Thursday, April 02, 2009
Bhinneka Tunggal Ika Harga mati
Indonesia adalah negara multi, negara heterogen. Jadi, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati. Di negeri ini terdapat keragaman suku bangsa, agama, golongan, kultur, dan bahasa yang merupakan kekayaan hakiki.
Sejak awal, Indonesia bukan negara homogen. Keindahan negeri ini terletak pada segala keunikannya dan semua keragaman yang ada.
FX TRIYAS HADI P
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Wednesday, April 01, 2009
Kompensasi dan BLT
Pemberian kompensasi (pengembalian uang) dari kenaikan Bahan Bakar Minyak yang ditetepkan Pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kompensasi BLT akan membantu rakyat miskin agar tidak merasa berat dalam memenuhi kebutuhan hidup karena kena imbas dengan kenaikan bahan pokok.
Maka program BLT ini biasanya bergulir seiring dengan kenaikan BBM. Logikanya pula bila harga BBM turun berarti kebutuhan Rakyat semakin ringan maka program BLT harusnya juga dihentikan.
Meski program ini selalu melahirkan pro dan kontra dalam pelaksanaannya namun rasa empati Pemerintah wajib dihormati dan dihargai. Namun yang menjadi lucu saat BBM sudah turun sampai 3 kali toh BLT jalan terus. Itu berarti program kompensasi apa lagi? Apakah bentuk komensasi BBM turun?
Dan yang menjadi masalah lagi ketika BLT juga diberikan saat masa kampanye menjelang Pemilu. Maka tidak mengherankan bila banyak kritikan dalam pembagian harga kebutuhan pokok. Bukannya BLT jalan terus, karena jelas sudah salah arah dan tuBLT kali ini.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epsitoholik Indonesia
Monday, March 16, 2009
Ketidakpercayaan diri Caleg
Melihat baliho, pamflet maupun spanduk calon anggota legislatif (Caleg) yang bertebaran di jalan-jalan raya, saya melihat sebuah fenomena umum. Mereka terbukti banyak yang tidak mempunyai rasa percaya diri.Sebagian besar “wajah” caleg dibayang-bayangi oleh kebesaran tokoh (negarawan, politikus maupun agamawan). Bahkan ironisnya banyak Caleg yang numpang beken pada anaknya yang artis, pemain bola (dalam maupun luar negeri) maupun artis (musisi budayawan).Lalu bagaimana masyarakat menentukan pilihan jika Caleg tidak percaya diri? Apakah setelah menjadi wakil rakyat, mereka mampu menyampaikan suara rakyat?Idealnya, saat mereka meminta dukungan, perlu dibuktikan dalam alat peraga kampanye kiprahnya dalam kegiatan sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Dengan dukungan gambar bukti keterlibatan Caleg dalam kegiatan kemasyarakatan, menandakan kepercayaan dirinya besar. Kemampuan menyampaikan aspirasi rakyat akan layak diandalkan. Oleh karena itu, masyarakat tinggal menunggu, strategi apa dari Caleg pada kampanye terbuka. Sebab aspirasi rakyat perlu sebuah saluran yang benar dan meyakinkan.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo
Monday, March 02, 2009
Caleg Egois
Jika kita melihat berbagai spanduk, baliho, pamflet, stiker yang merupakan propaganda para calon anggota legislatif di berbagai sudut wilayah/kota, sangat kental bentuk egoisme dan individualisme mereka.
Hal itu dibuktikan banyaknya alat peraga yang dibuat hanya menonjolkan "kelebihan" pribadi masing-masing. Unsur kerjasama dengan semangat gotong royong dan persatuan (meski) satu partai pun kelihatan sangat sedikit.
Seandainya para caleg dalam satu parta bersatu dalam mengkampanyekan diri, kesemrawutan pemasangan spanduk tak akan terjadi. Keasrian dan keindahan lingkungan pun terjaga.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA PL. Santo Yosef Surakarta
Tuesday, February 24, 2009
Sosialisasi Pemilu
Banyak kritik terhadap kinerja Komisi Pemilihan Umum dan kesiapannya menghadapi Pemilu April nanti. Salah satunya kebingungan masyarakat terhadap sah tidaknya suara dalam Pemilu dalam hal mencentang.
Apalagi ada sebuah rumor baru berkenaan hendak dianulirnya lagi pasal 214 (sahnya pilihan dengan suara terbanyak bagi calon anggota legislatif) dari UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu. Kelak masyarakat akan semakin bingung lagi. Pasalnya sosialisasi dari alat peraga caleg berbeda dengan kenyataan akan membuat kendala di lapangan.
Contoh terbaru terbaru dari mencoblos menjadi mencentang saja masih banyak yang belum paham, apalagi aturan berkenaan dengan sah tidaknya suara. Oleh karena itu perlu sosialisasi Pemilu yang benar secara terus menerus. Jangan sampai kisruh pada 9 April.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Monday, February 16, 2009
Cermin bagi Legislatif
Bukanya untuk menyurutkan nyali bagi calon legislatif (Caleg), tapi inilah sebuah fakta. Di mana, jadi legislator tidaklah mudah. Sampai maut pun harus dijalani seperti yang terjadi di Sumatra Utara. Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat, harus meregang nyawa saat aksi demo masyarakat akan tuntutan provinsi baru Tapanuli Utara(3/2/09).
Oleh karena itu, bagi calon anggota legislatif (Caleg) janganlah nanti setelah menjadi anggota legislatif ingkar janji. Lupa akan jargon, semboyan, minta restu yang sekarang marak bertebar di mana-mana.
Sebab, bila sudah duduk di kursi dewan kadang lupa akan masa lalu. Lupa akan janji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Lupa bahwa melalui dukungan rakyatlah mereka bisa menjadi anggota legislatif yang terhormat.
Maka peristiwa di DPRD Sumut sebagai pembelajaran dan peringatan para Caleg. Jika belum siap jiwa raga masih ada waktu untuk mengundurkan diri. Sebab anggota legislatif bukan satu-satunya tempat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Thursday, January 29, 2009
Keteladanan Pejabat
Sebuah keteladanan memang harus tumbuh dari dalam diri manusianya. Seperti halnya dalam hal budaya anti korupsi. Meski "upeti" sudah di depan mata namun bila mental spiritual untuk tidak mau menerima sudah ada dalam pribadinya, maka sebuah upaya "tanda terimakasih" tetap akan ditolak secara halus.
Begitulah seharusnya mental keteladanan pejabat kita, kalau menghendaki negara ini segera menuju keadilan dan kemakmuran. Oleh karena itu dengan maraknya publikasi dan kampanye calon anggota Legiuslatif (Caleg) akan bentuk kepedulian perjuangan demi kepentingan rakyat janganlah slogan belaka. Sebab sudah banyak contoh setelah mereka jadi anggota legislatif mental dan perbuatannya tidak menunjukkan keteladan seorang pejabat publik.
Keteladanan pejabat memang harus diawali dari peristiwa kecil, seperti menolak menerima amplop meski itu sebagai bentuk ucapan syukur dan terimakasih.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epistoholik Indonesia
Friday, January 16, 2009
Budaya Turun
Sudah pasti bahwa harga bahan bakar minyak mengalami penurunan harga untuk ketigakalinya. Sudah dipastikan masyarakat berharap akan terjadi penurunan harga kebutuhan pokok lain (sembako) dan juga penurunan tarif angkutan umum.
Namun sudah diprediksi pula bahwa harga-harga yang sudah terlanjur naik sulit untuk turun. Berbagai alasan muncul untuk tarif angkutan karena suku cadang kendaraan belum turun dan berbagai alasan lain.
Budaya segera turun belum menjadi kebiasaan kehidupan di Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab. Sebab contoh maju terus pantang mudur dan budaya enggan turun juga sering dicontohkan oleh para pejabat publik (birokrat). Meski berbagai kasus penyelewengan, penyimpangan (korupsi) sudah terkuak lebar, namun berbagai alibi untuk membela diri dan tetap berupaya duduk di "kursi empuknya" sudah menjadi kehendak.
Maka wajar pula jika masyarakat meniru tingkah polah mereka. Termasuk para pelaku usaha dan pelaku angkutan yang enggan juga menurunkan tarif meski BBM sudah turun secara bertahap sampai tiga kali dalam kurun waktu dua bulan.
Perlu sikap peduli dalam membiasakan budaya turun dan ketegasan sikap Pemerintah demi kepentingan yang lebih luas karena masyarakat sudah sangat terpuruk sebagai efek krisis global.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia
Tuesday, December 30, 2008
Tahun Caleg
Meski krisis finansial melanda dan imbasnya menggulung pelaku usaha di Indonesia, para calon legislatif terus berlomba berbuat baik.
Mereka gencar membuat spanduk, baliho, brosur, pamflet, dan sebagainya yang bertebaran di jalan raya. Tujuannya meminta restu agar pencalonannya sebagai pengemban amanat rakyat mendapat dukungan.
Namu, apakah mereka mampu memenuhi semua janjinya setelah terpilih tahun 2009 nanti.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta
Tuesday, December 09, 2008
Ko(rup)tor
Beberapa hari ini di televisi kita lihat iklan salah satu partai politik meneriakan kata ”tidak” dengan mengepalkan tangan penuh semangat. Mereka mengatakan tidak korupsi dan berantas.
Korupsi merupakan tindakan kotor karena sangat merugikan kepentingan masyarakat. Maka dari itu, semangat peringatan hari Anti Korupsi Sedunia pada tanggal 9 Desember bukanlah hanya sebuah peringatan dengan jargon-jargon belaka. Perlu tindakan konkrit dan berkesinambungan untuk memberantas korupsi.
Masyarakat sudah terlalu banyak dirugikan. Maka marilah bersama menyatukan tekad, sikapdan tindakan untuk selalu mengatakan bahwa koruptor merupakan perilaku kotor yang menjadikan negara tekor (rugi)
FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epsitoholik Indonesia
Friday, November 28, 2008
Selamatkan Pepohonan
Setiap bepergian berkendaraan, sepanjang perjalanan terlihat pamflet dan poster calon anggota Legislatif (caleg) yang mempromosikan dirinya.
Ironsisnya, fasilitas yang dimanfaatkan adalah pohon-pohon yang bersinggungann dengan badan jalan. Seolah partai politik dan caleg berebutan untuk memanfaatkan :”tubuh” pohon yang tersisa.
Sayang sekali mereka mengabaikan berbagai imbauan dari masyarakat peduli lingkungan. Tanpa memedulikan kelestarian lingkungan , berbagai sarana (paku, kawat) menancap di pohon yang seharusnya dilindungi.
Gerakan selamatkan pohon jangan hanya sebatas wacana tanpa implikasi. Hanya melalui contoh nyata dengan saling mengingatkan dan tidak merusak, gerakan itu akan menjadi gerakan yang mengakar.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Larisnya Program Magister
dimuat dalam Surat pembaca Kompas Jateng 15/11/08
Kualitas mutu lulusan Perguruan Tinggi (PT) memang lagi menjadi sorotan. Hal yang paling absurd bahwa Lulusan PT kurang profesional sehingga tidak mudah langsung beradaptasi di dunia kerja. Akhirnya penggangguran PT semakin signifikan peningkatannya tiap tahun.
Kesulitan mencari pekerjaan tidak dipungkiri banyak yang studi lanjut ke program Magister atau Pasca Sarjana. Alhasil kelak lulusan Magisterpun akan melonjak. Ironisnya Pasar dunia kerja kadang tidak sanggup menetapkan standar gaji bagi mereka. Akhirnya mereka menjadi pengganggur pula.
Oleh karena itu perlu sebuah regulasi demi jaminan mutu lulusan dengan larisnya Program Magister. Pasalnya banyak Perguruan Tinggi Swasta jyang memiliki jumlah Sarjana S2 lebih banyak keimbang lulusa S1..
Tidak mengherankan pula banyak lulusan S2 yang masih muda. Namun apakah mereka sanggup menanggung beban tanggung jawab tugas sesuai klasifikasi Ijasah/sertfikat yang di dapat? Ini yang perlu dipikirkan bersama demi kualitas mutu pendidikan yang semestinya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Thursday, October 02, 2008
Ketega(s)an Sanksi
"Sanksi bagi PNS yang mangkir", begitulah judul berita harian Kompas edisi Minggu 28 September 2008 halaman 4. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang melanggar karena tidak taat aturan dalam menggunakan hari libur lebaran mendapat sanksi teguran, pencopotan jabatan sampai pemecatan.
Sudahkan ketegasan dan ketegaan (tanpa kompromi/tidak main-main) atasan dalam memberikan sanksi (hukuman) benar-benar teraktualisasi? Pasalnya molor dalam menggunakan hari libur guna merayakan lebaran dengan mudik, beranjangsana, bersilaturahmi dan bernostalgia sudah menjadi acara rutinitas tahunan.
Namun demikian pelangaran demi pelanggaran oleh PNS, juga masih terjadi dengan tidak masuk kerja tepat pada waktunya. Sebab, negoisasi pengampunan dan ketidak tegaan Pimpinan, bagi PNS yang mangkir dengan memberikan sanksi yang seharusnya juga sudah menjadi pembiasaan.
Oleh karena itu guna mengembalikan mental disiplin, taat, tertib karena PNS adalah abdi masyarakat perlu sebuah ketegasan dalam sanksi (hukuman).
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia
Friday, September 12, 2008
Pengawasan Parsel Lebaran
Menjelang hari raya lebaran pengusaha parcel sedikit memanen rejeki. Dipastikan omzet meningkat sesuai banyaknya pesanan.
Sudah sejak beberapa tahun lalu pengawasan pengiriman parsel oleh Pengusaha kepada pejabat Pemerintahan diperketat. Sebab ada indikasi parcel yang dikirimkan berbau KKN (korupsi Kolusi Nepotisme) sehingga dapan menjadi fulus (pelicin) untuk sebuah proyek.
Prinsipnya sebuah penyimpangan yang terjadi sampain sekarang berkenaan dengan mental atau kualitas dari manusianya. Apabila konsisten pada prinsip hidup pastik dapat menghindaru segala godaan.
Jadi pengiriman parsel dengan pengawasannya merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama. Seluruh elemen bangsa yang berkehendak menjadikan negara ini bersih dari tindakan penyuapan dan korupsi.
FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Saturday, August 23, 2008
GURU SMA PL SOLO TERIMA PENGHARGAAN
Di Solo Triyas dikenal sebagai guru yang atif menulis opini di berbagai media cetak. Salah satu artikel yang ditulisnya berjudul Dari Gaptek Menuju Melek Iptek yang dimuat di harian Kompas tanggal 26 Nopember 2007, dinyatakan sebagai karya jurnalistik terbaik tingkat Nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Tulisan tersebut menurut Triyas, tampil dari 772 naskah artikel di media massa dalam kurun waktu Juni 2007 sampai Mei 2008, yang dinilai oleh Pusat Informasi dan Humas Depdiknas. Hadiah dan penghargaan diberikan oleh Mendiknas di Jakarta, Kamis (14/8) hari ini.
Dibalik penghargaan itu diakui telah melalui proses yang panjang sebelum dirinya mapan sebagai kolumnis. " Saya senang dunia tulis menulis sejak kuliah di UKSW Salatiga. Di SMA Yosef Solo ini saya juga menjadi pendamping kegiatan ekstra Jurnalistik. Kemudian tahun 2003 saya menadapat pelatihan Jurnalistik oleh Yayasan di Bandungan Ambarawa".
Bermula dari pelatihan tersebut, kemudian mencoba menulis. Ternyata artikel pertamanya berjudul Plus Minus Full Day School, langsung dimuat di koran lokal Solo. Triyaspun ketagihan, hingga kini sudah ada lebih dari seratus opininya dimuat, plus sekitar 400 surat pembaca. (lea)
Thursday, July 31, 2008
Prokarsih
Kita sering mendengar kata Prokarsih (program kali bersih). Sebuah gerakan kebersihan lingkungan yang harusnya kontinyu dilaksanakan secara terprogram. Sebuah lingkungan kali (sungai) yang bersih akan berimplikasi pada kenyamanan lingkungan, terhindarnya dari banjir saat musim hujan dan terjaganya kesehatan. Sebab itu Prokarsih menjadi penting bila kesadaran masyarakat secara individual maupun komunitas sudah menjadi budaya. Karenanya di musim kemarau ini, ajak warga untuk membersihkan sungai di lingkungan kita yang mungkin sudah sarat dengan sampah dan terjadinya sedimentasi. Kalau saluran air (sanitasi) belum ada perlu sebagai prioritas pembangunan secara swadaya.Jangan ada kata penyesalan saat musim hujan tiba dan banjir melanda lingkungan kita. Sebab kita sendiri tidak berupaya menjaga lingkungan dan berinisiatif mengantisipasi segala yang mungkin terjadi di musim hujan. Air sangat dibutuhkan tetapi juga menjadi ancaman manusia bila kita tidak menjaganya dengan arif. Galakkan Prokarsih kembali mulai saat ini sebelum ada kata terlambat.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epsitoholik Indonesia
Friday, July 18, 2008
Mati lampu dan tertib berlalu lintas
Beberapa hari terakhir PLN mengumumkan adanya pemadaman listrik secara bergilir. Penyebabnya pasokan BBM dan ada perbaikan pembangkit Jawa-Madura.Idealnya memang pemadaman bergilir pada siang hari. Yang menjadi persoalan saat pemadaman listrik kadang sosialisasi/pemberitahuan tidak sampai kepada masyarakat. Seperti halnya yang pernah penulis alami, saat pulang sekolah arus lalu lintas sangat ramai karena banyak pengendara anak sekolah. Pengendara tidak tahu bila listrik mati. Maka bisa dibayangkan saat mereka bertemu di perempatan jalan. Ada yang berusaha mendahului dan berhenti di tengah jalan sambil melihat lampu lalu lintas.Sayangnya saat aliran listrik padam, tidak banyak polisi lalu lintas yang berjaga. Idealnya PLN berkoordinasi dengan polisi saat kondisi seperti ini, dalam upaya menjaga ketertiban di jalan raya.
FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, warga Epistoholik Indonesia
(Sabtu, 19 Juli 2008 )
Tuesday, July 01, 2008
SELAMAT HUT "KOMPAS
Tahun 2004, Harian Kompas meraih penghargaan media terbaik mengenai information value, dengan skor 17,69 kategori bagus. Dan untuk media performance, 2004 juga menduduki peringkat pertama dengan skor 26,51 kategori bagus.
Begitu juga tahun 2006 Kompas menjadi Surat Kabar Terbaik menurut IBBA (Indonesian Best Brand Award). Sebuah ajang merek-merek terbaik Indonesia yang diselenggarakan lembaga Riset dan Pemasaran MARS bekerja sama dengan majalah SWA. Merupakan penghargaan ke-4 sejak 2003.
Prestasi terbaik memang layak disandang oleh harian ini. Pasalnya, memang sebuah koran yang mempunyai peran penting dalam membentuk civil society yang kritis, dinamis, dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Dengan penyajian berita yang berimbang (cover both side), independen, obyektif, dan memberikan opini serta analisis kritis semakin membentuk karakter Kompas sebagai media besar.
Dengan usia 43 tahun bulan ini, Kompas perlu selalu meningkatkan kualitas pemilihan berita (news selection). Harus semakin meningkatkan dimensi berita yang memiliki kedekatan psikologis (emosi) dengan pembaca (proximity psikografis).
Seperti halnya dengan kemunculan Kompas update, menunjukkan kepekaan akan kebutuhan pembaca setia. Begitu pula tiap terbitan Kompas selalu memberi suplemen berita daerah yang tentu harapannya semakin mendekatkan diri kepada pembaca daerah.
Selamat ulang tahun Kompas.
Fx Triyas Hadi Prihantoro Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Sunday, June 29, 2008
Hotspot Gratis di Sekolah
SOLO (Joglosemar): SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta bakal meluncurkan area hotspot gratis di lingkungan sekolah. Menurut Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta FX Triyas Hadi Prihantoto, launching hotspot dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 Juni 2008 jam 09.00 WIB. “Di era teknologi informasi (IT), SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta perlu ikut mengadakan revolusi teknologi masuk sekolah. Hal itu sebagai upaya menyejajarkan pendidikan melalui pembelajaran yang mengglobal,” ujarnya, Kamis (26/6). Dijelaskan Triyas, sebelumnya SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta telah melaunching portal web setahun yang lalu (http://styosef.pangudiluhur.org), dan dilanjutkan portal e-learning (http: //www.yosefelearning. sch. id). Selanjutnya pada Sabtu (28/6), area hotspot akan dibuka. “Area hotspot merupakan sarana yang sangat vital dan dibutuhkan di era globalisasi ini guna menyeimbangkan ketertinggalan. Dengan demikian pendidikan di SMA Yosef semakin terbuka, selangkah ke depan dan transparan,” paparnya.Diharapkan setelah menjadi area hotspot, baik siswa, guru, dan karyawan dapat dengan mudah mengakses segala informasi yang dibutuhkan di lingkungan sekolah. Hal ini, kata Triyas, dalam upaya mendukung pembelajaran e-learning, sehingga keluarga besar SMA Yosef, alumni, dan masyarakat sekitarnya tidak lagi gaptek alias gagap teknologi.Pemasangan area hotspot ini bekerjasama dengan Telkom Speedy dalam program Internet Goes to School dengan aktivasi unlimited. “Jadi kapan saja dapat diakses dengan kecepatan 1 MBps Downstream dan 128 Upstream,” tandasnya. (atm/*)
Friday, May 30, 2008
Prihatin Reformasi
Tahun 2008 dapat dianalogikan sebagai “pangkat sepuluh”. Sebuah angka yang sempurna sebenarnya. Benarkah demikian dengan bangsa ini angka tersebut bermakna? Sebuah kesempurnaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan dambaan bersama. Sebuah keagungan bangsa yang berkemakmuran dan berkeadilan menjadi tujuan yang diidamkan, sepuluh tahun yang lalu reformasi bergulir. Harapannya akan ada perubahan hidup dalam negara menjadi lebih baik. Seratus tahun yang lalu Dr Sutomo dengan organisasi Budi Utomo mengobarkan semangat persatuan (nasionalisme). Pembentukan organisasi modern melebur sifat kedaerahan, provinsialisme dan perlawanan sporadis.Lalu kini di tahun 2008 makna sepuluh dan seratus tahun yang lalu, sudahkan mendapat secercah pencerahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelihatannya kita harus prihatin dan merefleksikan diri kembali dalam memperingati sepuluh tahun reformasi dan seratus tahun Kebangkitan Nasional. Kebangkitan itu harus selalu ada di manapun, kapanpun dan kepada siapa saja anak bangsa Indonesia.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epsitoholik Indonesia
Thursday, May 01, 2008
Olah Raga Minimalis
Terbatasnya ruang publik, area bermain dan lapangan olah raga di kota besar menjadikan banyak orang berpikir praktis. Sebab kebutuhan untuk berolah raga dan menjaga kesehatan menjadikan kebutuhan bersama. Akhirnya tempat yang masih tersisa di optimalkan perannya.
Model minimalis tidak hanya dalam bentuk rumah tetapi juga sarana bermain olah raga.
Maraknya Olah raga minimalis seperti dengan bermain futsal, bola basket dengan three on three, voli dikenal dengan voli pantai. Mungkin kelak akan muncul lagi jenis oleh raga berkelompok minimalis lainnya.
Ternyata tempat dan ruang terbatas tidak membatasi orang untuk berolah raga. Semua cara dapat dilakukan asal ada niat.
Makanya orang kota harus pandai memanfaatkan area publik yang tersisa guna berolah raga, berekreasi, bersosialisasi dan berkomunikasi.
Semoga menjamurnya area bermain futsal menjadi inspirasi warga kota untuk bisa memanfaatkan lahan yang tersisa dengan sarana olah raga yang rekreatif dan komunikatif.
FX Triyas Hadi Prihntoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef SUrakarta
Ironi Surat Pembaca
dimuat di harian Joglosemar 24 April 2008
Hari Rabu 9 April 2008 saya dapat SMS dari rekan EI (Epistoholik Indonesia). Sebuah harian terbitan nasional memberitakan vonis Rp 1 miliar bagi 4 penulis SP (Surat Pembaca) karena tulisannya di media massa. Ironis memang dalam ranah keterbukaan informasi dan komunikasi terjadi ketidakadilan dalam sebuah keputusan. Dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tercantum pula kode etik Pers. Ada sebuah hak jawab mengenai sebuah pemberitaan di mana pihak yang dirugikan diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi.Padahal para penulis SP dalam menyampaikan pesan umumnya berdasarkan apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan dialami. Sebuah pemberitaan berdasarkan kebenaran, kejujuran, lugas, apa adanya diperjuangkan melalui SP demi kemaslahatan publik. Namun saat ada tuntutan kepada penulis SP seolah-olah UU Pers terabaikan. Harapan saya sebagai salah satu dari sekian banyak penulis SP yang berjuang untuk kebenaran, penerapan UU Pers jangan hanya sebagai payung hukum bagi para wartawan. Perlu usaha advokasi bagi para penulis lepas (SP dan Opini) sebab di sinilah pembelajaran mengeluarkan pikiran dan pendapat teraktualisasi secara riil.
FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia
Kontrak politik
dimuat di kolom Surat Pembaca Kompas Jateng 9 April 2008
Dalam era demokrasi secara langsung saat ini saatnya calon pemimpin melakukan kontrak politik. Sebab acapkali mereka lupa janji setelah terpilih menjadi Penguasa, meski itu berdasarkan suara rakyat.
Saat ini para calon Gubernur Jateng mengusung tema memperjuangkan kaum yang lemah, mengentaskan kemisikinan, pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis menjadi isu utama.
Oleh karena itu saatnya rakyat berani melakukan kontrak politik dengan para kandidat tersebut. Sebuah perjanjian dengan rakyat bisa menjadi alat "tagih" yang legal bila pemimpin terpilih mengingkari janji.
Kontrak politik menunjukkan kedewasaab berdemokrasi yang sesungguhnya. Kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang.?
FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA PAngudi Luhur Santo Yosef Surakarta