Baru Imlek sudah menjadi hari Libur Nasional. Oleh karena itu marilah kita tebarkan semangat toleransi beragama. Kita hargai dan hormati siapa saja yang di sekitar kita meski memiliki agama dan keyakinan yang berbeda.
Seperti yang di deklarasikan oleh Tokoh Agama Nasional di Metro Lampung beberapa waktu yang lalu.
Selamat hari raya Imlek 2559 saudaraku. Gong Ci Fat Choi
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Pemimping perlu bersikap ramah
dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng tanggal 2 Februari 2008
Setiap menjelang pesta demokrasi. Baik itu untuk pengisian kursi di lembaga legislatif maupun eksekutif, para calon berusaha mencari dukungan dan perhatian rakyat.
Mulai ajang silaturahmi, aktif berkunjung, memberi bantuaan kepada rakyat dan berbagai aktifitas sosial lainnya. Upaya menarik simpati dan dukungan hanya sebatas saat membutuhkan saja. Padahal untuk menjadi Pemimpin dibutuhkan sikap ramah sepanjang masa.
Pemimpin yang seperti ini akan selalu di keenang oleh rakyatnya. Sehingga bukan lagi setelah tidak menjabat, justru hujatan yang diterima.Maka marilah menjadi pemimpin yang ramah.
Seperti contoh saat saya mendamping siswa untuk ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Presiden RI yang ke dua. Sejak pukul 07.00 pagi tanggal 28 Januari 2008 bersama 200 an siswa/siswi berjejer di sepanjang Jl. Adisucipto yang hendak dilewati rombongan jenasah maupun tamu yang hendak berbelasungkawa menuju Astana Giribangun.
Pada saat itu hampir tiap menit sirine petugas berbunyi meraung-raung mengiringi para tamu (pejabat) negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla. Ironisnya kami tidak bisa melihat siapa saja yang sedang mendapatkan pengawalan ketat tersebut.
Hanya satu rombongan yang cukup membanggakan bagi saya dan para siswa-i dan masyarakat yang berjejer. Saat Rombongan Orang nomor satu di tanah air lewat, jendela mobil sedan RI 1 yang ditumpangi Presiden SBY terbuka lebar-lebar. Dengan lambaian dan senyuman khasnya Bapak Presiden memberi salam kepada orang-orang yang berjejer di sepanjang jalan.
Sebuah sapaan yang menyejukkan. Sikap ramah seorang pemimpin (meski dengan senyum dan lampaian tangan) namun sebuah penghargaan kepada rakyat yang ikut menyambut cukup tinggi dan membahagiakan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia
Monday, January 28, 2008
Selamat Jalan Pak Harto
dimuat Surat Pembaca Kompas Jateng 28 Januari 2008 dan
Pos Pembaca Harian SOLOPOS 29 Januari 2008
Setelah hampir 24 hari menderita sakit, akhirnya Pak Harto berpulang pada hari Minggu, 27 Januari 2008. Pak Harto yang lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, adalah Presiden RI kedua.
Selamat jalan Pak Harto, jasa-jasamu selalu akan dikenang dalam goresan tinta emas sejarah bangsa Indonesia.
Meski saat sakit berbagai polemik selalu berseliweran, namun yakinlah bahwa engkau adalah salah satu putera terbaik yang dimiliki bangsa ini. Maka, sudah seharusnya dan sepatutnya semua elemen bangsa memiliki rasa hormat mikul dhuwur mendhem jero akan sosok dan pemikiran Pak Harto.
Bangsa Indonesia kembali berduka, namun sekaligus bangga karena telah memiliki bapak bangsa yang selalu menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme). Selamat jalan Pak Harto.
FX TRiyas Hadi Prihantoro
guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Pendidikan yang Menggairahkan
dimuat dalam Surat Pembaca di Harian Joglosemar 19 Januari 2008
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnolgi menjadikan banyak orang bermanja. Pasalnya segala fasilitas tersedia, dan tinggal klik kita sudah bisa dibantu oleh Iptek tersebut.Begitu pula dalam bidang pendidikan.
Saat berbagai Pembelajaran on line mudah diakses oleh media Internet, seorang siswa maupun guru tidak usah jauh-jauh mencari lieratur maupun bahan pembelajaran. E-Learning menjadikan pembelajaran online.Dengan demikian anggaran untuk membeli bukupun bisa dikurangi. Upaya saling belajar antar sekolah dapat dilakukan dalam pendidikan on line.
Sekolah penulis telah berupaya melakukan pembelajaran E-Learning dan akses Web yang up to date (http://yosefelearning.sch.id/ dan http://styosef.pangudiluhur.org/ )
Semua itu menjadikan pendidikan yang menggairahkan. Namun sudahkan siswa, guru dan orang tua kita selalu mengajak untuk selalu beriteraksi dengan tekhnologi?
Dan bagaimana stakeholder pendidikan menyikapi.Jangan ada kata terlambat, mari kita mulai sejak sekarang dan jangan tunggu besok. Sebab tekhnologi menjadikan pendidikan yang menggairahkan bila kita mengakrabinya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Pos Pembaca Harian SOLOPOS 29 Januari 2008
Setelah hampir 24 hari menderita sakit, akhirnya Pak Harto berpulang pada hari Minggu, 27 Januari 2008. Pak Harto yang lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, adalah Presiden RI kedua.
Selamat jalan Pak Harto, jasa-jasamu selalu akan dikenang dalam goresan tinta emas sejarah bangsa Indonesia.
Meski saat sakit berbagai polemik selalu berseliweran, namun yakinlah bahwa engkau adalah salah satu putera terbaik yang dimiliki bangsa ini. Maka, sudah seharusnya dan sepatutnya semua elemen bangsa memiliki rasa hormat mikul dhuwur mendhem jero akan sosok dan pemikiran Pak Harto.
Bangsa Indonesia kembali berduka, namun sekaligus bangga karena telah memiliki bapak bangsa yang selalu menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme). Selamat jalan Pak Harto.
FX TRiyas Hadi Prihantoro
guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Pendidikan yang Menggairahkan
dimuat dalam Surat Pembaca di Harian Joglosemar 19 Januari 2008
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnolgi menjadikan banyak orang bermanja. Pasalnya segala fasilitas tersedia, dan tinggal klik kita sudah bisa dibantu oleh Iptek tersebut.Begitu pula dalam bidang pendidikan.
Saat berbagai Pembelajaran on line mudah diakses oleh media Internet, seorang siswa maupun guru tidak usah jauh-jauh mencari lieratur maupun bahan pembelajaran. E-Learning menjadikan pembelajaran online.Dengan demikian anggaran untuk membeli bukupun bisa dikurangi. Upaya saling belajar antar sekolah dapat dilakukan dalam pendidikan on line.
Sekolah penulis telah berupaya melakukan pembelajaran E-Learning dan akses Web yang up to date (http://yosefelearning.sch.id/ dan http://styosef.pangudiluhur.org/ )
Semua itu menjadikan pendidikan yang menggairahkan. Namun sudahkan siswa, guru dan orang tua kita selalu mengajak untuk selalu beriteraksi dengan tekhnologi?
Dan bagaimana stakeholder pendidikan menyikapi.Jangan ada kata terlambat, mari kita mulai sejak sekarang dan jangan tunggu besok. Sebab tekhnologi menjadikan pendidikan yang menggairahkan bila kita mengakrabinya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Wednesday, January 16, 2008
Menggugah Nurani Anggota DPR
dimuat di Surat Pembaca harian Joglosemar 15 JAnuari 2008
Wacana pembagian insentif bagi anggota DPR dalam setiap pembuatan UU sungguh sesuatu yang wajib dipertanyakan. Pasalnya ditengah derita begitu banyak masyarakat Indonesia yang tertimpa bencana, masihkah mereka (anggota DPR) merasa kurang mendapatkan fasilitas dari negara?. Mulai dari kesejahteraan, kesehatan, perumahan, alat komunikasi dan lain sebagainya.Memang dalam iklim negara demokratis segala kebijakan yang menyangkut anggaran negara harus ”didiskusikan” dengan wakil rakyat. Namun apakah pantas bila setiap kebijakan mengabaikan kebutuhan yang lebih penting malah mendahulukan kepentingan diri.Bukan saatnya Anggota DPR banyak menuntut.Lebih pantas dan layak mengalokasikan dana insentif diberikan pada daerah bencana. Banyak jalan untuk kegiatan sosial ini. Meski banyak pihak mengatakan sebuah curi start kampanye, toh sebuah pemberian bantuan kepada daerah bencana, meski dengan bendera Partai. Lebih kental suasana empati kemanusiaannya daripada sebuah upaya cari dukungan.Mari kita gugah nurani anggota DPR baik pusat maupun daerah, untuk bisa menyisihkan pendapatanya dari perolehan apapun untuk membantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Ibaratnya mendahulukan kepentingan umum lebih mulia diatas kepentinmgan pribadi maupun kelompok.
FX Triyas Hadi Prihantoro Warga Epistoholik Indonesia
Perilaku yang tertib, patuh dan disiplin
dimuat di Pos Pembaca SOLOPOS 31 Desember 2007
Keterpurukan bangsa ini tidak lepas dari perilaku diri yang kurang terpuji. Kebiasaan melanggar atura, tidak patuh dan disiplin sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Kemungkinan menjadikan negara akan berubah ke arah yang diharapkan masih membutuhkan waktu lama . Sebab memang kita belum mampu dan mau untuk koreksi diri dan menghargai diri sendiri apalagi orang lain.
Suatu contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari yang selalu ditemui. Setiap hari manusia hidup butuh waktu perjalanan menuju ke tempat tugas/ kerja/ sekolah maupun tujuan lain. Lihatlah bagaimana perilaku kita dan saudara yang ditemui di jalan. Sudahkan terjadi saling patuh, disiplin dan tertib serta menghormati antara sesama pemakai jalan.
Aksi nylonong, mau menang sendiri, berhenti sesuka hati, ngebut, tidak berasesoris lengkap merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap aturan berlalu lintas. Meski Aparat selalu mensosialisasikan namun sering kita mengabaikannya
Contoh konkret perilaku yang selalu penulis temui saat mau berangkat kerja. Orang bersepeda dan pengemudi becak tidak pada jalurnya, naik motor tidak berhelm, pengemudi mobil tidak mengenakan sabuk pengaman serta berhenti seenaknya sendiri. Bahkan kebijakan baru ang selalu digembar-gemborkan oleh petugas, bagi para pengemudi motor harus memakai jalur kiri dan menyalakan lampu dianggap sebuah himbauan semu.
Kepatuhan perilaku, tertib dan disiplin memang harus mengakar dan membumi pada hati kita semua. Bila ini masih selalu dianggap angin lalu dan dilanggar,sebuah keniscayaan bangsa lain akan percaya pada bangsa kita. Sebab martabat bangsa akan di akui bila kita sendiri telah mampu melaksanakan dengan sungguh.Saatnya kita benar-benar berubah muali dari diri kita sendiri.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epsitoholik Indonesia
Wacana pembagian insentif bagi anggota DPR dalam setiap pembuatan UU sungguh sesuatu yang wajib dipertanyakan. Pasalnya ditengah derita begitu banyak masyarakat Indonesia yang tertimpa bencana, masihkah mereka (anggota DPR) merasa kurang mendapatkan fasilitas dari negara?. Mulai dari kesejahteraan, kesehatan, perumahan, alat komunikasi dan lain sebagainya.Memang dalam iklim negara demokratis segala kebijakan yang menyangkut anggaran negara harus ”didiskusikan” dengan wakil rakyat. Namun apakah pantas bila setiap kebijakan mengabaikan kebutuhan yang lebih penting malah mendahulukan kepentingan diri.Bukan saatnya Anggota DPR banyak menuntut.Lebih pantas dan layak mengalokasikan dana insentif diberikan pada daerah bencana. Banyak jalan untuk kegiatan sosial ini. Meski banyak pihak mengatakan sebuah curi start kampanye, toh sebuah pemberian bantuan kepada daerah bencana, meski dengan bendera Partai. Lebih kental suasana empati kemanusiaannya daripada sebuah upaya cari dukungan.Mari kita gugah nurani anggota DPR baik pusat maupun daerah, untuk bisa menyisihkan pendapatanya dari perolehan apapun untuk membantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Ibaratnya mendahulukan kepentingan umum lebih mulia diatas kepentinmgan pribadi maupun kelompok.
FX Triyas Hadi Prihantoro Warga Epistoholik Indonesia
Perilaku yang tertib, patuh dan disiplin
dimuat di Pos Pembaca SOLOPOS 31 Desember 2007
Keterpurukan bangsa ini tidak lepas dari perilaku diri yang kurang terpuji. Kebiasaan melanggar atura, tidak patuh dan disiplin sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Kemungkinan menjadikan negara akan berubah ke arah yang diharapkan masih membutuhkan waktu lama . Sebab memang kita belum mampu dan mau untuk koreksi diri dan menghargai diri sendiri apalagi orang lain.
Suatu contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari yang selalu ditemui. Setiap hari manusia hidup butuh waktu perjalanan menuju ke tempat tugas/ kerja/ sekolah maupun tujuan lain. Lihatlah bagaimana perilaku kita dan saudara yang ditemui di jalan. Sudahkan terjadi saling patuh, disiplin dan tertib serta menghormati antara sesama pemakai jalan.
Aksi nylonong, mau menang sendiri, berhenti sesuka hati, ngebut, tidak berasesoris lengkap merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap aturan berlalu lintas. Meski Aparat selalu mensosialisasikan namun sering kita mengabaikannya
Contoh konkret perilaku yang selalu penulis temui saat mau berangkat kerja. Orang bersepeda dan pengemudi becak tidak pada jalurnya, naik motor tidak berhelm, pengemudi mobil tidak mengenakan sabuk pengaman serta berhenti seenaknya sendiri. Bahkan kebijakan baru ang selalu digembar-gemborkan oleh petugas, bagi para pengemudi motor harus memakai jalur kiri dan menyalakan lampu dianggap sebuah himbauan semu.
Kepatuhan perilaku, tertib dan disiplin memang harus mengakar dan membumi pada hati kita semua. Bila ini masih selalu dianggap angin lalu dan dilanggar,sebuah keniscayaan bangsa lain akan percaya pada bangsa kita. Sebab martabat bangsa akan di akui bila kita sendiri telah mampu melaksanakan dengan sungguh.Saatnya kita benar-benar berubah muali dari diri kita sendiri.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epsitoholik Indonesia
Wednesday, December 19, 2007
Hari Raya dalam Kebersamaan
dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng 19 Desember 2007
Tahun ini dalam waktu tenggang 10 hari, bersamaan 3 hari besar yaitu Idul Adha , Natal dan Tahun Baru tidak hanya sebuah peringatan, tapi juga perayaan bagi umat manusia yang mengimaninya.
Sebuah kebersamaan dalam realitas menuju keharmonisan dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sebuah cita-cita negara Integralistik dalam semangat persatuan dan kesatuan menuju negara yang Berbhineka Tunggal Ika merupakan tujuan kita.
Semangat kebersamaan dalam kehidupan negara yang multikulturalistik inilah yang harus kita semai
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Tahun ini dalam waktu tenggang 10 hari, bersamaan 3 hari besar yaitu Idul Adha , Natal dan Tahun Baru tidak hanya sebuah peringatan, tapi juga perayaan bagi umat manusia yang mengimaninya.
Sebuah kebersamaan dalam realitas menuju keharmonisan dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sebuah cita-cita negara Integralistik dalam semangat persatuan dan kesatuan menuju negara yang Berbhineka Tunggal Ika merupakan tujuan kita.
Semangat kebersamaan dalam kehidupan negara yang multikulturalistik inilah yang harus kita semai
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Sunday, December 16, 2007
Dari Gaptek Menuju Melek Iptek
dimuat dalam kolom DIDAKTIKA hal 14 harian KOMPAS 26 Nopember 2007
Dari Gaptek menuju melek Iptek
oleh FX Triyas Hadi Prihantoro
Guru profesional adalah guru yang mau mengembangkan dirinya dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Meski dalam UU Guru dan Dosen dikatakan guru harus mempunyai kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, di era Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi harus mau merubah pola pikir..
Bagaimana merubah pola pikir guru yang sudah kadung (terlanjur) gaptek (gagap tekhnologi) alias katro ini? Mungkinkah secara radikal dan ekstrim bisa melakukan manufer menjadi guru yang berkarakter Iptek?
Melakukan perubahan ini tidak gampang di era iptek seperti sekarang ini. seorang guru harus mempunyai peran ganda sebagai koordinator, fasilitator, pembimbing, pendamping dan mitra belajar bagi siswanya..
Tantangan tersulis tentu saja tingkat pendidikan guru. Berdasarkan data dari Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) tahun 2005-2006., guru yang berijasah Sarjana masih di bawah angka ideal.
Guru Taman Kanak-Kanan (TK) yang berijasah Sarjana misalnya baru 10,69 persen dan Sekolah Luar Biasa (SLB) 44,46persen , SD 16,57 persen , Madrasay Ibtidaiyah 15,29 persen , guru SMP 61,31 persen, Madrasah Tsanawiyah 53,02 persen SMA 83,43 persen dan Madrasah Aliyah 70,79 persen
Tingkat Pendidikan
Bagaimanapun tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam kualitas seorang guru. Itulah sebabnya untuk laolos dalam sertfikasi guru minimal seorang guru sudah sudah memiliki Ijasah Diploma 4 (D4) atau S1. Sebab dengan bekal kesrjanaan dianggap mampu menyesuaikan diri di era Tekhnoligi Informasi dan Komunikasi (.TIK)
Tonggak TIK yang paling fenomenal antara lain adalah dengan hadirnya Internet termasuk ke sekolah-sekolah. Kehadiran Internet telah menggeser menggeser dan merubah pola atau sistem hidup manusia. Dengan Internet sumber informasi menjadi lebih beragam dan luas, tidak semata-mata dari buku teks di sekolah. Jarak dan Waktu bukan lagi kendala yang utama.
Munculnya sistem pembelajaran On-line (E-Learning) dipastikan bakal menjadi proses pendidikan masa depan. Guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas juga menjadi teman diskusi bagi siswa saat belajar melalui internet.
"E-Learning"
Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh mengatakan, pengembangan sistem pembelajaran jarak jauh, terbuka atau berbasis internet (E-Learning) membutuhkan dukungan infrastruktur informatika yang memadai. Sejauh ini, infrastruktur tersebut masih sangat terbatas (Kompas 19/11/07)
Meski demikian memang dalam kemajuan tekhnologi dalam Internet masih ada sisi negatif yang perlu direduksi, semisal munculnya Carding, Hacker; Violence and Gore, Cracker, penipuan, perjudian bahkan Pornografi mudah diakses siapa saja. Karena itu di era E-Learning ini, peran guru masih sangat penting dalam mentransformasikan nilai-nilai etika, sosial dan budaya dalam tatanan kehidupan.
Perubahan nilai sosial yang muncul dari internet menuntut pergerakan dengan cepat menyiapkan infrastruktur dan faktor-faktor yang bersangkutan dengan bidang tersebut. Internet merupakan salah satu jembatan penting untuk masuk dalam kancah dunia. Begitu pula pendidikan Indonesia yang menduia akan terealisir bila di nahkodai oleh guru-guru yang tidak gaptek.
Karena itu bukan hal yang mengherankan bila Depdiknas mau menanamkan modal sebanyai 1 triliun guna membangun pusat sumber atau resources center di sekolah-sekolah untuk mempercepat TIK di tahun 2008 (Kompas 15/11/07).
"Lembaga pendidikan dapat menjadi tempat untuk pembelajaran TIK sehingga nantinya terwujud masyarakat melek digital”, seperti ungkapan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional Lilik Gani. (Kompas 19/11/07).
Guru abad 21
Menjadi guru abad 21 sungguh tidak mudah. Kemampuan dalam bidang tekhnologi, berkomunikasi menjadi suatu keharusan. Ditambah dengan kemampuan berkolaborasi dengan siapa saja yang peduli pendidikan.
Disi lain seorang guru dalam pembelajaran harus mulai mengedepankan problem solving sebab bermasalahan siswa semakin kompleks. Selain itu sisiwa semakin kritis dan kreatif bahkan wawasannya semkin luas dengan terbukanya akses Internet.
Perubahan di era TIK seprti sekarang ini sangat sulit diprediksi sebab skala waktu yang relatif cepat, tepat, singkat dan mudah berubah. Karena itu untuk menghadapi di era digital seperti ini perlu guru - guru yang mumpuni. Antisipasi segala bentuk perubahan diawali dengan menyiapkan guru yang berkualitas.
Tak cukup silabus
Menyadari beratnya tantangan Guru di abad 21 program peningkatan mutu guru tidak lagi cukup hanya sebatas bagaimana membuat silabus atau kerangka pembelajaran dan evaluasi melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Gurupun tidak lagi hanya sibuk mencari sertifikat guna memenuhi syarat sertifikasi
Disisi lain Dirjend PMPTK harus gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran E-Learning yang berbasis Internet. Saat ini sudah banyak sekolah mendapat bantuan perangkat multimedia (Lab Multimedia), namun tanpa menyiapkan guru-gurunya ber IT menjadi hal yang mubasir.
Seorang gurupun harus mulai terbiasa menggunakan komputer jinjing (laptop).Dalam pelatihan/penataran/lokakarya mestinya bukan hal yang aneh jika guru membawa Laptop. Maklum guru harus berubah dari gaptek menuju melek Iptek.
Momentum peringatan hari Guru 25 Nopember 2007 mudah-mudahan awal dari guru untuk berubah
FX Triyas Hadi Prihantoro
Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Dari Gaptek menuju melek Iptek
oleh FX Triyas Hadi Prihantoro
Guru profesional adalah guru yang mau mengembangkan dirinya dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Meski dalam UU Guru dan Dosen dikatakan guru harus mempunyai kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, di era Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi harus mau merubah pola pikir..
Bagaimana merubah pola pikir guru yang sudah kadung (terlanjur) gaptek (gagap tekhnologi) alias katro ini? Mungkinkah secara radikal dan ekstrim bisa melakukan manufer menjadi guru yang berkarakter Iptek?
Melakukan perubahan ini tidak gampang di era iptek seperti sekarang ini. seorang guru harus mempunyai peran ganda sebagai koordinator, fasilitator, pembimbing, pendamping dan mitra belajar bagi siswanya..
Tantangan tersulis tentu saja tingkat pendidikan guru. Berdasarkan data dari Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) tahun 2005-2006., guru yang berijasah Sarjana masih di bawah angka ideal.
Guru Taman Kanak-Kanan (TK) yang berijasah Sarjana misalnya baru 10,69 persen dan Sekolah Luar Biasa (SLB) 44,46persen , SD 16,57 persen , Madrasay Ibtidaiyah 15,29 persen , guru SMP 61,31 persen, Madrasah Tsanawiyah 53,02 persen SMA 83,43 persen dan Madrasah Aliyah 70,79 persen
Tingkat Pendidikan
Bagaimanapun tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam kualitas seorang guru. Itulah sebabnya untuk laolos dalam sertfikasi guru minimal seorang guru sudah sudah memiliki Ijasah Diploma 4 (D4) atau S1. Sebab dengan bekal kesrjanaan dianggap mampu menyesuaikan diri di era Tekhnoligi Informasi dan Komunikasi (.TIK)
Tonggak TIK yang paling fenomenal antara lain adalah dengan hadirnya Internet termasuk ke sekolah-sekolah. Kehadiran Internet telah menggeser menggeser dan merubah pola atau sistem hidup manusia. Dengan Internet sumber informasi menjadi lebih beragam dan luas, tidak semata-mata dari buku teks di sekolah. Jarak dan Waktu bukan lagi kendala yang utama.
Munculnya sistem pembelajaran On-line (E-Learning) dipastikan bakal menjadi proses pendidikan masa depan. Guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas juga menjadi teman diskusi bagi siswa saat belajar melalui internet.
"E-Learning"
Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh mengatakan, pengembangan sistem pembelajaran jarak jauh, terbuka atau berbasis internet (E-Learning) membutuhkan dukungan infrastruktur informatika yang memadai. Sejauh ini, infrastruktur tersebut masih sangat terbatas (Kompas 19/11/07)
Meski demikian memang dalam kemajuan tekhnologi dalam Internet masih ada sisi negatif yang perlu direduksi, semisal munculnya Carding, Hacker; Violence and Gore, Cracker, penipuan, perjudian bahkan Pornografi mudah diakses siapa saja. Karena itu di era E-Learning ini, peran guru masih sangat penting dalam mentransformasikan nilai-nilai etika, sosial dan budaya dalam tatanan kehidupan.
Perubahan nilai sosial yang muncul dari internet menuntut pergerakan dengan cepat menyiapkan infrastruktur dan faktor-faktor yang bersangkutan dengan bidang tersebut. Internet merupakan salah satu jembatan penting untuk masuk dalam kancah dunia. Begitu pula pendidikan Indonesia yang menduia akan terealisir bila di nahkodai oleh guru-guru yang tidak gaptek.
Karena itu bukan hal yang mengherankan bila Depdiknas mau menanamkan modal sebanyai 1 triliun guna membangun pusat sumber atau resources center di sekolah-sekolah untuk mempercepat TIK di tahun 2008 (Kompas 15/11/07).
"Lembaga pendidikan dapat menjadi tempat untuk pembelajaran TIK sehingga nantinya terwujud masyarakat melek digital”, seperti ungkapan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional Lilik Gani. (Kompas 19/11/07).
Guru abad 21
Menjadi guru abad 21 sungguh tidak mudah. Kemampuan dalam bidang tekhnologi, berkomunikasi menjadi suatu keharusan. Ditambah dengan kemampuan berkolaborasi dengan siapa saja yang peduli pendidikan.
Disi lain seorang guru dalam pembelajaran harus mulai mengedepankan problem solving sebab bermasalahan siswa semakin kompleks. Selain itu sisiwa semakin kritis dan kreatif bahkan wawasannya semkin luas dengan terbukanya akses Internet.
Perubahan di era TIK seprti sekarang ini sangat sulit diprediksi sebab skala waktu yang relatif cepat, tepat, singkat dan mudah berubah. Karena itu untuk menghadapi di era digital seperti ini perlu guru - guru yang mumpuni. Antisipasi segala bentuk perubahan diawali dengan menyiapkan guru yang berkualitas.
Tak cukup silabus
Menyadari beratnya tantangan Guru di abad 21 program peningkatan mutu guru tidak lagi cukup hanya sebatas bagaimana membuat silabus atau kerangka pembelajaran dan evaluasi melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Gurupun tidak lagi hanya sibuk mencari sertifikat guna memenuhi syarat sertifikasi
Disisi lain Dirjend PMPTK harus gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran E-Learning yang berbasis Internet. Saat ini sudah banyak sekolah mendapat bantuan perangkat multimedia (Lab Multimedia), namun tanpa menyiapkan guru-gurunya ber IT menjadi hal yang mubasir.
Seorang gurupun harus mulai terbiasa menggunakan komputer jinjing (laptop).Dalam pelatihan/penataran/lokakarya mestinya bukan hal yang aneh jika guru membawa Laptop. Maklum guru harus berubah dari gaptek menuju melek Iptek.
Momentum peringatan hari Guru 25 Nopember 2007 mudah-mudahan awal dari guru untuk berubah
FX Triyas Hadi Prihantoro
Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Sunday, December 09, 2007
Vine, Vidi, Vici kontingen Indonesia
Dimuat di Surat Pembaca Kompas Jateng 6 Desember 2007
Hajat pesta olah raga bangsa serumpun Asia Tenggara (Sea Games) sudah dimulai. Segala persiapan, doa dan restu dari rakyat Indonesia meyertai kepergian kontingen Indonesia.
Harapannya nama baik, keharuman bangsa akan terukir dalam berbagai prestasi yang akan diorehkan. Optimisme dan semangat juang wakil kita tidak diragukan.
Bukanlah nasib yang yang menjadikan kita belum berhasil menorehkan lagi "tinta emas" kejayaan Indonesia. Persiapan, Evaluasi dan Intropeksi dirilah yang menjadi wacana untuk memperbaiki demi "keagungan bangsa".
Ada apa dengan bangsa ini, sebab segala pretasi olah raga seolah-oleh menjauh.Meski demikian kita perlu memberi suport dan apresiasi yang tinggi kepada mereka (atllet) yang sedang berjuang.
Dalam ingatan saya era tahun 1970-1980 an Indonesia selalu menapaki nomer puncak setiap perolehan medali. Sampai surat iini saya tulis,posisi Indonesia masih menjadi juru kunci.
Bagaimana dengan semboyan vine, vidi, vici (Datang, melihat dan menang) Kita ingin merekadatang, melihat dan menang untuk Indonesiaku.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudiluhur Santo Yosef Surakarta
Sampah di Monumen 45 Banjarsari
dimuat Di Pos Pembaca SOLOPOS 23 Nopember 2007
Mencintai lingkungan sendiri kadang sulit dilaksanakan. Mungkin tangan serasa gata bila tidak melakukan semestinya. Demikian halnya nasib monumen kebanggan wong Solo, Monumen 45 Banjarsari.
Apa yang dialami penulis saat bersama dengan pengurus OSIS melakukan aksi pembelajaran Cinta Tanah Air membersihkan Monumes 45 Banjarsari dari segala sampah.
Kegiatan yang dilakukan hari Kamis tanggal 8 Nopember 2007 merupakan bentuk pembelajaran cinta tanah air dan memupuk semangat nasionalisme menjaleng hari Pahlawan 10 Nopember 2007.
Monumen yang membanggakan penuh dengan berbagai coretan dan cat (pilox) yang realitasnya sulit dihapus. Baik itu dengan tinner, bensin maupun diampelas. Belum lagi sekitar monumen banyak seklai sampah berceceran.
Ironisnya, tempat sampah disekitar monumen pun tidak ada. Ini menjadi keraguan penulis bahwa kita memang sulit untuk membuang sampah sembarangan. Sebab tempatnyapun tidak ada.
Hemat penulis, sebuah pengawasan dan kesadaran warga sangat dibutuhkan demi keasrian wilayah ini yang mulai tertata baik. Begitu juga Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) segera memikirkan tempat sampah yang represntatif.
Sebab apa yang sudah direncanakan tanpa dukungan semua pihak akan mubazir. Sebab dari sini akan membentuk karakter warga yang tertib dan disiplin termasuk tidak corat-coret membuang sampah sembarangan
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Hilangnya Kepercayan
dimuat di Surat Pembaca Kompas Jateng 20 Nopember 2007
"Tobat! Ampun! Tak akan mengulang!" Itulah kata yang sering kita dengar dari pelaku kejahatan saat tertangkap basah. Bisakah pertobatan itu dipercaya?
Melihat mimik, raut muka, tangisan, keseriusan berubah menjadikan pemberian maaf sebagai salah satu jalan keluar. Namun bila pengulangan perbuatan yang sama, rasanya jadi jengkel.
Seperti halnya tertangkapnya aktor Roy Marten saat pesta Narkoba di salah satu hotel di Surabaya baru-baru ini. Ironisnya saat dia sedang nerkampanye antinarkoba yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional.
Sebagai figur publik tenhtu pemberitaan terus menerus oleh pencari berita akan gencar menghiasai media massanya. Jadilah kita tak lagi mempercayai pertobatan mereka.
Dalam ingatan publik ada beberapa figur yang tersangkut Narkoba mulai dari Zarima, Doyok, Polo, Revaldo, Gogon, Faris RM dan Roy Marten sendiri.
Seharusnya dari mereka kepercayaan publik guna membantu pemberantasan narkoba terbentuk sebab sebuah pengakuan, keinsafan, pertobatan yang hakiki menjadi bentuk keteladanan bagi masyarakat untuk selalu jauh dari penyalahgunaan narkotika.
Hilangnya kepercayaan menjadikan sesungguhan usaha BNN, Kepolisian dan sekolah melalui pendidikan hanya fatamorgana.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Hajat pesta olah raga bangsa serumpun Asia Tenggara (Sea Games) sudah dimulai. Segala persiapan, doa dan restu dari rakyat Indonesia meyertai kepergian kontingen Indonesia.
Harapannya nama baik, keharuman bangsa akan terukir dalam berbagai prestasi yang akan diorehkan. Optimisme dan semangat juang wakil kita tidak diragukan.
Bukanlah nasib yang yang menjadikan kita belum berhasil menorehkan lagi "tinta emas" kejayaan Indonesia. Persiapan, Evaluasi dan Intropeksi dirilah yang menjadi wacana untuk memperbaiki demi "keagungan bangsa".
Ada apa dengan bangsa ini, sebab segala pretasi olah raga seolah-oleh menjauh.Meski demikian kita perlu memberi suport dan apresiasi yang tinggi kepada mereka (atllet) yang sedang berjuang.
Dalam ingatan saya era tahun 1970-1980 an Indonesia selalu menapaki nomer puncak setiap perolehan medali. Sampai surat iini saya tulis,posisi Indonesia masih menjadi juru kunci.
Bagaimana dengan semboyan vine, vidi, vici (Datang, melihat dan menang) Kita ingin merekadatang, melihat dan menang untuk Indonesiaku.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudiluhur Santo Yosef Surakarta
Sampah di Monumen 45 Banjarsari
dimuat Di Pos Pembaca SOLOPOS 23 Nopember 2007
Mencintai lingkungan sendiri kadang sulit dilaksanakan. Mungkin tangan serasa gata bila tidak melakukan semestinya. Demikian halnya nasib monumen kebanggan wong Solo, Monumen 45 Banjarsari.
Apa yang dialami penulis saat bersama dengan pengurus OSIS melakukan aksi pembelajaran Cinta Tanah Air membersihkan Monumes 45 Banjarsari dari segala sampah.
Kegiatan yang dilakukan hari Kamis tanggal 8 Nopember 2007 merupakan bentuk pembelajaran cinta tanah air dan memupuk semangat nasionalisme menjaleng hari Pahlawan 10 Nopember 2007.
Monumen yang membanggakan penuh dengan berbagai coretan dan cat (pilox) yang realitasnya sulit dihapus. Baik itu dengan tinner, bensin maupun diampelas. Belum lagi sekitar monumen banyak seklai sampah berceceran.
Ironisnya, tempat sampah disekitar monumen pun tidak ada. Ini menjadi keraguan penulis bahwa kita memang sulit untuk membuang sampah sembarangan. Sebab tempatnyapun tidak ada.
Hemat penulis, sebuah pengawasan dan kesadaran warga sangat dibutuhkan demi keasrian wilayah ini yang mulai tertata baik. Begitu juga Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) segera memikirkan tempat sampah yang represntatif.
Sebab apa yang sudah direncanakan tanpa dukungan semua pihak akan mubazir. Sebab dari sini akan membentuk karakter warga yang tertib dan disiplin termasuk tidak corat-coret membuang sampah sembarangan
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Hilangnya Kepercayan
dimuat di Surat Pembaca Kompas Jateng 20 Nopember 2007
"Tobat! Ampun! Tak akan mengulang!" Itulah kata yang sering kita dengar dari pelaku kejahatan saat tertangkap basah. Bisakah pertobatan itu dipercaya?
Melihat mimik, raut muka, tangisan, keseriusan berubah menjadikan pemberian maaf sebagai salah satu jalan keluar. Namun bila pengulangan perbuatan yang sama, rasanya jadi jengkel.
Seperti halnya tertangkapnya aktor Roy Marten saat pesta Narkoba di salah satu hotel di Surabaya baru-baru ini. Ironisnya saat dia sedang nerkampanye antinarkoba yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional.
Sebagai figur publik tenhtu pemberitaan terus menerus oleh pencari berita akan gencar menghiasai media massanya. Jadilah kita tak lagi mempercayai pertobatan mereka.
Dalam ingatan publik ada beberapa figur yang tersangkut Narkoba mulai dari Zarima, Doyok, Polo, Revaldo, Gogon, Faris RM dan Roy Marten sendiri.
Seharusnya dari mereka kepercayaan publik guna membantu pemberantasan narkoba terbentuk sebab sebuah pengakuan, keinsafan, pertobatan yang hakiki menjadi bentuk keteladanan bagi masyarakat untuk selalu jauh dari penyalahgunaan narkotika.
Hilangnya kepercayaan menjadikan sesungguhan usaha BNN, Kepolisian dan sekolah melalui pendidikan hanya fatamorgana.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Friday, November 02, 2007
Membudayakan Tertib dan Disiplin
dimuat di Surat Pembaca KOMPAS Jateng 3 Nov 2007
Bulan November ini Kepolisian Mencanangkan "Bulan Tertib Lalu Lintas". Berbagai operasi rutin dilakukan, baik itu mengenai perlengkapan kendaraan, ketaatan berlalu lintas, maupun penyalaan lampu (light on) pada siang hari bagi pengendara motor.
Pencanangan tertib lalu lintas ini membuktikan bahwa tertib dan disiplin belum menjadi budaya masyarakat Indonesia. Segala pengawasan dan pemberian sanksi tegas menjadikan kita hanya "takut" sementara waktu. Namun bila aparat kendur dalam melaksanakan tugas, kembalilah kita kepada kebiasaan/budaya lama yang tidak tertib dan disiplin.
Perlu membumikan budaya tertib dan disiplin sejak dini. Salah satunya melalui pendidikan di sekolah. Seperti halnya di sekolah penulis, guru piket selalu datang lebih pagi.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Bulan November ini Kepolisian Mencanangkan "Bulan Tertib Lalu Lintas". Berbagai operasi rutin dilakukan, baik itu mengenai perlengkapan kendaraan, ketaatan berlalu lintas, maupun penyalaan lampu (light on) pada siang hari bagi pengendara motor.
Pencanangan tertib lalu lintas ini membuktikan bahwa tertib dan disiplin belum menjadi budaya masyarakat Indonesia. Segala pengawasan dan pemberian sanksi tegas menjadikan kita hanya "takut" sementara waktu. Namun bila aparat kendur dalam melaksanakan tugas, kembalilah kita kepada kebiasaan/budaya lama yang tidak tertib dan disiplin.
Perlu membumikan budaya tertib dan disiplin sejak dini. Salah satunya melalui pendidikan di sekolah. Seperti halnya di sekolah penulis, guru piket selalu datang lebih pagi.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Friday, October 26, 2007
Generasi yang penuh semangat
dimuat dalam Surat Pembaca KOMPAS Jateng 27 Oktober 2007
Sejak 79 tahun yang lampau dikumandangkan semangat Sumpah Pemuda. Layaklah kita harus memetik hasilnya.
Bukalah malah sebaliknya menjadi generasi yang loyo, tidak tahan banting, pemarah, pendendam, putus asa dan tanpa gairah.
Mari kita tunjukkan bahwa kegerasi masa kini adalah generasi yang penuh semangat.
Ajakan untuk membangun bangsa dengan semangat juang tinggi wajib selalu dikobarkan. Janganlah menjadi bangsa yang pemalas dengan selalu menuntut tanpa usaha.
Foundhing Fathers kita telah meletakkan pondasi kebangsaan yang tinggi. Semangat persatuan kesatuan dalam wadah negara Integralistik merupakan harga mati.
Oleh karena itu dengan nilai Sumpah Pemuda kita hilangkan rasa iri, dengki dalam perbedaan yang ada. Sebab semuanya itu akan melunturkan semangat yang telah terbangun.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Sejak 79 tahun yang lampau dikumandangkan semangat Sumpah Pemuda. Layaklah kita harus memetik hasilnya.
Bukalah malah sebaliknya menjadi generasi yang loyo, tidak tahan banting, pemarah, pendendam, putus asa dan tanpa gairah.
Mari kita tunjukkan bahwa kegerasi masa kini adalah generasi yang penuh semangat.
Ajakan untuk membangun bangsa dengan semangat juang tinggi wajib selalu dikobarkan. Janganlah menjadi bangsa yang pemalas dengan selalu menuntut tanpa usaha.
Foundhing Fathers kita telah meletakkan pondasi kebangsaan yang tinggi. Semangat persatuan kesatuan dalam wadah negara Integralistik merupakan harga mati.
Oleh karena itu dengan nilai Sumpah Pemuda kita hilangkan rasa iri, dengki dalam perbedaan yang ada. Sebab semuanya itu akan melunturkan semangat yang telah terbangun.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, October 25, 2007
Budaya sabar dan santun
Dimuat di Pos Pembaca harian SOLOPOS 26/10/07
Lebaran sudah usai. Kini, saatnya jalur ”balik” untuk memulai rutinitas kehidupan di tanah rantau. Upaya untuk segera sampai tujuan untuk melihat suasana rumah/tempat kerja yang lama ditinggalkan semakin terasa. Keinginan yang membara janganlah mengabaikan kepentingan orang lain. Keegoisan kita dalam arus balik bisa menjadi penghalang untuk segera sampai tujuan dengan selamat. Oleh karena itu, marilah kita yang sudah mempersiapkan diri kembali untuk ”balik”, berlatih sabar dan santun di antrean maupun perjalanan. Perjalanan melelahkan dan menjemukan mengharuskan kita tahu diri. Bahwa sesama kita mempunyai tujuan dan kebutuhan yang sama. Budaya antre, sabar, tidak saling mendahului dan istirahat yang cukup bila capai bagi pengguna kendaraan pribadi merupakan keharusan. Bisa jadi bila semua orang yang sedang melaksanakan ritual tahunan ini mengedepankan budaya sabar dan santun. Apalah yang jadi kehendak bersama saling silaturahmi dan saling memaafkan dengan niat hati yang tulus dan ikhlas bukanlah asa belaka. Mohon maaf lahir dan batin.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Lebaran sudah usai. Kini, saatnya jalur ”balik” untuk memulai rutinitas kehidupan di tanah rantau. Upaya untuk segera sampai tujuan untuk melihat suasana rumah/tempat kerja yang lama ditinggalkan semakin terasa. Keinginan yang membara janganlah mengabaikan kepentingan orang lain. Keegoisan kita dalam arus balik bisa menjadi penghalang untuk segera sampai tujuan dengan selamat. Oleh karena itu, marilah kita yang sudah mempersiapkan diri kembali untuk ”balik”, berlatih sabar dan santun di antrean maupun perjalanan. Perjalanan melelahkan dan menjemukan mengharuskan kita tahu diri. Bahwa sesama kita mempunyai tujuan dan kebutuhan yang sama. Budaya antre, sabar, tidak saling mendahului dan istirahat yang cukup bila capai bagi pengguna kendaraan pribadi merupakan keharusan. Bisa jadi bila semua orang yang sedang melaksanakan ritual tahunan ini mengedepankan budaya sabar dan santun. Apalah yang jadi kehendak bersama saling silaturahmi dan saling memaafkan dengan niat hati yang tulus dan ikhlas bukanlah asa belaka. Mohon maaf lahir dan batin.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Monday, October 22, 2007
Seminar, Sertifikat dan Sertifikasi
Dimuat KOMPAS Jateng 9 Oktober 2007
Pelaksanaan penilaian sertifikasi guru secara serentak dilakukan bulan Oktober 2007. Salah satu syarat yang harus dilakukan oleh peserta sertifikasi dengan mengumpulkan bukti berbagai domumen (sertifikat) yang membuktikan keterlibatannya dalam pengembangan diri. Ironisnya, akhir-akhir ini banyak acara seminar diselenggarakan demi sebuah sertfikat yang mendapatkan legalisasi dari Dinas Pendidikan sehingga guru-guru berlomba untuk mengikuti meski pada acara tersebut mereka tidak serius mendengarkan dan hakiki efektif kegunaannya bagi pengembangan dirinya.
Seyogyanya guru profesional tidak demikian. Perlu kajian yang konstruktif berkaitan dengan salah satu bentuk penilaian sertifikasi ini.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Pelaksanaan penilaian sertifikasi guru secara serentak dilakukan bulan Oktober 2007. Salah satu syarat yang harus dilakukan oleh peserta sertifikasi dengan mengumpulkan bukti berbagai domumen (sertifikat) yang membuktikan keterlibatannya dalam pengembangan diri. Ironisnya, akhir-akhir ini banyak acara seminar diselenggarakan demi sebuah sertfikat yang mendapatkan legalisasi dari Dinas Pendidikan sehingga guru-guru berlomba untuk mengikuti meski pada acara tersebut mereka tidak serius mendengarkan dan hakiki efektif kegunaannya bagi pengembangan dirinya.
Seyogyanya guru profesional tidak demikian. Perlu kajian yang konstruktif berkaitan dengan salah satu bentuk penilaian sertifikasi ini.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Pengawasan dan pencegahan dini
Dimuat KOMPAS Jateng tanggal 24 September 2007
Awal bulan September Sekolah kami mendapatkan edaran tentang daftar minuman yang berbahaya. Edaran dikeluarkan di Jakarta tanggal 10 Agustus 2007 oleh Bgrigadir 2 Infantri marinir merupakan pentuk pencegahan dini.
Meski bukan badan resmi dari negara yang melakukan pengawasan dan memberi ijin beredarnya makanan dan minuman di tanah air, namun informasi tersebut mengandung nilai penting.
Dijelaskan ada 42 daftar minuman yang tidak boleh dikonsumsi. Sebab mengandung siklomat penyakit lupus yang merusak antibody dan belum ada obatnya.
Hemat saya ada tidaknya edaran sebagai orang tua kita harus selalu waspada dengan pengawasan dan pencegahan dini. Apapun yang dikonsumsi anak-anak kita meski sudah mendapatkan ijin produksi dari Pemerintah karena belum tentu baik dan sehat. Sebab setiap produk makanan dan minuman kemasan akan mempunyai efek samping.
Sudah banyak kasus keracunan makanan dan minuman di area sekolah.Oleh karena itu menjadi tugas bersama untuk proaktif guna melakukan pengawasan dan pencegahan apapun jenis makanan dan minuman yang beredar di sekitar kita. Sebab sehat itu mahal harganya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Awal bulan September Sekolah kami mendapatkan edaran tentang daftar minuman yang berbahaya. Edaran dikeluarkan di Jakarta tanggal 10 Agustus 2007 oleh Bgrigadir 2 Infantri marinir merupakan pentuk pencegahan dini.
Meski bukan badan resmi dari negara yang melakukan pengawasan dan memberi ijin beredarnya makanan dan minuman di tanah air, namun informasi tersebut mengandung nilai penting.
Dijelaskan ada 42 daftar minuman yang tidak boleh dikonsumsi. Sebab mengandung siklomat penyakit lupus yang merusak antibody dan belum ada obatnya.
Hemat saya ada tidaknya edaran sebagai orang tua kita harus selalu waspada dengan pengawasan dan pencegahan dini. Apapun yang dikonsumsi anak-anak kita meski sudah mendapatkan ijin produksi dari Pemerintah karena belum tentu baik dan sehat. Sebab setiap produk makanan dan minuman kemasan akan mempunyai efek samping.
Sudah banyak kasus keracunan makanan dan minuman di area sekolah.Oleh karena itu menjadi tugas bersama untuk proaktif guna melakukan pengawasan dan pencegahan apapun jenis makanan dan minuman yang beredar di sekitar kita. Sebab sehat itu mahal harganya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Ramadhan yang penuh Rahmat
Dimuat di Kompas Jateng 13 September 2007
Sebentar lagi saudara kita umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa. Bulan yang penuh rahmat dan berkah merupakan bentuk aktualitasi kewajiban perintah agama.
Maka sebagai manusia yang hidup dalam alam pluralitas menghormati, menghargai saudara yang sedang menjalankan ibadah merupakan bentuk toleransi yang didampbakan. .Karena disini diharapkan tumbuh sikap simpati dan empati dengan memberi kesempatan, mendukung dan ikut menjaga kekhusukan pelaksanaan puasa ini.
Rambu-rambu yang meminta kita bersama untuk mentaati aturan yang telah disepakati menjadi kehendak yang baik. Maka dengan niat yang luhur dan hati yang tulus saya ucapkan "selamat menunaikan ibadah puasa saudaraku".
Semoga bulan Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat ini semakin memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab dari rasa menahan segala hawa nafsu maka bangsa kita dapat segera terbebas dari segala keterpurukan.
FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epistoholik Indonesia
Sebentar lagi saudara kita umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa. Bulan yang penuh rahmat dan berkah merupakan bentuk aktualitasi kewajiban perintah agama.
Maka sebagai manusia yang hidup dalam alam pluralitas menghormati, menghargai saudara yang sedang menjalankan ibadah merupakan bentuk toleransi yang didampbakan. .Karena disini diharapkan tumbuh sikap simpati dan empati dengan memberi kesempatan, mendukung dan ikut menjaga kekhusukan pelaksanaan puasa ini.
Rambu-rambu yang meminta kita bersama untuk mentaati aturan yang telah disepakati menjadi kehendak yang baik. Maka dengan niat yang luhur dan hati yang tulus saya ucapkan "selamat menunaikan ibadah puasa saudaraku".
Semoga bulan Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat ini semakin memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab dari rasa menahan segala hawa nafsu maka bangsa kita dapat segera terbebas dari segala keterpurukan.
FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epistoholik Indonesia
Thursday, May 13, 2004
Selamat datang di situs blog saya
sebagai warga Epistoholik Indonesia,
Nama saya, FX Triyas Hadi Prihantoro. Tempat dan tanggal lahir : Ungaran 3 November 1966. Pendidikan akhir di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 1991. Kini berdomisili di Solo dan mengajar di SMA Pangudi Luhur St. Yosef Surakarta. Keluarga : 1 istri dan 2 anak
Saya aktif menulis sejak bekerja namun untuk kalangan sendiri dan mengirimkannya ke media massa baru pada akhir tahun 2003. Debut saya sebagai epistoholik setelah tulisan kolom saya dimuat di harian SOLOPOS, 23 Oktober 2003.
Sejak itu mengamuk menulis di media massa, baik untuk surat kabar terbitan Solo seperti Bengawan Pos dan Solopos, mau pun surat kabar Yogyakarta seperti Bernas dan KOMPAS (edisi Jawa Tengah dan Yogyakarta) Koran Sore WAWASAN, Koran Tempo, SUARA MERDEKA, Majalah Hidup, Educare, Matabaca, BISMA. Kini tiap minggu hampir minimal ada satu media yang memuat tulisan saya. Kepuasan batin bila dimuat memang tak ternilai harganya. Hobi saya selain menulis adalah melakukan perjalanan wisata (travelling)
Untuk Anda pembaca yang budiman, dan sesama kaum epistoholik, saya haturkan selamat menjelajahi album surat-surat pembaca yang saya tulis dalam situs ini.
Dan pula dapat melihat dalam aktifitas saya sebagai admin sekolah tempat mengajar: http://styosef.pangudiluhur.org
Silakan memberi komentar, masukan dan saran, dengan mengklik nama saya di bawah ini. Atau mengirimkannya ke email : http://www.blogger.com/triyas@telkom.net. atau triyas@yosef-slo.sch.id Saya akan selalu menyambutnya dengan terbuka dan penuh kegembiraan. Terima kasih.
Hormat dan salam saya,
Solo, 9 Mei 2004
FX Triyas Hadi Prihantoro
---------------
(17)ATRAKSI "TOPENG MONYET"
Dimuat di kolom Bebas bicara Harian Bernas, tanpa data tanggal.
Dung..cik..cik..dung…cik, seorang pengendara sepeda dengan seekor monyet didepan beserta barang-barang yang menjadi boncengannya, melewati sebuah perkampungan. Banyak anak-anak kecil berlari-lari mengikuti kemana dia berkeliling kampung, selagi bisa diikuti dan tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Ketika ada seseorang menanggap, maka anak-anak kecil dan beberapa orang dewasa serta keluarga penanggap mengelilingi cara atraksi dadakan tersebut. Dung..dung..cik..dung..cik, begitu suara musik pengiring dan kemudia si pemilik monyet menyuruh monyetnya mengenakan topeng dan lalu berkata " Si Bejo sedang belanja kepasar", kemudian " Si Bejo… naik sepeda mau ke kantor", dan pada saat si monyet yang bernama Bejo tersebut melakukan atraksi maka penonton yang terdiri dari anak-anak pun bersorak-sorak kegirangan memberi aplaus. Dan begitu seterusnya sampai atraksi yang dilakukan si Bejo selesai.
Atraksi si Bejo adalah atraksi sesaat yang dinikmati oleh masyarakat Kampung. Namun apakah atraksi kampanye calon presiden juga demikian? Tentu harapannya tidak, karena akan berimplikasi 5 tahun kedepan.
Tulisan ini terinspirasi oleh tayangan sebuah stasiun TV Swasta ketika 2 capres saling berdebat yang di fasilitasi oleh sebuah organisasi kepemudaan terbesar (KNPI) baru- baru ini. Dimana saat panelis bertanya kepada masing-masing capres daan saat capres menjawab, serta belum selesai menjawab sudah terdengar gemuruh para penonton memberi aplalus dengan tepuk tangan dan sorakan.(padahal mereka yang hadir rata-rata berpendidikan) Sampai-sampai caapres yang ditanya menghentikan sesaat argumentasinya demi menunggu ketenangan suasana.
Sebegitukah sebuah acara debat capres yang menjadi acara unggulan beberapa stasiun TV saat ini, yang bagaikan sebuah tontonan/hiburan sesaat. Tentu tidak?!
Pemilu Presiden dan wakil bukanlah sebuah atraksi "topeng monyet", setelah selesai pentas, kemudian pergi mencari rejeki di tempat lain, kemudian selesai. Bukan juga seperti si Bejo yang memakai topeng yang menjadikan dia tampan, baik hati, dermawan, peduli kepada orang lain, namun juga hanya sesaat, karena toh kemudian topeng akan di lepas dan kelihatan aslinya si Bejo "monyet".
Mari kita kritisi setiap tindakan, kata-kata, janji, harapan, yang tidak sejalan dengan realita. Jangan sampa janji yang di ucapkan oleh para capres bersama tim suksesnya hanya sebuah fatamorgana di padang pasir.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Warga EI (Epistoholik Indonesia)
http://epsia.blogspot.com
---------------
(16) PEMBELAJARAN SEKS BAGI PELAJAR
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng-Jogia), 24/5/2004
Berkembangnya media informasi menambah semakin banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pelajar, orangtua dan guru. Pembagian usia bagi pelajar, yang merupakan kaum remaja akan mengalami banyak perubahan, baik fisik, psikis, maupun sosial. Salah satu perkembangan/hasrat yang cukup sulit dikendalikan adalah hasrat dorongan seksual.
Banyaknya kasus pelecehan seksual sampai perkosaan yang menimpa pelajar membuktikan bahwa di Indonesia pendidikan seks dianggap masih tabu.
Dalam era globalisasi dan didukung pesatnya kemajuan teknologi, khususnya bidang informasi dan komunikasi; berimplikasi kepada perubahan budaya perilaku manusia, khususnya kaum remaja. Salah satu budaya yang paling mudah untuk mempengaruhi kaum remaja adalah pergaulan bebas, seks bebas, selain pengaruh budaya lain yang tidak kalah dahsyatnya, misalnya penyalahgunaan narkoba.
Untuk mengantisipasi minimnya pengetahuan seksualitas bagi kaun remaja yang umumnya kaum pelajar, perlu format pendidikan seks yang baik dan benar Paradigma lama bahwa pendidikan seks itu tabu harus diubah dengan paradigma baru bahwa pendidikan seks itu penting diberikan sejak dini.
Dengan materi, silabus, serta kerangka pembelajaran yang dimasukkan dalam proses belajar mengajar, baik untuk selcolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA), bahkan untuk anak SD, sebenarnya sudah layak untuk mengetahui apa itu seks, meski dengan kedalaman materi yang disesuaikan dengan tingkat kedewasaan siswa.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
Pengajar SMA Pangudi Luhur St. Yosef
Jalan Adisutjipto, Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
--------------------
(15) SAMA SAMA SALAH.........
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian SOLOPOS (Solo), 24/5/2004
Jeritan hati dari pengalaman. Saudara Moh Kusnan Hidayat (SOLOPOS 11/5) pada. bulan Mei 1998 silam ketika. masih kuliah di Malang tidak salah. Hampir semua elemen mahasiswa waktu itu turun ke jalan dan mengalami tindakan represif aparat keamanan (polisi/tentara). Dan memang sakit hati dan raga ini. Namun, kejadian. itu ternyata berulang?ulang sampai saat ini. . Peristiwa berdarah?darah di negeri ini seolah?olah tiada hentinya. Masalah timbul silih?berganti bagaikan air mengalir.
Mau dibawa kemanakah negeri ini? Budaya mencati kebenaran dan saling menyaahkan seolah nierupakan penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Virus maupun bakteri provokator seakan-akan menggerogoti ide persatuan dan kesatuan para founding fathers kita. Bila. mereka. masih bisa merasakan. dan melihat tentu akan menangis tiada henti. Mengapa ini bisa. terjadi?
Untuk itu marilah kita introspeksi diri karena hakikatnya kita sama?sama salah. Di satu pihak tidak bisa mengendalikan diri, baik jiwa maupun sikap, dan di lain pihak juga. terlalu arogan serta tidak mau disalahkan. Janganlah kita mudah untuk dimasuki virus provokator, karena virus itu bisa masuk kemana saia lewat apa saia (masyarakat mahasiswa, aparat) melalui penyusupan yang kita sendiri kadang tidak bisa merasakan.
Marilah kita bersama-sama melakukan vaksinasi kekebalan dengan menumbuhkan semangat kebangsaan, rasa cinta Tanah Air yang tinggi serta mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi/kelompok. Masak lidi saja bisa. bersatu, kita malah bercerai?berai ?
Para tokoh masyarakat, agama, Ormas, mahasiswa, politik, pendidikan dan siapa saja berilah keteladanan agar dapat dijadikan contoh panutan mereka yang mengagurnimu.
Kalau masing?masing pihak bisa melihat pengalaman sejarah dengan mengakui kesalahan, maka tindakan kekerasan yang akhir?akliir ini terjadi lagi akan berkurang bahkan hilang.
Mari kita eliminasi kekerasan dan kita dukung kedamaian. Semoga !
FX Tryas Hadi Prihantoro
Guru SMA PL St.Josef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
---------------------------
(14) YANG DIKUYO-KUYO YANG DIPERCAYA
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Bengawan Pos (Solo), 21/5/2004
Fenomena "dikuyo?kuyo" di Indonesia bukan hal yang baru. Dikuyo?kuyo dapat diartikan tidakdisenangi atau mau disingkirkan, dipercaya, dibenci, tidak diakui keberadaannya serta masih banyak lagi arti dan maksudnya tergantung konotasi bahasanya.
Dalam sejarah perpolitikan, sebelum Megawati menjadi presiden RL dia pernah di kuyo?kuyo oleh rezim Orde Baru. Dari fenomena tersebut akhirnya mendapat simpati rakyat Indonesia, sehingga Pemilu 1999 PDI Perjuangan mendapatkan suara terbanyak dari48 partai politik peserta pemilu waktu itu. Sudah sewajarnya bilapartai pemenang pemilu pemimpinnyar menjadi presiden.Namun karena adanya fenoniena PorosTengah akhirnya Mega gagal untuk menjadi Presiden. Maklum waktu itu yang berhak memilih Presiden dan wakilnya adalahMPR.
Awal tahun 2003 muncul fenomena kuyo?kuyo baru dalam bidang entertainment Indonesia. Inul sebagai Sang fenomena tidak diterima oleh para seniornya karena goyang ngebory ang dianggap erotis. Namun karena kuyo?kuyo dari para penyanyi senior dangdut.malah justru mendapat simpati dari seniman lain, misalnya dari ketua PARSI (Persatuan Artis Sinetron Indonesia), Anwar Fuady bahkan juga tokoh?tokoh politik banyak yang membela Inul, termasuk juga masyarakat Indonesia pada umumnya.
Menjelang Pemilu 2004 inipun terjadi juga sebuah fenomena, dimana seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dianggap sebagai anak kecil ketika mengkampanyekan pemilu damai (dalam jabatannya sebagai Menko POLKAM waktu itu) oleh suami Presiden Megawati.
Akhirnya SBY mengundurkan diri sebagai Menko POLKAM. Dan kemunduran ini banyak menyita perhatian para kuli tinta, sehingga hampir semua media massa Indonesia baik cetak mau pun elektronik memberitakan fenomena ini sebagai berita utama maupun opini.
Kasus kuyo?kuyo SBY justru menjadikan partainya sebagai peserta pemilu 2004 yang baru (Partai Demokrat), dalam penghitungan suara banyak mendapat simpati/kepercayaan rakyat (5 besar perolehan suara Nasional). Hal ini juga Partai Demokrat salah satu partai yang lolos electoral threshold, untuk menggolkan calon presidennya yaitu SBY sendiri.
Demikian juga ketika konvensi Partai GOLKAR untuk memilih calon presidennya, fenomena terpilihnya Wiranto sebagai calonnya karena perolehan suaranya yang banyak, menunjukkan bahwa banyak sekali terjadi kejutan. Banyak orang "kecele", karena prediksinya meleset.
Fenomena semacam ini menjadi menarik, karena para tokoh tersebut tidak melihat sejarah perpolitikan Indonesia. Semakin disingkiri semakin mendapat simpati/kepercayaan rakyat. Apalagi Pemilihan Presiden dan wakilnya sekarang langsung dipilih rakyat, maka usaha koalisi akan sia?sia. Rakyat sekarang sudah cerdas dan tidak bisa dibodohi lagi. Maka saemakin sering melakukan tindakan/usaha untuk memojokkan seseorang, semakin sering menjadi pemberitaan media massa, semakin pula dicintai rakyat.
Oleh karena itu pemilihan pasangan presiden dan wakil tanggal 5 Juli 2004 nanti menjadikan alat bukti bahwa seorang tokoh yang semakin dikuyo?kuyo oleh Pemerintah/tokoh/organisasi/kelompok lain akan "mungkin" semakin mendapat kepercayaan rakyat. Biarkan para calon presiden yang berminat diberi kesempatan, karena alam (rakyat)lah yang menyeleksi.
Namun yang tetap menjadi harapan kita semua agar pembelajaran politik bangsa Indonesia saat ini dapat berjalan dengan semestinya. Mari sukseskan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung.
FX Tryas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA Pangudi Luhur Santo Josef
Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
----------------------------
(13) BUDAYA "ASBUN"
Dimuat di kolom Bebas Bicara Harian BERNAS (Yogyakarta), 14/5/2004
DALAM suatu perbincangan di warung makan/tempat publik/dalam bus/halte (skup kecil) sambil istirahat untuk menunggu disajikan makanan/bus datang ataupun aktivitas yang lain sering terjadi perbincangan antara beberapa orang yang duduk bersebelahan mengenai suatu hal yang aktual, bisa politik, ekonomi/sosial/ budaya maupun hankam.
Perbincangan yang terjadi sering bisa "gayeng", karena akan muncul "kesombongan diri", yang pada akhirnya lahir kritikan?kritikan baik kepada pemimpin maupun sesama. Akhirnya di suatu perbincangan muncul tanggapan atau usul dari "mereka", yang suka mengkritik bila diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas bagaimana sikap yang diambil ? Biasanya akan mengelak bila diberi tanggungjawab, dengan berbagai alasan.
Dalam skup yang lebih mapan, misal dalam rapat?rapat di tingkat RT/RW kantor maupun organisasi?organisasi yang lain, sering muncul usulan?usulan dari orang yang idealis.
Usulan yang disampaikan umumnya sangat bagus dan mereka yang hadir dalam rapat maupun pemimpin rapat banyak yang memuji usulan itu. Lagi?lagi ketika "mereka" yang usul diberi kesempatan untuk mentackle rencana kegiatan yang dirapatkan, bisa sebagai penanggungjawab atau pelaksana, biasanya juga akan menolak. Alasannya pasti macam?macam juga (sibuk, repot, masih ada yang lebih mampu dll).
Banyak bicara dalam suatu pertemuan itu sering menjadi ciri orang?orang yang punya keinginan/ambisi. Namun kadang?kadang apa yang diusulkan/dibicarakan isinya tidak ada, bagaikan tong kosong berbunyi nyaring atau air beriak tanda tak dalam karena tidak berdasar fakta dan realita. Budaya "Asbun", itulah yang pantas diberikan kepada "mereka".
Demikian juga skup yang lebih besar (negara) pelaksanaan tahap ke 4 pemilu, yaitu masa kampanye di mana jurkam parpol maupun DPD (Dewan Perwakilan Daerah) pasti menyampaikan program?program yang baik dan bermutu. Hampir di setiap sudut desa/ kelurahan di kota maupun tempat strategis lainnya banyak pamflet/ spanduk yang memprogandakan idealis parpol baik berupa visi maupun misi masing?masing.
Pada saat kampanye para jurkam "tidak ada" yang berbicara mengenai hambatan/kedlala yang terjadi bila mereka terpilih, yang ada harapan-harapan/janji?janji yang kelihatan "indah" didengar. Janji/pidato politik hanyalah sebuah "janji semu", karena janji tersebut sering berulangkali didengar minimal setiap 5 tahun sekali di Republik ini.
Toh akhirnya ketika "mereka" sudah duduk di kursi empuk "legislatif”, lupa akan janjinya saat kampanye. Yang diharapkan dari pemilih adalah kesediaan berbuat bermanfaat yang lebih banyak (willingness to do more). Aktivitas kongkrit dengan bukti aktuallah yang menjadi harapan, khususnya setelah terpilih.
Budaya "Asbun" memang seringkali jadi suguhan yang menarik pada masa kampanye lalu. Kalau itu masih terus melekat pada para caleg, maka sangat layaklah banyak pihak menyebut "politisi busuk". Namun kita hanya bisa berharap agar, budaya asbun jangan dijadikan legitimasi bagi calon pemimpin/ penentu kebijakan kita 5 tahun mendatang.
Sekarang, setelah penetapan calon anggota legislatif, dan mereka yang duduk di kursi empuk kita tunggu janji-janjinya yang telah diobralkan kemarin saat kampanye.
Masyarakat sudah kritis, banyak catatan?catatan yang menjadi PR anggota baru dewan kita yang terhormat. Mari kita tunggu bukti kata-kata mereka. Jangan sampai ada bantahan memang lidah tak bertulang.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA PL ST Yosef
Jl. Adisucipto Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
---------------------------
(12) PENGANGGURAN, PR TAK PERNAH SELESAI
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng-Jogia), 14/5/2004
Bila membaca dan mencermati indikator penduduk miskin berkurang di Jawa Tengah, yang merupakan perbandingan antara tahun 1996,1999, 2002 dari Kompas edisi Jateng dan Jogja 5 Mei 2004, ternyata cukup melegakan. Meski dalam perjalananan angka penurunan itu tak terlalu drastis, yang jelas tiap daerah mengalami penurunan meski ada juga yang meningkat.
Dari keseluruhan wilayah Jawa Tengah, jelas ada penururan yang cukup signifikan. Sebagai contoh tahun 1996 sebesar 21,6 persen, tahun 1999 sebesar 28,5 persen, dan tahun 2002 sebcsar 23,1 persen. Jadi, antara tahun 1999?2002 persentase penduduk miskin di Jawa Tengah turun 5,4 persen.
Penduduk miskin berkurang dapat pula diartikan angka pengangguran yang berkurang, namun betulkah realita di lapangan menjawab semua itu ? Hal ini saya pertanyakan karena ada sedikit pengalaman yang mengusik pikiran berdasrkan suatu perjalanan sehari.
Pada 3 Mei yang lalu, saya mengadakan perjalanan dari Kota Solo ke Ambarawa dengan menggunakan bus ekonomi. Yang mengusik pikiran saya adalah ketika bus berhenti di setiap sub terminal. Ketika bus berhenti, naik pula beberapa. orang minimal tiga orang, masing?masing menawarkan jasa maupun barang. Untuk jasa biasanya para pengamen dan barang adalah penjual makanan dan minuman.
Saya mencoba menghitung para pengasong dan penjual jasa lainnya dari satu terminal besar yang satu dengan terminal besar yang lain melewati tiga sub terminal. Setiap berhenti, minimal ada tiga orang selain penumpang yang menawarkan jasa atau dagangan, maka perjalanan antara Solo ?Bawen ada sekitar 68 orang yang berprofesi sebagai pengasong jasa dan dagangan. Ini untuk satu bus yang satu arah ke Semarang, belum bus yang di depan dan belakang yang menuju Solo, mungkin dapat dihitung sendiri.
Dari gambaran itu jelas sekali bah'wa betapa masyarakat masih sulit mencari pekerjaan tetap dan berpenghasilan pasti. Mereka mau bekerja apa saja demi menyambung hidup. Apakah untuk kelompok ini dapat dikategorikan orang yang bekerja, kaum miskin, atau sebagai pengangguran aktif. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan berbagai tunjangan layaknya pekerja tetap.
Di satu sisi, masih banyak orang muda yang berstatus tidak bekerja atau penganggur yang hanya melamar kerja ke sana ke mari, sekolah terus menerus tanpa dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat.
Itulah fenomena perjalanan saya melewati lima wilayah kota dan kabupaten, yaitu Surakarta, Sukoharjo, Boyolali, Salatiga, dan Semarang. Dan, kalau kita lihat indikator penduduk miskin di lima kota tersebut kurun waktu 1999?2002, Kota Surakarta (turun 3 persen), Kabupaten Sukoharjo (naik 3,5 persen), Kabupaten Boyolali (turun 6,1 persen), Salatiga (naik 4,7 persen), dan Semarang (turun 5,5 persen).
Ada dua daerah yang mengalami kenaikan dan tiga daerah yang mengalami penurunan. Angka?angka yang bersumber dari BPS Jawa Tengah itu dapat dijadikan PR (pekerjaan rumah) para kepala daerah, khususnya kota dan kabupaten.
Pengangguran merupakan PR dari pemerintah kota dan kabupaten sekaligus juga provinsi yang tak kunjung selesai.
FX TRIYAS HADI P
Pengajar SMA Pangudi Luhur St Yosef
Jalan Adi Sucipto Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
---------------------
sebagai warga Epistoholik Indonesia,
Nama saya, FX Triyas Hadi Prihantoro. Tempat dan tanggal lahir : Ungaran 3 November 1966. Pendidikan akhir di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 1991. Kini berdomisili di Solo dan mengajar di SMA Pangudi Luhur St. Yosef Surakarta. Keluarga : 1 istri dan 2 anak
Saya aktif menulis sejak bekerja namun untuk kalangan sendiri dan mengirimkannya ke media massa baru pada akhir tahun 2003. Debut saya sebagai epistoholik setelah tulisan kolom saya dimuat di harian SOLOPOS, 23 Oktober 2003.
Sejak itu mengamuk menulis di media massa, baik untuk surat kabar terbitan Solo seperti Bengawan Pos dan Solopos, mau pun surat kabar Yogyakarta seperti Bernas dan KOMPAS (edisi Jawa Tengah dan Yogyakarta) Koran Sore WAWASAN, Koran Tempo, SUARA MERDEKA, Majalah Hidup, Educare, Matabaca, BISMA. Kini tiap minggu hampir minimal ada satu media yang memuat tulisan saya. Kepuasan batin bila dimuat memang tak ternilai harganya. Hobi saya selain menulis adalah melakukan perjalanan wisata (travelling)
Untuk Anda pembaca yang budiman, dan sesama kaum epistoholik, saya haturkan selamat menjelajahi album surat-surat pembaca yang saya tulis dalam situs ini.
Dan pula dapat melihat dalam aktifitas saya sebagai admin sekolah tempat mengajar: http://styosef.pangudiluhur.org
Silakan memberi komentar, masukan dan saran, dengan mengklik nama saya di bawah ini. Atau mengirimkannya ke email : http://www.blogger.com/triyas@telkom.net. atau triyas@yosef-slo.sch.id Saya akan selalu menyambutnya dengan terbuka dan penuh kegembiraan. Terima kasih.
Hormat dan salam saya,
Solo, 9 Mei 2004
FX Triyas Hadi Prihantoro
---------------
(17)ATRAKSI "TOPENG MONYET"
Dimuat di kolom Bebas bicara Harian Bernas, tanpa data tanggal.
Dung..cik..cik..dung…cik, seorang pengendara sepeda dengan seekor monyet didepan beserta barang-barang yang menjadi boncengannya, melewati sebuah perkampungan. Banyak anak-anak kecil berlari-lari mengikuti kemana dia berkeliling kampung, selagi bisa diikuti dan tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Ketika ada seseorang menanggap, maka anak-anak kecil dan beberapa orang dewasa serta keluarga penanggap mengelilingi cara atraksi dadakan tersebut. Dung..dung..cik..dung..cik, begitu suara musik pengiring dan kemudia si pemilik monyet menyuruh monyetnya mengenakan topeng dan lalu berkata " Si Bejo sedang belanja kepasar", kemudian " Si Bejo… naik sepeda mau ke kantor", dan pada saat si monyet yang bernama Bejo tersebut melakukan atraksi maka penonton yang terdiri dari anak-anak pun bersorak-sorak kegirangan memberi aplaus. Dan begitu seterusnya sampai atraksi yang dilakukan si Bejo selesai.
Atraksi si Bejo adalah atraksi sesaat yang dinikmati oleh masyarakat Kampung. Namun apakah atraksi kampanye calon presiden juga demikian? Tentu harapannya tidak, karena akan berimplikasi 5 tahun kedepan.
Tulisan ini terinspirasi oleh tayangan sebuah stasiun TV Swasta ketika 2 capres saling berdebat yang di fasilitasi oleh sebuah organisasi kepemudaan terbesar (KNPI) baru- baru ini. Dimana saat panelis bertanya kepada masing-masing capres daan saat capres menjawab, serta belum selesai menjawab sudah terdengar gemuruh para penonton memberi aplalus dengan tepuk tangan dan sorakan.(padahal mereka yang hadir rata-rata berpendidikan) Sampai-sampai caapres yang ditanya menghentikan sesaat argumentasinya demi menunggu ketenangan suasana.
Sebegitukah sebuah acara debat capres yang menjadi acara unggulan beberapa stasiun TV saat ini, yang bagaikan sebuah tontonan/hiburan sesaat. Tentu tidak?!
Pemilu Presiden dan wakil bukanlah sebuah atraksi "topeng monyet", setelah selesai pentas, kemudian pergi mencari rejeki di tempat lain, kemudian selesai. Bukan juga seperti si Bejo yang memakai topeng yang menjadikan dia tampan, baik hati, dermawan, peduli kepada orang lain, namun juga hanya sesaat, karena toh kemudian topeng akan di lepas dan kelihatan aslinya si Bejo "monyet".
Mari kita kritisi setiap tindakan, kata-kata, janji, harapan, yang tidak sejalan dengan realita. Jangan sampa janji yang di ucapkan oleh para capres bersama tim suksesnya hanya sebuah fatamorgana di padang pasir.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Warga EI (Epistoholik Indonesia)
http://epsia.blogspot.com
---------------
(16) PEMBELAJARAN SEKS BAGI PELAJAR
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng-Jogia), 24/5/2004
Berkembangnya media informasi menambah semakin banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pelajar, orangtua dan guru. Pembagian usia bagi pelajar, yang merupakan kaum remaja akan mengalami banyak perubahan, baik fisik, psikis, maupun sosial. Salah satu perkembangan/hasrat yang cukup sulit dikendalikan adalah hasrat dorongan seksual.
Banyaknya kasus pelecehan seksual sampai perkosaan yang menimpa pelajar membuktikan bahwa di Indonesia pendidikan seks dianggap masih tabu.
Dalam era globalisasi dan didukung pesatnya kemajuan teknologi, khususnya bidang informasi dan komunikasi; berimplikasi kepada perubahan budaya perilaku manusia, khususnya kaum remaja. Salah satu budaya yang paling mudah untuk mempengaruhi kaum remaja adalah pergaulan bebas, seks bebas, selain pengaruh budaya lain yang tidak kalah dahsyatnya, misalnya penyalahgunaan narkoba.
Untuk mengantisipasi minimnya pengetahuan seksualitas bagi kaun remaja yang umumnya kaum pelajar, perlu format pendidikan seks yang baik dan benar Paradigma lama bahwa pendidikan seks itu tabu harus diubah dengan paradigma baru bahwa pendidikan seks itu penting diberikan sejak dini.
Dengan materi, silabus, serta kerangka pembelajaran yang dimasukkan dalam proses belajar mengajar, baik untuk selcolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA), bahkan untuk anak SD, sebenarnya sudah layak untuk mengetahui apa itu seks, meski dengan kedalaman materi yang disesuaikan dengan tingkat kedewasaan siswa.
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
Pengajar SMA Pangudi Luhur St. Yosef
Jalan Adisutjipto, Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
--------------------
(15) SAMA SAMA SALAH.........
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian SOLOPOS (Solo), 24/5/2004
Jeritan hati dari pengalaman. Saudara Moh Kusnan Hidayat (SOLOPOS 11/5) pada. bulan Mei 1998 silam ketika. masih kuliah di Malang tidak salah. Hampir semua elemen mahasiswa waktu itu turun ke jalan dan mengalami tindakan represif aparat keamanan (polisi/tentara). Dan memang sakit hati dan raga ini. Namun, kejadian. itu ternyata berulang?ulang sampai saat ini. . Peristiwa berdarah?darah di negeri ini seolah?olah tiada hentinya. Masalah timbul silih?berganti bagaikan air mengalir.
Mau dibawa kemanakah negeri ini? Budaya mencati kebenaran dan saling menyaahkan seolah nierupakan penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Virus maupun bakteri provokator seakan-akan menggerogoti ide persatuan dan kesatuan para founding fathers kita. Bila. mereka. masih bisa merasakan. dan melihat tentu akan menangis tiada henti. Mengapa ini bisa. terjadi?
Untuk itu marilah kita introspeksi diri karena hakikatnya kita sama?sama salah. Di satu pihak tidak bisa mengendalikan diri, baik jiwa maupun sikap, dan di lain pihak juga. terlalu arogan serta tidak mau disalahkan. Janganlah kita mudah untuk dimasuki virus provokator, karena virus itu bisa masuk kemana saia lewat apa saia (masyarakat mahasiswa, aparat) melalui penyusupan yang kita sendiri kadang tidak bisa merasakan.
Marilah kita bersama-sama melakukan vaksinasi kekebalan dengan menumbuhkan semangat kebangsaan, rasa cinta Tanah Air yang tinggi serta mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi/kelompok. Masak lidi saja bisa. bersatu, kita malah bercerai?berai ?
Para tokoh masyarakat, agama, Ormas, mahasiswa, politik, pendidikan dan siapa saja berilah keteladanan agar dapat dijadikan contoh panutan mereka yang mengagurnimu.
Kalau masing?masing pihak bisa melihat pengalaman sejarah dengan mengakui kesalahan, maka tindakan kekerasan yang akhir?akliir ini terjadi lagi akan berkurang bahkan hilang.
Mari kita eliminasi kekerasan dan kita dukung kedamaian. Semoga !
FX Tryas Hadi Prihantoro
Guru SMA PL St.Josef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
---------------------------
(14) YANG DIKUYO-KUYO YANG DIPERCAYA
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Bengawan Pos (Solo), 21/5/2004
Fenomena "dikuyo?kuyo" di Indonesia bukan hal yang baru. Dikuyo?kuyo dapat diartikan tidakdisenangi atau mau disingkirkan, dipercaya, dibenci, tidak diakui keberadaannya serta masih banyak lagi arti dan maksudnya tergantung konotasi bahasanya.
Dalam sejarah perpolitikan, sebelum Megawati menjadi presiden RL dia pernah di kuyo?kuyo oleh rezim Orde Baru. Dari fenomena tersebut akhirnya mendapat simpati rakyat Indonesia, sehingga Pemilu 1999 PDI Perjuangan mendapatkan suara terbanyak dari48 partai politik peserta pemilu waktu itu. Sudah sewajarnya bilapartai pemenang pemilu pemimpinnyar menjadi presiden.Namun karena adanya fenoniena PorosTengah akhirnya Mega gagal untuk menjadi Presiden. Maklum waktu itu yang berhak memilih Presiden dan wakilnya adalahMPR.
Awal tahun 2003 muncul fenomena kuyo?kuyo baru dalam bidang entertainment Indonesia. Inul sebagai Sang fenomena tidak diterima oleh para seniornya karena goyang ngebory ang dianggap erotis. Namun karena kuyo?kuyo dari para penyanyi senior dangdut.malah justru mendapat simpati dari seniman lain, misalnya dari ketua PARSI (Persatuan Artis Sinetron Indonesia), Anwar Fuady bahkan juga tokoh?tokoh politik banyak yang membela Inul, termasuk juga masyarakat Indonesia pada umumnya.
Menjelang Pemilu 2004 inipun terjadi juga sebuah fenomena, dimana seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dianggap sebagai anak kecil ketika mengkampanyekan pemilu damai (dalam jabatannya sebagai Menko POLKAM waktu itu) oleh suami Presiden Megawati.
Akhirnya SBY mengundurkan diri sebagai Menko POLKAM. Dan kemunduran ini banyak menyita perhatian para kuli tinta, sehingga hampir semua media massa Indonesia baik cetak mau pun elektronik memberitakan fenomena ini sebagai berita utama maupun opini.
Kasus kuyo?kuyo SBY justru menjadikan partainya sebagai peserta pemilu 2004 yang baru (Partai Demokrat), dalam penghitungan suara banyak mendapat simpati/kepercayaan rakyat (5 besar perolehan suara Nasional). Hal ini juga Partai Demokrat salah satu partai yang lolos electoral threshold, untuk menggolkan calon presidennya yaitu SBY sendiri.
Demikian juga ketika konvensi Partai GOLKAR untuk memilih calon presidennya, fenomena terpilihnya Wiranto sebagai calonnya karena perolehan suaranya yang banyak, menunjukkan bahwa banyak sekali terjadi kejutan. Banyak orang "kecele", karena prediksinya meleset.
Fenomena semacam ini menjadi menarik, karena para tokoh tersebut tidak melihat sejarah perpolitikan Indonesia. Semakin disingkiri semakin mendapat simpati/kepercayaan rakyat. Apalagi Pemilihan Presiden dan wakilnya sekarang langsung dipilih rakyat, maka usaha koalisi akan sia?sia. Rakyat sekarang sudah cerdas dan tidak bisa dibodohi lagi. Maka saemakin sering melakukan tindakan/usaha untuk memojokkan seseorang, semakin sering menjadi pemberitaan media massa, semakin pula dicintai rakyat.
Oleh karena itu pemilihan pasangan presiden dan wakil tanggal 5 Juli 2004 nanti menjadikan alat bukti bahwa seorang tokoh yang semakin dikuyo?kuyo oleh Pemerintah/tokoh/organisasi/kelompok lain akan "mungkin" semakin mendapat kepercayaan rakyat. Biarkan para calon presiden yang berminat diberi kesempatan, karena alam (rakyat)lah yang menyeleksi.
Namun yang tetap menjadi harapan kita semua agar pembelajaran politik bangsa Indonesia saat ini dapat berjalan dengan semestinya. Mari sukseskan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung.
FX Tryas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA Pangudi Luhur Santo Josef
Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
----------------------------
(13) BUDAYA "ASBUN"
Dimuat di kolom Bebas Bicara Harian BERNAS (Yogyakarta), 14/5/2004
DALAM suatu perbincangan di warung makan/tempat publik/dalam bus/halte (skup kecil) sambil istirahat untuk menunggu disajikan makanan/bus datang ataupun aktivitas yang lain sering terjadi perbincangan antara beberapa orang yang duduk bersebelahan mengenai suatu hal yang aktual, bisa politik, ekonomi/sosial/ budaya maupun hankam.
Perbincangan yang terjadi sering bisa "gayeng", karena akan muncul "kesombongan diri", yang pada akhirnya lahir kritikan?kritikan baik kepada pemimpin maupun sesama. Akhirnya di suatu perbincangan muncul tanggapan atau usul dari "mereka", yang suka mengkritik bila diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas bagaimana sikap yang diambil ? Biasanya akan mengelak bila diberi tanggungjawab, dengan berbagai alasan.
Dalam skup yang lebih mapan, misal dalam rapat?rapat di tingkat RT/RW kantor maupun organisasi?organisasi yang lain, sering muncul usulan?usulan dari orang yang idealis.
Usulan yang disampaikan umumnya sangat bagus dan mereka yang hadir dalam rapat maupun pemimpin rapat banyak yang memuji usulan itu. Lagi?lagi ketika "mereka" yang usul diberi kesempatan untuk mentackle rencana kegiatan yang dirapatkan, bisa sebagai penanggungjawab atau pelaksana, biasanya juga akan menolak. Alasannya pasti macam?macam juga (sibuk, repot, masih ada yang lebih mampu dll).
Banyak bicara dalam suatu pertemuan itu sering menjadi ciri orang?orang yang punya keinginan/ambisi. Namun kadang?kadang apa yang diusulkan/dibicarakan isinya tidak ada, bagaikan tong kosong berbunyi nyaring atau air beriak tanda tak dalam karena tidak berdasar fakta dan realita. Budaya "Asbun", itulah yang pantas diberikan kepada "mereka".
Demikian juga skup yang lebih besar (negara) pelaksanaan tahap ke 4 pemilu, yaitu masa kampanye di mana jurkam parpol maupun DPD (Dewan Perwakilan Daerah) pasti menyampaikan program?program yang baik dan bermutu. Hampir di setiap sudut desa/ kelurahan di kota maupun tempat strategis lainnya banyak pamflet/ spanduk yang memprogandakan idealis parpol baik berupa visi maupun misi masing?masing.
Pada saat kampanye para jurkam "tidak ada" yang berbicara mengenai hambatan/kedlala yang terjadi bila mereka terpilih, yang ada harapan-harapan/janji?janji yang kelihatan "indah" didengar. Janji/pidato politik hanyalah sebuah "janji semu", karena janji tersebut sering berulangkali didengar minimal setiap 5 tahun sekali di Republik ini.
Toh akhirnya ketika "mereka" sudah duduk di kursi empuk "legislatif”, lupa akan janjinya saat kampanye. Yang diharapkan dari pemilih adalah kesediaan berbuat bermanfaat yang lebih banyak (willingness to do more). Aktivitas kongkrit dengan bukti aktuallah yang menjadi harapan, khususnya setelah terpilih.
Budaya "Asbun" memang seringkali jadi suguhan yang menarik pada masa kampanye lalu. Kalau itu masih terus melekat pada para caleg, maka sangat layaklah banyak pihak menyebut "politisi busuk". Namun kita hanya bisa berharap agar, budaya asbun jangan dijadikan legitimasi bagi calon pemimpin/ penentu kebijakan kita 5 tahun mendatang.
Sekarang, setelah penetapan calon anggota legislatif, dan mereka yang duduk di kursi empuk kita tunggu janji-janjinya yang telah diobralkan kemarin saat kampanye.
Masyarakat sudah kritis, banyak catatan?catatan yang menjadi PR anggota baru dewan kita yang terhormat. Mari kita tunggu bukti kata-kata mereka. Jangan sampai ada bantahan memang lidah tak bertulang.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA PL ST Yosef
Jl. Adisucipto Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
---------------------------
(12) PENGANGGURAN, PR TAK PERNAH SELESAI
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng-Jogia), 14/5/2004
Bila membaca dan mencermati indikator penduduk miskin berkurang di Jawa Tengah, yang merupakan perbandingan antara tahun 1996,1999, 2002 dari Kompas edisi Jateng dan Jogja 5 Mei 2004, ternyata cukup melegakan. Meski dalam perjalananan angka penurunan itu tak terlalu drastis, yang jelas tiap daerah mengalami penurunan meski ada juga yang meningkat.
Dari keseluruhan wilayah Jawa Tengah, jelas ada penururan yang cukup signifikan. Sebagai contoh tahun 1996 sebesar 21,6 persen, tahun 1999 sebesar 28,5 persen, dan tahun 2002 sebcsar 23,1 persen. Jadi, antara tahun 1999?2002 persentase penduduk miskin di Jawa Tengah turun 5,4 persen.
Penduduk miskin berkurang dapat pula diartikan angka pengangguran yang berkurang, namun betulkah realita di lapangan menjawab semua itu ? Hal ini saya pertanyakan karena ada sedikit pengalaman yang mengusik pikiran berdasrkan suatu perjalanan sehari.
Pada 3 Mei yang lalu, saya mengadakan perjalanan dari Kota Solo ke Ambarawa dengan menggunakan bus ekonomi. Yang mengusik pikiran saya adalah ketika bus berhenti di setiap sub terminal. Ketika bus berhenti, naik pula beberapa. orang minimal tiga orang, masing?masing menawarkan jasa maupun barang. Untuk jasa biasanya para pengamen dan barang adalah penjual makanan dan minuman.
Saya mencoba menghitung para pengasong dan penjual jasa lainnya dari satu terminal besar yang satu dengan terminal besar yang lain melewati tiga sub terminal. Setiap berhenti, minimal ada tiga orang selain penumpang yang menawarkan jasa atau dagangan, maka perjalanan antara Solo ?Bawen ada sekitar 68 orang yang berprofesi sebagai pengasong jasa dan dagangan. Ini untuk satu bus yang satu arah ke Semarang, belum bus yang di depan dan belakang yang menuju Solo, mungkin dapat dihitung sendiri.
Dari gambaran itu jelas sekali bah'wa betapa masyarakat masih sulit mencari pekerjaan tetap dan berpenghasilan pasti. Mereka mau bekerja apa saja demi menyambung hidup. Apakah untuk kelompok ini dapat dikategorikan orang yang bekerja, kaum miskin, atau sebagai pengangguran aktif. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan berbagai tunjangan layaknya pekerja tetap.
Di satu sisi, masih banyak orang muda yang berstatus tidak bekerja atau penganggur yang hanya melamar kerja ke sana ke mari, sekolah terus menerus tanpa dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat.
Itulah fenomena perjalanan saya melewati lima wilayah kota dan kabupaten, yaitu Surakarta, Sukoharjo, Boyolali, Salatiga, dan Semarang. Dan, kalau kita lihat indikator penduduk miskin di lima kota tersebut kurun waktu 1999?2002, Kota Surakarta (turun 3 persen), Kabupaten Sukoharjo (naik 3,5 persen), Kabupaten Boyolali (turun 6,1 persen), Salatiga (naik 4,7 persen), dan Semarang (turun 5,5 persen).
Ada dua daerah yang mengalami kenaikan dan tiga daerah yang mengalami penurunan. Angka?angka yang bersumber dari BPS Jawa Tengah itu dapat dijadikan PR (pekerjaan rumah) para kepala daerah, khususnya kota dan kabupaten.
Pengangguran merupakan PR dari pemerintah kota dan kabupaten sekaligus juga provinsi yang tak kunjung selesai.
FX TRIYAS HADI P
Pengajar SMA Pangudi Luhur St Yosef
Jalan Adi Sucipto Surakarta
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 31/5/2004
---------------------
------------------------------------------
(11)PEMILU DIULANG TIDAK MANUSIAWI
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng/DIY), 24/4/2004
TAHAPAN pemilu ke4, proses pemungutan suara tanggal 5 April 2004 telah usai. Sekarang menginjak tahapan berikutnya yaitu penetapan calon anggota legislatif DPRD II, DPRD I, DPR Pusat dan DPD.
Yang menarik untuk dikritisi adalah wacana penolakan 19 partai politik di tingkat nasional terhadap hasil pemilu serta aksi walk out 21 calon anggota DPD Jawa Tengah ketika proses penghitungan suara di KPU Jawa Tengah, karena banyak ditemui banyak kecurangan. Bahkan, banyak yang menghendaki pemilu ulang.
Rakyat yang sudah bersusah payah mendukung demi berjalannya pemilu. dengan aman, damai, dan transparan dengan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran ternyata dipandang sebelah mata oleh beberapa parpol dan peserta pemilu, dari unsur DPD dengan menghendaki penghitungan suara dan pemilu ulang.
Menurut saya "mereka" kurang berpikir jernih. Karena pemilu yang menghabiskan dana triliunan rupiah seakan-akan tidak berguna.
Mungkin pengalaman kecil ini dapat berguna untuk membuka mata dan hati mereka yang menolak hasil pemilu. Di mana untuk pelaksanaan pemilu di Indonesia tentu dibutuhkan puluhan ribu tempat pemungutan suara (TPS) dan di tiaptiap TPS ada beberapa orang (7) sebagai Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).
Selain tentunya ada yang menjadi anggota KPUD, Panwas pemilu, dan Pemantau Independen lainnya.
Dalam proses penghitungan suara tidak semudah yang dibayangkan, sehingga ratarata di tiap TPS baru dapat merampungkan proses penghitungan dan pembuatan administrasi berita acara antara pukul 24.00 02.00 dini hari.
Padahal, ketika proses persiapan TPS, para anggota KPPS sudah lembur sampai dini hari pula dan juga harus hadir pada saat pencoblosan di TPS tempat bertugas paling lambat pukul 06.00 pagi.
Seperti yang dialami orang tua saya sebagai anggota KPPS. Sebagai seorang pensiunan yang usianya sudah di atas 60 tahun, tentu stamina dan tenaganya sangat terbatas. Karena dipercaya dengan penugasan untuk menyukseskan pernilu, sebagai anggota KPPS, sudah semestinya segala aturan main yang ada dijalani.
Karena dua hari dua malam tanpa istirahat yang cukup demi "hajatan" nasional serta kondisi yang sudah tidak prima lagi, maka hari berikutnya beliau mengeluh sakit. Akhirnya diperiksakan ke doktercdan harus istirahat total untuk sementara waktu.
Lalu, resep obat dari dokter dibelanjakan dengan total biaya mendekati angka Rp 100 ribu. Ironisnya, tanda kasih sebagai anggota KPPS selama dua hari menclapat Rp 80 ribu (per hari Rp 40 ribu), jadi harus tombok. Sudah tenaga, pikiran, waktu tersita, ujungujungnya menderita sakit dan biayanya besar lagi.
Ini baru. satu kasus yang menimpa rakyat kecil guna menyukseskan pemilu. Maka dari itu, apabila ada pihakpihak yang menolak (partai politik poserta pemilu, calon anggota DPD yang umumnya tidak memperoleh suara yang signifikan, dan LSM, serta segelintir mahasiswa yang idealis) berarti tidak manusiawi.
Karena ada juga kasus di TPS tertentu di mana salah satu anggota KPPS meninggal dunia saat bertugas. Belum yang kemudian sakit seperti orangtua saya. Dalam hal ini bila "mereka" yang lolos menjadi anggota Dewan apakah juga peduli terhadap segala jerih payah, usaha, tenaga, dan daya para orangorang yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu ini?
Banyak tokoh berpendapat, penolakan pemilu merupakan sikap yang tidak menghargai rakyat yang telah secara ikhlas menyukseskan pesta demokrasi tersebut. Bahkan, bukan hanya tidak menghargai, tapi tuntutan agar KPU menggelar pemilu ulang merupakan penghinaan terhadap rakyat.
Oleh karenanya, apa yang telah kita laksanakan bersama "Pemilu. Damai", mari kita evaluasi bersama dengan mengkritisi secara bijak. Memang, tidak mudah untuk melaksanakan Pemilu 2004 yang rumit ini (khususnya untuk pengisian caIon anggota legislatif).
Kita harus menghargai kinerja kita, dan permintaan pernilu. ulang berarti tidak manusiawi.
Fx Triyas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA Pangudi Luhur St. Yosef
Jalan Adisutjipto, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------
(10)SATRIO PININGIT JILID 2
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng/DIY) 13/4/2004
Fenomena saat menjelang Pemilu 2004 lalu muncul wacana politisi busuk, politisi berijazah palsu, sakit ingatan, umur palsu, beraroma KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), tidak menjalankan amanat UUD 1945 dan peraturanperaturan yang ada di bawahnya, semua itu sangat gencar.
Sampai akhirnya muncul daftar orangorang yang dianggap sebagai politisi busuk dan harus dihindari untuk didukung dalam Pemilu 2004.
Meski parameter yang dibuat LSM untuk menvonis politisi busuk banyak disanggah oleh mereka yang masuk daftar, namun wacana tersebut dapat sebagai pembelajaran politik bagi rakyat untuk mencermatinya.
Hal tersebut berbeda, dengan fenomena menjelang Pemilu 1999, di mana isu satrio piningit yang akan mengentaskan bangsa Indonesia dari krisis multidimensional begitu. membahana.
Waktu itu tokoh-tokoh yang masuk daftar satrio piningit antara lain Nurcholish Madjid, Sultan Hamengku Buwono X, Amien Rais, KH Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono sampai Megawati.
Banyak harapan dan rakyat setelah lahir satrio piningit bangsa Indonesia segera terbebas. Namun, kenyataan memang tidak bisa. sesuai harapan. Dari sini lahirlah frustrasi dari anggota partai mau pun rakyat atas kebijakan pemerintah yang dianggap lamban muncul, sehingga lahir partai sempalan baru.
Mengapa sekarang tidak muncul fenomena satrio piningit ? Apa rakyat sudah bosan dengan janjijanji ? Atau karena realitas politik, berbicara lain?
Saat masa kampanye lalu, wong cilik dapat dengan mudah mendapatkan uang, kaus, sembako, pengobatan gratis, karena para kontestan Pemilu berlombalomba menarik simpati rakyat. Tetapi lima tahun dalam perjalanan waktu mendatang apa kemudahan-kemudahan itu juga dapat dirasakan ?
Tentunya, itu semua tidak dapat lepas dari datangnya satrio piningit yang dengan bijaksana membuat aturan-aturan yang berpihak pada rakyat kecil.
Mari kita tunggu satrio piningit jilid 2 yang langsung kita pilih sendiri. Jadi jangan sampai keliru. Pemilu 5 April 2004 telah usai dengan aman dan damai. Sekarang kita menunggu sambil berharap partai mana yang sekiranya dapat mengusulkan calon pasangan presiden dan wakil.
Karena pemilu kali ini pun penuh dengan kejutan-kejutan, di mana banyaknya massa dalam kampanye belum tentu menentukan banyaknya perolehan suara.
Bagaimanapun kita masih menunggu kedatangan satrio piningit. Semoga bukan hanya sekedar harapan.
Fx Tryas Hadi Prihantono
Guru SMA PL St. Yosef, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
---------------------
(9)SEANDAINYA. WARTAWAN JADI CALEG..
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 29/3/2004
Membaca, menyimak, mencermati fenomena perpolitikan di negeri ini sangatlah dinamis. Banyak muncul pro kontra, kadang terjadi persinggungan hingga muncul korban, namun tak jarang pula kelihatan sayuk rukun dengan sendau gurau sambil melemparkan jargon-jargon yang menghidupkan suasana.
Media massa yang sudah bonafid biasanya memasang ramburambu dalam tiap terbitannya, antara. lain bahwa wartawannya yang bertugas disertai tanda pengenal serta. surat tugas dan tak menerima tanda. mata. berupa arnplop maupun barang dari narasumber.
Maka, ketika ada. salah satu organisasi, kelompok maupun perorangan memberikan tali asih kepada wartawan sebagai ucapan terima kasih karena peliputannya yang dimuat di media massa (koran) itu maka melalui pimpinan redaksi akan segera mengembalikan ke pihak pemberi. Kadang tidak tanggung-tanggung bentuk barang maupun uang yang diberikan, namun karena kode etik profesi dan mental serta moral, banyak wartawan yang tidak tergiur imingiming itu.
Ketika seorang Jayasuprana mengatakan bahwa mantan Presiden Abdurrahman Wabid (Gus Dur) "jatuh" karena lupa memberi amplop kepada wartawan (kolom Nama dan Peristiwa, KOMPAS, 10/2), itu langsung diklarifikasi Rosiana Silalahi, seorang jurnalis SCTV bahwa pernyataan itu mencerminkan pelecehan dan penghinaan luar biasa berdasarkan generalisasi serampangan pada profesi jurnalis.
Maka, seandainya para wartawan menjadi anggota legislatif untuk Pemilu 2004, mungkin untuk lima tahun mendatang kebijakankebijakan yang muncul akan sedikit terbebas aroma KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Mengapa demikian ?
Dijajaran redaksi dari pimpinan sampai reporter, di situ jarang tertulis gelar akademik. Padahal kita tahu, mereka bisa menjadi wartawan tentu berpendidikan tinggi. Sehingga kecil kemungkinan mereka berijazah palsu, dan kalau terjadi berarti berita yang ditulisnya juga palsu. Yang paling mendasar, para wartawan banyak menolak amplop dari narasumber demi akurasi pemberitaannya serta independensi profesi.
Dari dua hal itu saja berarti mentalitas untuk menjadi koruptor akan kecil, karena namanya mental akan terbentuk dari kebiasaan dari rutinitas kehidupan sehadhari. Bahkan para wartawan akan tersinggung apabila dikatakan menerima amplop. Sampaisampai demi sebuah berita yang benar, nyawa pun berani dikorbankan (kasus Udin, dsb).
Maka, saya berandaiandai .... seandainya wartawan banyak yang mau jadi Caleg, maka fenomena "politisi busuk" tidak akan menjadi sebuah wacana yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan sengit antara mereka yang pro dan kontra.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Banjarsari, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
----------------------
(8) KETELADANAN PEMIMPIN
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Bengawan Pos (Solo) 25/3/2004
Masa menjelang Pemiju merupakan masa yang rawan, karena berbagai pihak yang berkepentingan akan berusaha menanamkan pengaruh kepada masyarakat pemilih. Putaran kampanye sudah dimulai, banyak parpol maupun caleg dari DPD (Dewan Perwakilan Daerah) menyampaikan janjijanji. Hampir semua yang dijanjikan balk, indah, menarik, karena itu untuk kepentingan rakyat.
Namun benarkah itu? Kita sebagai pemilih harus jeli, jangan sampai kita tertipu untuk kesekian kali. Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana.
Kita lihat para pejabat publik maupun petinggi Parpol sering terlibat konflik kepentingan. Lihat kasus slogan "SOLO ROYOROYO". Karena hanya waktu yang tidak tepatlah maka muncul masalah, namun apabila kebijakan tersebut digulirkan sesudah Pemilu atau menjelang kampanye pasti tidak akan terjadi masalah. Oleh karena itu apa yang diharapkan beberapa tokoh kota Solo untuk bersama-sama menjaga suasana yang kondusif memang harus dimulai oleh "mereka" yang menjadi Pejabat Pemerintah maupun Petinggi Partai Politik.
Harapan pemilu damai, bersahabat dan beradab memang harus diwujudkan. Lalu dimulai dari siapa ?
Orang lndonesia biasanya akan mengikuti keteladanan para pemimpinnya. Maka apabila pemimpin memberikan contoh yang terpuji niscaya mereka yang berada di bawahnya akan mengikuti apa yang dilakukan atasannya. Semboyan Ing Ngarso Sung Tulodho memang sarat makna.
Harapan masyarakat Solo dan Indonesia pada umumnya, agar nanti para penentu kebijakan yang baru (calon anggota badan legislatif) dapat dijadikan teladan demi terciptanya. suasana. yang aman, rukun dan damai. Serta yang lebih penting, kedepankan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi/kelompok/partai.seperti motto yang "mereka" tulis dan sampaikan dalam kampanyenya, bilk melalui media massa, pamflet maupun orasi politik. Semoga.
FX Triyas Hadi Prihantaro
Pengajar SMA PL. St. Yosef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
----------------------
(7) POLITISI ASLI LAWAN POLITISI PALSU
Dimuat di kolom Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 17/3/2004
MASYARAKAT Indonesia memang plural, termasuk juga permasalahan yang te~adi. Salah satu isu yang menarik saat ini tentang kepalsuan yang sudah menyangkut berbagai bidang. Sering terjadi pro dan kontra demi pembenaran masingmasing.
Bila dilhat dari segi kualitas tentu banyak memilih yang asli, tapi dari kemudahan dan harga sesuai kebutuhan tentu ' akan pilih yang paIsu. Kedua mempunyai dampak yang cukup signifikan.
Fenomena "politisi busuk/bermasalah" karena berijazah palsu, sakit ingatan, umur yang dikatrol, beraroma KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) menunjukkan "mereka" berkemampuan pribadi maupun akademiknya rendah, namun memiliki mateii/finansial/pengaruh yang berlimpah, sehingga bisa melakukan apa saja yang dimau demi untuk satu tujuan pribadi, meski nanti cepat berubah karakter/wajah aslinya.
Pemalsuan yang sudah menggeneralisir di negara ini memang sudah menjadi penyakit akut, tidak hanya barang, merek dagang, produk makanan, cipta lagu/film sampai calon pemimpin (caleg/bupati) dengan gagah beraninya maju mencalonkan diri, meski hanya berbekal ijasah palsu.
Belum lama ini banyak pencipta lagu, musisi, produser, sutradara atau siapaun pekerja seni berlombalomba mengkampanyekan anti pembajakan baik kaset, CD maupun VCD.
Aparat memang cukup tanggap dengan mengadakan razia, meski hanya sementara. Buktinya, sekarang marak lagi beredarnya barangbarang palsu tersebut. Karena terus terang harganya murah, mudah di dapat dan hasilnya juga tidak mengecewakan.
Contoh aksi pembajakan/pemalsuan kaset dan ijasah palsu bagi para calon anggota legislatif sudah merupakan isu nasional, namun penanganannya ternyata sulit. Mengapa? Karena sudah banyak pihak telah terjebak dalam permainan palsumemalsu yang sangat menguntungkan kedua belah pihak. Tidak hanya masyarakat namun termasuk para penentu kebijakan lintas departemen. Ada pembeli tentu ada penjual.
Sekarang kita kembalikan pada diri kita masingmasing untuk menyikapi. Apalagi dalam pemilu yang sudah semakin dekat ini, mau pilih politisi asli atau politisi palsu. Gambar partai politik beserta foto caleg sudah banyak terpampang di setiap sudut kota, demikian juga calon anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) beserta dengan janjijanjinya. Lalu kalau tidak mengenal bagaimana?
Biasanya yang asli tidak banyak mengumbar janji, ibaratnya seperti "padi". Sebaliknya mereka yang selalu menjanjikan bisa dipastikan bagai tong kosong nyaring bunyinya. Maukah kita diberi janjijanji yang muluk (cepat keluar dari krisis, pendidikan gratis, dibukanya banyak lapangan pekerjaan gaji, naik, BBM turun, pengobatan gratis ... dsb), karena realita bangsa kita memang baru terpuruk. Narnun tidak semudah membalik telapak tangan untuk cepat memperbaiki.
Jangan mudah kita terbawa janji politisi palsu. Kita wajib mengkritisi bersama dan jangan lengah. Sesuatu yang palsu memang mudah dicari dan didapat karena banyak di pasaran, namun yang asli bagaikan mencari jarum dalam pasir. Bagaimanapun juga Pemilu tinggal hitungan hari.
Genderang pertandingan politisi asli melawan palsu sudah dimulai. Marilah kita support yang asli jangan sampai bangsa kita tetap terjebak dalam anganangan palsu.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL St Yosef, Jl. Adisucipto Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
----------------------
(6) PARKIR ANTARA HARAPAN DAN REALITA
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Bengawan Pos (Solo), 17/3/2004
Sebagai warga yang baik tentu akan patuh dan taat pada peraturan yang telah menjadi suatu keputusan. Namun keputusan dan hasil musyawarah yang cukup panjang dan melelahkan serta biaya yang tidak sedikit jangan hanya sebatas eforia di muka.
Yang penting adalah pengawasan dan kekonsistenan dan pelaksanaan kebijakan tersebut. Demikian juga dengan perparkiran di Kota Solo yang antara tempat/kepentingan sering tidak sama. Apakah memang begitu kebijakannya ? Atau tergantung situasi dan kondisi ? Atau juga hak masingmasing pengelola ?
Keefektivan kebijakan antara harapan dan realita idealnya sejalan. Harapan sebagai warga bahwa nantinya dalarn pelaksanaannya betulbetul sejalan di tempat mana pun, situasi dan kondisi apapun, dan yang paling penting bahwa. Keamanan dari kenadaraan yang dititipkan terjaga sesuai kondisi aslinya. Karena sering dijumpai dalam karcis sebuah pemyataan bahwa segala. kerusakan dan kehilangan menjadi tanggungan sendir. Ini kan menjadi ironis dari bentuk tanggungjawabnya.
Memang perlu penataran khusus serta kartu anggota yang jelas bagi para juru parkir. Dan hal yang mustahil bila parkir hanya ditangani oleh satu orang seperti yang sering kita lihat di beberapa pertokoan. Kalau di ma/tempat pembelanjaan umum yang besar umumnya sudah terbentuk tim parkir yang baik, ketika masuk nomor kendaraan dicatat termasuk jumlah helm yang dibawa.
Jadi resiko kehilangannya cukup kecil. Namun menjadi dilema ketika di depan sebuah toko kecil, warung makan "HIK", fotocopy maupun wartel kecil di situ berdiri seorang juru parkir. Dan ketika terjadi kehilangan mereka tidak ada yang mau bertanggung jawab. Ada suatu contoh kecil ketika mau fotocopy yang hanya dua lembar di situ ada petugas parkir maka sering terjadi ketidakseimbangan antara keperluan dan ongkos untuk parkir.
Semoga rencana hasil dari rancangan perparkiran di Kota Solo melalui Perda yang baru dapat memuaskan semua pihak sehingga antara harapan dan realitas memang semestinya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA PL. SL Yosef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
------------------------
(5) MAKNA KEJUJURAN UNTUK PEMIMPIN
Dimuat di kolom Bebas Bicara Harian Bernas(Yogyakarta), 9/3/2004
KETIKA data ditemukan, ketika fakta berbicara dan ketika angka membuktikan, ternyata masih juga terus maju tanpa perasaan. Itulah kirakira gambaran yang terjadi dalam era perpolitikan di negeri ini.
Banyak kasus/aib terkuak ternyata masih berusaha mengalihkan pembicaraan/suasana, bahkan cenderung "ngotot” untuk mengadakan pembelaan. Itulah fenomena yang terjadi di negeri ini dengan melibatkan semua elemen masyarakat tanpa kecuali.
Kejujuran ! Itulah sesuatu kata kunci yang syarat makna. Pengemis, pemulung, pengamen, pekerja seks, siswa, guru, dokter, hakim polisi, PNS, pejabat sipil/militer, artis, caleg sampai pemimpin negara serta siapa saja orangnya bila data, fakta, angka dan ditemukan penyimpangan, serta sudah diletakkan di depan mata ternyata masih juga berusaha untuk mengingkarinya.
Baru saja kita menyaksikan sandiwara politik yang sangat menakjubkan, tentang proses kasasi dari Akbar Tandjung yang akhirnya dikabulkan oleh MA (Mahkamah Agung), sehingga harus mengorbankan banyak anak bangsa, yaitu para mahasiswa yang menentang keputusan itu.
Sering juga kita mendengar adanya dokter palsu, dosen palsu, wartawan palsu dan lain lain. Dan yang paling sering bahan berita di media massa tentang caleg yang berijasah palsu, dan tentu masih banyak berita lain dimana pembaca diminta untuk mencari kesimpulan suatu makna "kejujuran”.
Masihkah bangsa kita akan sulit mencari figur yang jujur ? Kalau jawabannya ya, maka siapapun permimpinnya, keturunannya, profesinya, pendidikannya, dan apa saja syaratnya maka tidak mudah membawa segera terbebas dari krisis multidimensional.
Para tetua pernah bercerita ketika jamannya mereka muda bahwa masyarakat Bali terkenal akan kejujurannya sehingga apapun yang terjadi (pencurian, perampokan, pembunuhan, penculikan dll.) maka mereka yakin yang berbuat bukan orang Bali. Maka waktu itu suasana aman, nyaman dan damai di Bali begitu terasa. Karena orang Bali terkenal jujur.
Dalam sebuah tayangan TV swasta belum lama ini menampilkan profil negara kerajaan Monaco yang kecil namun kaya karena banyak wisatawan asing khususnya kalangan jetset internasional yang datang kesana untuk berlibur. Tentunya dengan membawa uang yang banyak. Mengapa begitu laris negara itu? Karena rakyat dan pejabatnya terkenal kejujurannya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia saat ini ? Di mana fenomena palsu dan ketidakjujuran sudah menjadi salah satu penyakit dari orang yang hendak menginginkan suatu tujuan, baik jabatan maupun kekuasaan.
Bila semua pihak secara sadar baik sikap maupun tindakannya dengan dilandasi kejujuran maka negara adil makmur mustahil tidak tercapai. Marilah kita bersamasama berdoa kepada Tuhan agar makna kejujuran dapat menjadikan landasan semua orang, sebelum mereka menjadi permmpin bangsa ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL St Yosef, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
------------------------------
(4) SUKSESKAN PEMILU DENGAN BUDAYA SANTUN
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 8/3/2004
Ketika menyimak opini salah satu media elektronik di Solo yang juga ditulis di harian ini, antara lain ulasannya sebagai hasil pertemuan Parpol dengan media massa "bisakah Parpol membeli halaman koran untuk kampanye politik ?" Ini cukup menarik karena ada upaya segala cara untuk mencapai suatu tujuan demi kepentingan pribadi/kelompok/ golongan.
Kalau Parpol peserta Pemilu berlombalomba mempengaruhi media massa dengan janji atau imingiming tertentu, lalu bagaimana janji yang diberikan kepada rakyat pemilih? Rakyat banyak berharap bahwa penyelenggaraan Pemilu 2004 nanti berjalan dengan damai tanpa adanya kekerasan.
Tahapan untuk terciptanya suatu kondisi yang kondusif dan demokratif sudah diawali dengan UU Pemilu yang baru (UU No 12/2003) yang cukup maju dan akomodatif. KPU yang mandiri, kemudian Panwaslu yang cukup bersemangat dalam bekerja (meski kadang bagai macan ompong) ?
Banyak harapan terhadap suksesnya Pemilu 2004 mendatang demi segera terbebasnya bangsa. dari belenggu krisis multidimensi ini.
Marilah kita bersamasama saling membantu. Media massa. tetaplah sebagai institusi independen, tingkatkan keprofesionalan dengan laporan investigasi yang akurat, tolak amplop, jaga image sportif.
KPU, Panwaslu dan ISM bekerjalah sejalan dengan kebenaran, kejujuran dan hati nurani. Parpol peserta Pemilu, para calon anggota legislatif, tunjukkan sikap ksatria dengan dedikasi moral yang tinggi. jangan asal mengumbar janji. Dan kepada masyarakat, marilali kita bersamasama mendukung dan mensukseskan Pemilu dengan budaya santun.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------------
(3) JURUS AJI MUMPUNG
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 1/3/2004
Dalam dunia persilatan dikenal banyak jurus untuk menaklukkan lawanlawannya. Jurus dewa mabuk, angin beliung, telapak matahari, kunyuk melempar buah, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satupersatu.
Dunia perpolitikan Indonesia pun akhirakhir ini dihebohkan berita tentang program yang dibahas dan anggota DPRD di akhir masa tugasnya. Program itu antara lain berkaitan dengan besarnya dana purnabakti dan yang lebih fantastis lagi di akhir jabatannya masih memikirkan kunjungan studi banding yang dibungkus istilah Kunker (kunjungan kerja).
Kalau pembahasan masalah untuk kepentingan pribadi mereka sangat antusias mengadakan rapatprapat bahkan segera mengambil keputusan, tapi ketika disuruh memikirkan banyak gedung sekolah yang rusak, jalanjalan yang berlubang, parkir yang terlalu mahal, untuk kepentingan masyarakat banyak dan lainlain, buruburu mereka mengatakan bahwa itu tanggung jawab anggota Dewan mendatang.
Memang jurus aji mumpung dalam hal ini paling pas diberikan kepada mereka karena berpikir sempit, hanya demi kepentingan pribadi. Mumpung masih menjadi anggota Dewan, mumpung masih punya power, mumpung masih punya suara, mumpung masih..., dan bagaimana caranya agar mendapatkan keuntungan melalui suatu kebijakan bersama yang legitimated, tanpa melihat persoalan lain yang lebih penting.
Dan, memang ironis anggota Dewan kita umumnya, bagaimana tanggungjawab mereka terhadap para pemilih?
Seperti barubaru ini di DPRD Jateng, untuk rapat paripurna yang telah diagendakan sendiri saja mereka mbolos, tidak hadir dan alasan mereka mempersiapkan Pemilu. Banyak yang mengatakan mereka tidak mau rapat disebabkan kemungkinan terpilih untuk Pemilu mendatang sangat, kecil karena berada di nomor sepatu.
Melihat hal tersebut apa dapat menjadi teladan ?
Semoga anggota Dewan kita mendatang tidak lagi, menggunakan jurus aji mumpung dalam setiap' kebijakannya.
FX Tryas Hadi Prihantoro
Manahan, Banjarsari Solo
Pengajar SMA PL St. Josef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
-----------------------------
(2) BUKAN GELAR TAPI KINERJA
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 15/2/2004
Menyimak Pos Pembaca yang ditulis Muhammad Asngari (SOLOPOS, 6/2), saya sangat setuju apabila ada pihakpihak yang merasa mendapat gelar dari instansi/lembaga asing segera mengumumkan kepada publik. Tapi maukah mereka melakukan? Karena budaya malu dan mundur di Indonesia belum membudaya,
Umumnya mereka memperoleh gelar itu akan bangga dengan embelembel di belakang namanya, padahal memperolehnya hanya beli tanpa adanya usaha.
Dalam fenomena di masyarakat kita sering menetnui kasus "gelar tipu-tipu" agar dapat isteri dan dipercaya calon mertua mengaku anggota TNI/Polri, agar dapat naik pangkat mengaku sudah master dan lainlain.
Memang ironis sekali karena belum genap satu tahun kuliah talhutahu sudah diwisuda. Kita jadi tahu karena menclapat unclangan syukuran.
Justru sering kebalikan dengan mereka yang memperoleh gelar akademi dengan penuh perjuangan untuk lulus, sering enggan mencantumkan gelar akademiknya. Sering mereka berujar "gelar tidak terIalu penting, kinerjalah yang perlu dibuktikan. Kiita pun tahu banyak orang yang mumpuni dalam bidangnya tanpa mempunyai gelar.
Akhirnya saya berpikir bahwa salah satu pepatah "air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan" memang benar. Kelihatan "mentereng" dengan gelar yang banyak tapi ternyata palsu dan kinerja tak terbukti. Dan ironisnya hal ini ditemukan pada calon anggota badan legislatif kita yang notabene akan menentukan masa depan bangsa lima tahun mendatang.
Maukah kita dipermainkan sandiwara kelas tinggi ini? Marilah kita warga bersama-sama mengkritisi hal ini, dengan memberi masukan kepada lembaga yang berwenang (KPU, Panwaslu, LSM, PoIri) apabila menemukan kejanggalan-kejanggalan dari para calon wakil kita di badan legislatif baik tingkat I, II maupun pusat.
Jangan kita terbohongi untuk yang kali kesekian. Semoga.
FX Tryas Hadi Prihantoro
Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------------------
(1) BUDAYA KAMBING HITAM
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 6/2/2004
Kontroversi kambing hitam dalain negeri ini sudah begitu 'ngeri" Dari yang skupnya kecil, sampai yang besar (negara). Lihat saja di Kota Solo. Masalah rel bengkong di Purwosari, banyak pendapat yang minta rel itu ditutup karena telah banyak meminta korban. Padahal tidak hanya rel bengkong saja, tapi rel KA yang melintas untuk menghubungkan transportasi dari Solo ke Jakarta, juga di Purwosari sering meminta korban.
Sebelum rel bengkong, sudah ada ramburambu cara melewati, juga sudah ada garis kejut agar para pengguna jalan berhati-hati. Lagilagi kalau ada korban jatuh, yang menjadi kambing hitam adalah rel yang melintas (benda mati kok disalahkan !).
Begitu juga menielang Pemilu 2004 H, banyak pihak yang mencari kambing hitam guna dapat melanggengkan kekuasaannya. Kontroversi perebutan untuk menjadi Caleg nomor kecil (jadi), Caleg yang berijazah palsu, Caleg gila dan sebagainya. Semuanya ujungujungnya untuk kepentingan pribadi, karena selagi masih ada yang dikambinghitamkan maka serasa ada pembenaran.
Masihkah nurani kita terpakai untuk membenahi negara ini supaya lekas lepas dani kondisi yang masili compangcamping ? Maka bila salah satu budaya yang sering dilakukan oleh mereka yang punya kebijakan niscaya negeri ini segera terbebas. Budaya kambing hitam harus ditinggalkan, budaya ksatria mari kita tumbuhkan ? Semoga.
Tryas Hadi Prihantoro
Nusukan, Banjarsari, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------------
(11)PEMILU DIULANG TIDAK MANUSIAWI
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng/DIY), 24/4/2004
TAHAPAN pemilu ke4, proses pemungutan suara tanggal 5 April 2004 telah usai. Sekarang menginjak tahapan berikutnya yaitu penetapan calon anggota legislatif DPRD II, DPRD I, DPR Pusat dan DPD.
Yang menarik untuk dikritisi adalah wacana penolakan 19 partai politik di tingkat nasional terhadap hasil pemilu serta aksi walk out 21 calon anggota DPD Jawa Tengah ketika proses penghitungan suara di KPU Jawa Tengah, karena banyak ditemui banyak kecurangan. Bahkan, banyak yang menghendaki pemilu ulang.
Rakyat yang sudah bersusah payah mendukung demi berjalannya pemilu. dengan aman, damai, dan transparan dengan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran ternyata dipandang sebelah mata oleh beberapa parpol dan peserta pemilu, dari unsur DPD dengan menghendaki penghitungan suara dan pemilu ulang.
Menurut saya "mereka" kurang berpikir jernih. Karena pemilu yang menghabiskan dana triliunan rupiah seakan-akan tidak berguna.
Mungkin pengalaman kecil ini dapat berguna untuk membuka mata dan hati mereka yang menolak hasil pemilu. Di mana untuk pelaksanaan pemilu di Indonesia tentu dibutuhkan puluhan ribu tempat pemungutan suara (TPS) dan di tiaptiap TPS ada beberapa orang (7) sebagai Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).
Selain tentunya ada yang menjadi anggota KPUD, Panwas pemilu, dan Pemantau Independen lainnya.
Dalam proses penghitungan suara tidak semudah yang dibayangkan, sehingga ratarata di tiap TPS baru dapat merampungkan proses penghitungan dan pembuatan administrasi berita acara antara pukul 24.00 02.00 dini hari.
Padahal, ketika proses persiapan TPS, para anggota KPPS sudah lembur sampai dini hari pula dan juga harus hadir pada saat pencoblosan di TPS tempat bertugas paling lambat pukul 06.00 pagi.
Seperti yang dialami orang tua saya sebagai anggota KPPS. Sebagai seorang pensiunan yang usianya sudah di atas 60 tahun, tentu stamina dan tenaganya sangat terbatas. Karena dipercaya dengan penugasan untuk menyukseskan pernilu, sebagai anggota KPPS, sudah semestinya segala aturan main yang ada dijalani.
Karena dua hari dua malam tanpa istirahat yang cukup demi "hajatan" nasional serta kondisi yang sudah tidak prima lagi, maka hari berikutnya beliau mengeluh sakit. Akhirnya diperiksakan ke doktercdan harus istirahat total untuk sementara waktu.
Lalu, resep obat dari dokter dibelanjakan dengan total biaya mendekati angka Rp 100 ribu. Ironisnya, tanda kasih sebagai anggota KPPS selama dua hari menclapat Rp 80 ribu (per hari Rp 40 ribu), jadi harus tombok. Sudah tenaga, pikiran, waktu tersita, ujungujungnya menderita sakit dan biayanya besar lagi.
Ini baru. satu kasus yang menimpa rakyat kecil guna menyukseskan pemilu. Maka dari itu, apabila ada pihakpihak yang menolak (partai politik poserta pemilu, calon anggota DPD yang umumnya tidak memperoleh suara yang signifikan, dan LSM, serta segelintir mahasiswa yang idealis) berarti tidak manusiawi.
Karena ada juga kasus di TPS tertentu di mana salah satu anggota KPPS meninggal dunia saat bertugas. Belum yang kemudian sakit seperti orangtua saya. Dalam hal ini bila "mereka" yang lolos menjadi anggota Dewan apakah juga peduli terhadap segala jerih payah, usaha, tenaga, dan daya para orangorang yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu ini?
Banyak tokoh berpendapat, penolakan pemilu merupakan sikap yang tidak menghargai rakyat yang telah secara ikhlas menyukseskan pesta demokrasi tersebut. Bahkan, bukan hanya tidak menghargai, tapi tuntutan agar KPU menggelar pemilu ulang merupakan penghinaan terhadap rakyat.
Oleh karenanya, apa yang telah kita laksanakan bersama "Pemilu. Damai", mari kita evaluasi bersama dengan mengkritisi secara bijak. Memang, tidak mudah untuk melaksanakan Pemilu 2004 yang rumit ini (khususnya untuk pengisian caIon anggota legislatif).
Kita harus menghargai kinerja kita, dan permintaan pernilu. ulang berarti tidak manusiawi.
Fx Triyas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA Pangudi Luhur St. Yosef
Jalan Adisutjipto, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------
(10)SATRIO PININGIT JILID 2
Dimuat di kolom Redaksi Yth, Harian Kompas (Edisi Jateng/DIY) 13/4/2004
Fenomena saat menjelang Pemilu 2004 lalu muncul wacana politisi busuk, politisi berijazah palsu, sakit ingatan, umur palsu, beraroma KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), tidak menjalankan amanat UUD 1945 dan peraturanperaturan yang ada di bawahnya, semua itu sangat gencar.
Sampai akhirnya muncul daftar orangorang yang dianggap sebagai politisi busuk dan harus dihindari untuk didukung dalam Pemilu 2004.
Meski parameter yang dibuat LSM untuk menvonis politisi busuk banyak disanggah oleh mereka yang masuk daftar, namun wacana tersebut dapat sebagai pembelajaran politik bagi rakyat untuk mencermatinya.
Hal tersebut berbeda, dengan fenomena menjelang Pemilu 1999, di mana isu satrio piningit yang akan mengentaskan bangsa Indonesia dari krisis multidimensional begitu. membahana.
Waktu itu tokoh-tokoh yang masuk daftar satrio piningit antara lain Nurcholish Madjid, Sultan Hamengku Buwono X, Amien Rais, KH Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono sampai Megawati.
Banyak harapan dan rakyat setelah lahir satrio piningit bangsa Indonesia segera terbebas. Namun, kenyataan memang tidak bisa. sesuai harapan. Dari sini lahirlah frustrasi dari anggota partai mau pun rakyat atas kebijakan pemerintah yang dianggap lamban muncul, sehingga lahir partai sempalan baru.
Mengapa sekarang tidak muncul fenomena satrio piningit ? Apa rakyat sudah bosan dengan janjijanji ? Atau karena realitas politik, berbicara lain?
Saat masa kampanye lalu, wong cilik dapat dengan mudah mendapatkan uang, kaus, sembako, pengobatan gratis, karena para kontestan Pemilu berlombalomba menarik simpati rakyat. Tetapi lima tahun dalam perjalanan waktu mendatang apa kemudahan-kemudahan itu juga dapat dirasakan ?
Tentunya, itu semua tidak dapat lepas dari datangnya satrio piningit yang dengan bijaksana membuat aturan-aturan yang berpihak pada rakyat kecil.
Mari kita tunggu satrio piningit jilid 2 yang langsung kita pilih sendiri. Jadi jangan sampai keliru. Pemilu 5 April 2004 telah usai dengan aman dan damai. Sekarang kita menunggu sambil berharap partai mana yang sekiranya dapat mengusulkan calon pasangan presiden dan wakil.
Karena pemilu kali ini pun penuh dengan kejutan-kejutan, di mana banyaknya massa dalam kampanye belum tentu menentukan banyaknya perolehan suara.
Bagaimanapun kita masih menunggu kedatangan satrio piningit. Semoga bukan hanya sekedar harapan.
Fx Tryas Hadi Prihantono
Guru SMA PL St. Yosef, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
---------------------
(9)SEANDAINYA. WARTAWAN JADI CALEG..
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 29/3/2004
Membaca, menyimak, mencermati fenomena perpolitikan di negeri ini sangatlah dinamis. Banyak muncul pro kontra, kadang terjadi persinggungan hingga muncul korban, namun tak jarang pula kelihatan sayuk rukun dengan sendau gurau sambil melemparkan jargon-jargon yang menghidupkan suasana.
Media massa yang sudah bonafid biasanya memasang ramburambu dalam tiap terbitannya, antara. lain bahwa wartawannya yang bertugas disertai tanda pengenal serta. surat tugas dan tak menerima tanda. mata. berupa arnplop maupun barang dari narasumber.
Maka, ketika ada. salah satu organisasi, kelompok maupun perorangan memberikan tali asih kepada wartawan sebagai ucapan terima kasih karena peliputannya yang dimuat di media massa (koran) itu maka melalui pimpinan redaksi akan segera mengembalikan ke pihak pemberi. Kadang tidak tanggung-tanggung bentuk barang maupun uang yang diberikan, namun karena kode etik profesi dan mental serta moral, banyak wartawan yang tidak tergiur imingiming itu.
Ketika seorang Jayasuprana mengatakan bahwa mantan Presiden Abdurrahman Wabid (Gus Dur) "jatuh" karena lupa memberi amplop kepada wartawan (kolom Nama dan Peristiwa, KOMPAS, 10/2), itu langsung diklarifikasi Rosiana Silalahi, seorang jurnalis SCTV bahwa pernyataan itu mencerminkan pelecehan dan penghinaan luar biasa berdasarkan generalisasi serampangan pada profesi jurnalis.
Maka, seandainya para wartawan menjadi anggota legislatif untuk Pemilu 2004, mungkin untuk lima tahun mendatang kebijakankebijakan yang muncul akan sedikit terbebas aroma KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Mengapa demikian ?
Dijajaran redaksi dari pimpinan sampai reporter, di situ jarang tertulis gelar akademik. Padahal kita tahu, mereka bisa menjadi wartawan tentu berpendidikan tinggi. Sehingga kecil kemungkinan mereka berijazah palsu, dan kalau terjadi berarti berita yang ditulisnya juga palsu. Yang paling mendasar, para wartawan banyak menolak amplop dari narasumber demi akurasi pemberitaannya serta independensi profesi.
Dari dua hal itu saja berarti mentalitas untuk menjadi koruptor akan kecil, karena namanya mental akan terbentuk dari kebiasaan dari rutinitas kehidupan sehadhari. Bahkan para wartawan akan tersinggung apabila dikatakan menerima amplop. Sampaisampai demi sebuah berita yang benar, nyawa pun berani dikorbankan (kasus Udin, dsb).
Maka, saya berandaiandai .... seandainya wartawan banyak yang mau jadi Caleg, maka fenomena "politisi busuk" tidak akan menjadi sebuah wacana yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan sengit antara mereka yang pro dan kontra.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Banjarsari, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
----------------------
(8) KETELADANAN PEMIMPIN
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Bengawan Pos (Solo) 25/3/2004
Masa menjelang Pemiju merupakan masa yang rawan, karena berbagai pihak yang berkepentingan akan berusaha menanamkan pengaruh kepada masyarakat pemilih. Putaran kampanye sudah dimulai, banyak parpol maupun caleg dari DPD (Dewan Perwakilan Daerah) menyampaikan janjijanji. Hampir semua yang dijanjikan balk, indah, menarik, karena itu untuk kepentingan rakyat.
Namun benarkah itu? Kita sebagai pemilih harus jeli, jangan sampai kita tertipu untuk kesekian kali. Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana.
Kita lihat para pejabat publik maupun petinggi Parpol sering terlibat konflik kepentingan. Lihat kasus slogan "SOLO ROYOROYO". Karena hanya waktu yang tidak tepatlah maka muncul masalah, namun apabila kebijakan tersebut digulirkan sesudah Pemilu atau menjelang kampanye pasti tidak akan terjadi masalah. Oleh karena itu apa yang diharapkan beberapa tokoh kota Solo untuk bersama-sama menjaga suasana yang kondusif memang harus dimulai oleh "mereka" yang menjadi Pejabat Pemerintah maupun Petinggi Partai Politik.
Harapan pemilu damai, bersahabat dan beradab memang harus diwujudkan. Lalu dimulai dari siapa ?
Orang lndonesia biasanya akan mengikuti keteladanan para pemimpinnya. Maka apabila pemimpin memberikan contoh yang terpuji niscaya mereka yang berada di bawahnya akan mengikuti apa yang dilakukan atasannya. Semboyan Ing Ngarso Sung Tulodho memang sarat makna.
Harapan masyarakat Solo dan Indonesia pada umumnya, agar nanti para penentu kebijakan yang baru (calon anggota badan legislatif) dapat dijadikan teladan demi terciptanya. suasana. yang aman, rukun dan damai. Serta yang lebih penting, kedepankan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi/kelompok/partai.seperti motto yang "mereka" tulis dan sampaikan dalam kampanyenya, bilk melalui media massa, pamflet maupun orasi politik. Semoga.
FX Triyas Hadi Prihantaro
Pengajar SMA PL. St. Yosef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
----------------------
(7) POLITISI ASLI LAWAN POLITISI PALSU
Dimuat di kolom Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 17/3/2004
MASYARAKAT Indonesia memang plural, termasuk juga permasalahan yang te~adi. Salah satu isu yang menarik saat ini tentang kepalsuan yang sudah menyangkut berbagai bidang. Sering terjadi pro dan kontra demi pembenaran masingmasing.
Bila dilhat dari segi kualitas tentu banyak memilih yang asli, tapi dari kemudahan dan harga sesuai kebutuhan tentu ' akan pilih yang paIsu. Kedua mempunyai dampak yang cukup signifikan.
Fenomena "politisi busuk/bermasalah" karena berijazah palsu, sakit ingatan, umur yang dikatrol, beraroma KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) menunjukkan "mereka" berkemampuan pribadi maupun akademiknya rendah, namun memiliki mateii/finansial/pengaruh yang berlimpah, sehingga bisa melakukan apa saja yang dimau demi untuk satu tujuan pribadi, meski nanti cepat berubah karakter/wajah aslinya.
Pemalsuan yang sudah menggeneralisir di negara ini memang sudah menjadi penyakit akut, tidak hanya barang, merek dagang, produk makanan, cipta lagu/film sampai calon pemimpin (caleg/bupati) dengan gagah beraninya maju mencalonkan diri, meski hanya berbekal ijasah palsu.
Belum lama ini banyak pencipta lagu, musisi, produser, sutradara atau siapaun pekerja seni berlombalomba mengkampanyekan anti pembajakan baik kaset, CD maupun VCD.
Aparat memang cukup tanggap dengan mengadakan razia, meski hanya sementara. Buktinya, sekarang marak lagi beredarnya barangbarang palsu tersebut. Karena terus terang harganya murah, mudah di dapat dan hasilnya juga tidak mengecewakan.
Contoh aksi pembajakan/pemalsuan kaset dan ijasah palsu bagi para calon anggota legislatif sudah merupakan isu nasional, namun penanganannya ternyata sulit. Mengapa? Karena sudah banyak pihak telah terjebak dalam permainan palsumemalsu yang sangat menguntungkan kedua belah pihak. Tidak hanya masyarakat namun termasuk para penentu kebijakan lintas departemen. Ada pembeli tentu ada penjual.
Sekarang kita kembalikan pada diri kita masingmasing untuk menyikapi. Apalagi dalam pemilu yang sudah semakin dekat ini, mau pilih politisi asli atau politisi palsu. Gambar partai politik beserta foto caleg sudah banyak terpampang di setiap sudut kota, demikian juga calon anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) beserta dengan janjijanjinya. Lalu kalau tidak mengenal bagaimana?
Biasanya yang asli tidak banyak mengumbar janji, ibaratnya seperti "padi". Sebaliknya mereka yang selalu menjanjikan bisa dipastikan bagai tong kosong nyaring bunyinya. Maukah kita diberi janjijanji yang muluk (cepat keluar dari krisis, pendidikan gratis, dibukanya banyak lapangan pekerjaan gaji, naik, BBM turun, pengobatan gratis ... dsb), karena realita bangsa kita memang baru terpuruk. Narnun tidak semudah membalik telapak tangan untuk cepat memperbaiki.
Jangan mudah kita terbawa janji politisi palsu. Kita wajib mengkritisi bersama dan jangan lengah. Sesuatu yang palsu memang mudah dicari dan didapat karena banyak di pasaran, namun yang asli bagaikan mencari jarum dalam pasir. Bagaimanapun juga Pemilu tinggal hitungan hari.
Genderang pertandingan politisi asli melawan palsu sudah dimulai. Marilah kita support yang asli jangan sampai bangsa kita tetap terjebak dalam anganangan palsu.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL St Yosef, Jl. Adisucipto Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
----------------------
(6) PARKIR ANTARA HARAPAN DAN REALITA
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Bengawan Pos (Solo), 17/3/2004
Sebagai warga yang baik tentu akan patuh dan taat pada peraturan yang telah menjadi suatu keputusan. Namun keputusan dan hasil musyawarah yang cukup panjang dan melelahkan serta biaya yang tidak sedikit jangan hanya sebatas eforia di muka.
Yang penting adalah pengawasan dan kekonsistenan dan pelaksanaan kebijakan tersebut. Demikian juga dengan perparkiran di Kota Solo yang antara tempat/kepentingan sering tidak sama. Apakah memang begitu kebijakannya ? Atau tergantung situasi dan kondisi ? Atau juga hak masingmasing pengelola ?
Keefektivan kebijakan antara harapan dan realita idealnya sejalan. Harapan sebagai warga bahwa nantinya dalarn pelaksanaannya betulbetul sejalan di tempat mana pun, situasi dan kondisi apapun, dan yang paling penting bahwa. Keamanan dari kenadaraan yang dititipkan terjaga sesuai kondisi aslinya. Karena sering dijumpai dalam karcis sebuah pemyataan bahwa segala. kerusakan dan kehilangan menjadi tanggungan sendir. Ini kan menjadi ironis dari bentuk tanggungjawabnya.
Memang perlu penataran khusus serta kartu anggota yang jelas bagi para juru parkir. Dan hal yang mustahil bila parkir hanya ditangani oleh satu orang seperti yang sering kita lihat di beberapa pertokoan. Kalau di ma/tempat pembelanjaan umum yang besar umumnya sudah terbentuk tim parkir yang baik, ketika masuk nomor kendaraan dicatat termasuk jumlah helm yang dibawa.
Jadi resiko kehilangannya cukup kecil. Namun menjadi dilema ketika di depan sebuah toko kecil, warung makan "HIK", fotocopy maupun wartel kecil di situ berdiri seorang juru parkir. Dan ketika terjadi kehilangan mereka tidak ada yang mau bertanggung jawab. Ada suatu contoh kecil ketika mau fotocopy yang hanya dua lembar di situ ada petugas parkir maka sering terjadi ketidakseimbangan antara keperluan dan ongkos untuk parkir.
Semoga rencana hasil dari rancangan perparkiran di Kota Solo melalui Perda yang baru dapat memuaskan semua pihak sehingga antara harapan dan realitas memang semestinya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Pengajar SMA PL. SL Yosef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
------------------------
(5) MAKNA KEJUJURAN UNTUK PEMIMPIN
Dimuat di kolom Bebas Bicara Harian Bernas(Yogyakarta), 9/3/2004
KETIKA data ditemukan, ketika fakta berbicara dan ketika angka membuktikan, ternyata masih juga terus maju tanpa perasaan. Itulah kirakira gambaran yang terjadi dalam era perpolitikan di negeri ini.
Banyak kasus/aib terkuak ternyata masih berusaha mengalihkan pembicaraan/suasana, bahkan cenderung "ngotot” untuk mengadakan pembelaan. Itulah fenomena yang terjadi di negeri ini dengan melibatkan semua elemen masyarakat tanpa kecuali.
Kejujuran ! Itulah sesuatu kata kunci yang syarat makna. Pengemis, pemulung, pengamen, pekerja seks, siswa, guru, dokter, hakim polisi, PNS, pejabat sipil/militer, artis, caleg sampai pemimpin negara serta siapa saja orangnya bila data, fakta, angka dan ditemukan penyimpangan, serta sudah diletakkan di depan mata ternyata masih juga berusaha untuk mengingkarinya.
Baru saja kita menyaksikan sandiwara politik yang sangat menakjubkan, tentang proses kasasi dari Akbar Tandjung yang akhirnya dikabulkan oleh MA (Mahkamah Agung), sehingga harus mengorbankan banyak anak bangsa, yaitu para mahasiswa yang menentang keputusan itu.
Sering juga kita mendengar adanya dokter palsu, dosen palsu, wartawan palsu dan lain lain. Dan yang paling sering bahan berita di media massa tentang caleg yang berijasah palsu, dan tentu masih banyak berita lain dimana pembaca diminta untuk mencari kesimpulan suatu makna "kejujuran”.
Masihkah bangsa kita akan sulit mencari figur yang jujur ? Kalau jawabannya ya, maka siapapun permimpinnya, keturunannya, profesinya, pendidikannya, dan apa saja syaratnya maka tidak mudah membawa segera terbebas dari krisis multidimensional.
Para tetua pernah bercerita ketika jamannya mereka muda bahwa masyarakat Bali terkenal akan kejujurannya sehingga apapun yang terjadi (pencurian, perampokan, pembunuhan, penculikan dll.) maka mereka yakin yang berbuat bukan orang Bali. Maka waktu itu suasana aman, nyaman dan damai di Bali begitu terasa. Karena orang Bali terkenal jujur.
Dalam sebuah tayangan TV swasta belum lama ini menampilkan profil negara kerajaan Monaco yang kecil namun kaya karena banyak wisatawan asing khususnya kalangan jetset internasional yang datang kesana untuk berlibur. Tentunya dengan membawa uang yang banyak. Mengapa begitu laris negara itu? Karena rakyat dan pejabatnya terkenal kejujurannya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia saat ini ? Di mana fenomena palsu dan ketidakjujuran sudah menjadi salah satu penyakit dari orang yang hendak menginginkan suatu tujuan, baik jabatan maupun kekuasaan.
Bila semua pihak secara sadar baik sikap maupun tindakannya dengan dilandasi kejujuran maka negara adil makmur mustahil tidak tercapai. Marilah kita bersamasama berdoa kepada Tuhan agar makna kejujuran dapat menjadikan landasan semua orang, sebelum mereka menjadi permmpin bangsa ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL St Yosef, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
------------------------------
(4) SUKSESKAN PEMILU DENGAN BUDAYA SANTUN
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 8/3/2004
Ketika menyimak opini salah satu media elektronik di Solo yang juga ditulis di harian ini, antara lain ulasannya sebagai hasil pertemuan Parpol dengan media massa "bisakah Parpol membeli halaman koran untuk kampanye politik ?" Ini cukup menarik karena ada upaya segala cara untuk mencapai suatu tujuan demi kepentingan pribadi/kelompok/ golongan.
Kalau Parpol peserta Pemilu berlombalomba mempengaruhi media massa dengan janji atau imingiming tertentu, lalu bagaimana janji yang diberikan kepada rakyat pemilih? Rakyat banyak berharap bahwa penyelenggaraan Pemilu 2004 nanti berjalan dengan damai tanpa adanya kekerasan.
Tahapan untuk terciptanya suatu kondisi yang kondusif dan demokratif sudah diawali dengan UU Pemilu yang baru (UU No 12/2003) yang cukup maju dan akomodatif. KPU yang mandiri, kemudian Panwaslu yang cukup bersemangat dalam bekerja (meski kadang bagai macan ompong) ?
Banyak harapan terhadap suksesnya Pemilu 2004 mendatang demi segera terbebasnya bangsa. dari belenggu krisis multidimensi ini.
Marilah kita bersamasama saling membantu. Media massa. tetaplah sebagai institusi independen, tingkatkan keprofesionalan dengan laporan investigasi yang akurat, tolak amplop, jaga image sportif.
KPU, Panwaslu dan ISM bekerjalah sejalan dengan kebenaran, kejujuran dan hati nurani. Parpol peserta Pemilu, para calon anggota legislatif, tunjukkan sikap ksatria dengan dedikasi moral yang tinggi. jangan asal mengumbar janji. Dan kepada masyarakat, marilali kita bersamasama mendukung dan mensukseskan Pemilu dengan budaya santun.
FX Triyas Hadi Prihantoro
Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------------
(3) JURUS AJI MUMPUNG
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 1/3/2004
Dalam dunia persilatan dikenal banyak jurus untuk menaklukkan lawanlawannya. Jurus dewa mabuk, angin beliung, telapak matahari, kunyuk melempar buah, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satupersatu.
Dunia perpolitikan Indonesia pun akhirakhir ini dihebohkan berita tentang program yang dibahas dan anggota DPRD di akhir masa tugasnya. Program itu antara lain berkaitan dengan besarnya dana purnabakti dan yang lebih fantastis lagi di akhir jabatannya masih memikirkan kunjungan studi banding yang dibungkus istilah Kunker (kunjungan kerja).
Kalau pembahasan masalah untuk kepentingan pribadi mereka sangat antusias mengadakan rapatprapat bahkan segera mengambil keputusan, tapi ketika disuruh memikirkan banyak gedung sekolah yang rusak, jalanjalan yang berlubang, parkir yang terlalu mahal, untuk kepentingan masyarakat banyak dan lainlain, buruburu mereka mengatakan bahwa itu tanggung jawab anggota Dewan mendatang.
Memang jurus aji mumpung dalam hal ini paling pas diberikan kepada mereka karena berpikir sempit, hanya demi kepentingan pribadi. Mumpung masih menjadi anggota Dewan, mumpung masih punya power, mumpung masih punya suara, mumpung masih..., dan bagaimana caranya agar mendapatkan keuntungan melalui suatu kebijakan bersama yang legitimated, tanpa melihat persoalan lain yang lebih penting.
Dan, memang ironis anggota Dewan kita umumnya, bagaimana tanggungjawab mereka terhadap para pemilih?
Seperti barubaru ini di DPRD Jateng, untuk rapat paripurna yang telah diagendakan sendiri saja mereka mbolos, tidak hadir dan alasan mereka mempersiapkan Pemilu. Banyak yang mengatakan mereka tidak mau rapat disebabkan kemungkinan terpilih untuk Pemilu mendatang sangat, kecil karena berada di nomor sepatu.
Melihat hal tersebut apa dapat menjadi teladan ?
Semoga anggota Dewan kita mendatang tidak lagi, menggunakan jurus aji mumpung dalam setiap' kebijakannya.
FX Tryas Hadi Prihantoro
Manahan, Banjarsari Solo
Pengajar SMA PL St. Josef Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
-----------------------------
(2) BUKAN GELAR TAPI KINERJA
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 15/2/2004
Menyimak Pos Pembaca yang ditulis Muhammad Asngari (SOLOPOS, 6/2), saya sangat setuju apabila ada pihakpihak yang merasa mendapat gelar dari instansi/lembaga asing segera mengumumkan kepada publik. Tapi maukah mereka melakukan? Karena budaya malu dan mundur di Indonesia belum membudaya,
Umumnya mereka memperoleh gelar itu akan bangga dengan embelembel di belakang namanya, padahal memperolehnya hanya beli tanpa adanya usaha.
Dalam fenomena di masyarakat kita sering menetnui kasus "gelar tipu-tipu" agar dapat isteri dan dipercaya calon mertua mengaku anggota TNI/Polri, agar dapat naik pangkat mengaku sudah master dan lainlain.
Memang ironis sekali karena belum genap satu tahun kuliah talhutahu sudah diwisuda. Kita jadi tahu karena menclapat unclangan syukuran.
Justru sering kebalikan dengan mereka yang memperoleh gelar akademi dengan penuh perjuangan untuk lulus, sering enggan mencantumkan gelar akademiknya. Sering mereka berujar "gelar tidak terIalu penting, kinerjalah yang perlu dibuktikan. Kiita pun tahu banyak orang yang mumpuni dalam bidangnya tanpa mempunyai gelar.
Akhirnya saya berpikir bahwa salah satu pepatah "air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan" memang benar. Kelihatan "mentereng" dengan gelar yang banyak tapi ternyata palsu dan kinerja tak terbukti. Dan ironisnya hal ini ditemukan pada calon anggota badan legislatif kita yang notabene akan menentukan masa depan bangsa lima tahun mendatang.
Maukah kita dipermainkan sandiwara kelas tinggi ini? Marilah kita warga bersama-sama mengkritisi hal ini, dengan memberi masukan kepada lembaga yang berwenang (KPU, Panwaslu, LSM, PoIri) apabila menemukan kejanggalan-kejanggalan dari para calon wakil kita di badan legislatif baik tingkat I, II maupun pusat.
Jangan kita terbohongi untuk yang kali kesekian. Semoga.
FX Tryas Hadi Prihantoro
Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------------------
(1) BUDAYA KAMBING HITAM
Dimuat di kolom Pos Pembaca Harian Solopos (Solo), 6/2/2004
Kontroversi kambing hitam dalain negeri ini sudah begitu 'ngeri" Dari yang skupnya kecil, sampai yang besar (negara). Lihat saja di Kota Solo. Masalah rel bengkong di Purwosari, banyak pendapat yang minta rel itu ditutup karena telah banyak meminta korban. Padahal tidak hanya rel bengkong saja, tapi rel KA yang melintas untuk menghubungkan transportasi dari Solo ke Jakarta, juga di Purwosari sering meminta korban.
Sebelum rel bengkong, sudah ada ramburambu cara melewati, juga sudah ada garis kejut agar para pengguna jalan berhati-hati. Lagilagi kalau ada korban jatuh, yang menjadi kambing hitam adalah rel yang melintas (benda mati kok disalahkan !).
Begitu juga menielang Pemilu 2004 H, banyak pihak yang mencari kambing hitam guna dapat melanggengkan kekuasaannya. Kontroversi perebutan untuk menjadi Caleg nomor kecil (jadi), Caleg yang berijazah palsu, Caleg gila dan sebagainya. Semuanya ujungujungnya untuk kepentingan pribadi, karena selagi masih ada yang dikambinghitamkan maka serasa ada pembenaran.
Masihkah nurani kita terpakai untuk membenahi negara ini supaya lekas lepas dani kondisi yang masili compangcamping ? Maka bila salah satu budaya yang sering dilakukan oleh mereka yang punya kebijakan niscaya negeri ini segera terbebas. Budaya kambing hitam harus ditinggalkan, budaya ksatria mari kita tumbuhkan ? Semoga.
Tryas Hadi Prihantoro
Nusukan, Banjarsari, Solo
Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 12/5/2004
--------------------------
Subscribe to:
Posts (Atom)