Friday, January 16, 2009

Budaya Turun

dimuat Surat Pembaca Kompas Jateng 17/01/09

Sudah pasti bahwa harga bahan bakar minyak mengalami penurunan harga untuk ketigakalinya. Sudah dipastikan masyarakat berharap akan terjadi penurunan harga kebutuhan pokok lain (sembako) dan juga penurunan tarif angkutan umum.
Namun sudah diprediksi pula bahwa harga-harga yang sudah terlanjur naik sulit untuk turun. Berbagai alasan muncul untuk tarif angkutan karena suku cadang kendaraan belum turun dan berbagai alasan lain.
Budaya segera turun belum menjadi kebiasaan kehidupan di Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab. Sebab contoh maju terus pantang mudur dan budaya enggan turun juga sering dicontohkan oleh para pejabat publik (birokrat). Meski berbagai kasus penyelewengan, penyimpangan (korupsi) sudah terkuak lebar, namun berbagai alibi untuk membela diri dan tetap berupaya duduk di "kursi empuknya" sudah menjadi kehendak.
Maka wajar pula jika masyarakat meniru tingkah polah mereka. Termasuk para pelaku usaha dan pelaku angkutan yang enggan juga menurunkan tarif meski BBM sudah turun secara bertahap sampai tiga kali dalam kurun waktu dua bulan.
Perlu sikap peduli dalam membiasakan budaya turun dan ketegasan sikap Pemerintah demi kepentingan yang lebih luas karena masyarakat sudah sangat terpuruk sebagai efek krisis global.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia

Tuesday, December 30, 2008

Tahun Caleg

Surat Pembaca, KOMPAS Jateng 31/12/08

Meski krisis finansial melanda dan imbasnya menggulung pelaku usaha di Indonesia, para calon legislatif terus berlomba berbuat baik.
Mereka gencar membuat spanduk, baliho, brosur, pamflet, dan sebagainya yang bertebaran di jalan raya. Tujuannya meminta restu agar pencalonannya sebagai pengemban amanat rakyat mendapat dukungan.
Namu, apakah mereka mampu memenuhi semua janjinya setelah terpilih tahun 2009 nanti.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Surakarta

Tuesday, December 09, 2008

Ko(rup)tor

dimuat, Surat Pembaca Kompas Jateng 9 Desember 2008

Beberapa hari ini di televisi kita lihat iklan salah satu partai politik meneriakan kata ”tidak” dengan mengepalkan tangan penuh semangat. Mereka mengatakan tidak korupsi dan berantas.
Korupsi merupakan tindakan kotor karena sangat merugikan kepentingan masyarakat. Maka dari itu, semangat peringatan hari Anti Korupsi Sedunia pada tanggal 9 Desember bukanlah hanya sebuah peringatan dengan jargon-jargon belaka. Perlu tindakan konkrit dan berkesinambungan untuk memberantas korupsi.
Masyarakat sudah terlalu banyak dirugikan. Maka marilah bersama menyatukan tekad, sikapdan tindakan untuk selalu mengatakan bahwa koruptor merupakan perilaku kotor yang menjadikan negara tekor (rugi)

FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
Warga Epsitoholik Indonesia

Friday, November 28, 2008

Selamatkan Pepohonan

Dimuat Dalam Surat Pembaca Kompas Jateng 29/11/08

Setiap bepergian berkendaraan, sepanjang perjalanan terlihat pamflet dan poster calon anggota Legislatif (caleg) yang mempromosikan dirinya.
Ironsisnya, fasilitas yang dimanfaatkan adalah pohon-pohon yang bersinggungann dengan badan jalan. Seolah partai politik dan caleg berebutan untuk memanfaatkan :”tubuh” pohon yang tersisa.
Sayang sekali mereka mengabaikan berbagai imbauan dari masyarakat peduli lingkungan. Tanpa memedulikan kelestarian lingkungan , berbagai sarana (paku, kawat) menancap di pohon yang seharusnya dilindungi.
Gerakan selamatkan pohon jangan hanya sebatas wacana tanpa implikasi. Hanya melalui contoh nyata dengan saling mengingatkan dan tidak merusak, gerakan itu akan menjadi gerakan yang mengakar.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta



Larisnya Program Magister

dimuat dalam Surat pembaca Kompas Jateng 15/11/08

Kualitas mutu lulusan Perguruan Tinggi (PT) memang lagi menjadi sorotan. Hal yang paling absurd bahwa Lulusan PT kurang profesional sehingga tidak mudah langsung beradaptasi di dunia kerja. Akhirnya penggangguran PT semakin signifikan peningkatannya tiap tahun.
Kesulitan mencari pekerjaan tidak dipungkiri banyak yang studi lanjut ke program Magister atau Pasca Sarjana. Alhasil kelak lulusan Magisterpun akan melonjak. Ironisnya Pasar dunia kerja kadang tidak sanggup menetapkan standar gaji bagi mereka. Akhirnya mereka menjadi pengganggur pula.
Oleh karena itu perlu sebuah regulasi demi jaminan mutu lulusan dengan larisnya Program Magister. Pasalnya banyak Perguruan Tinggi Swasta jyang memiliki jumlah Sarjana S2 lebih banyak keimbang lulusa S1..
Tidak mengherankan pula banyak lulusan S2 yang masih muda. Namun apakah mereka sanggup menanggung beban tanggung jawab tugas sesuai klasifikasi Ijasah/sertfikat yang di dapat? Ini yang perlu dipikirkan bersama demi kualitas mutu pendidikan yang semestinya.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Thursday, October 02, 2008

Ketega(s)an Sanksi

Surat Pembaca Kompas Jateng 3/10/08

"Sanksi bagi PNS yang mangkir", begitulah judul berita harian Kompas edisi Minggu 28 September 2008 halaman 4. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang melanggar karena tidak taat aturan dalam menggunakan hari libur lebaran mendapat sanksi teguran, pencopotan jabatan sampai pemecatan.
Sudahkan ketegasan dan ketegaan (tanpa kompromi/tidak main-main) atasan dalam memberikan sanksi (hukuman) benar-benar teraktualisasi? Pasalnya molor dalam menggunakan hari libur guna merayakan lebaran dengan mudik, beranjangsana, bersilaturahmi dan bernostalgia sudah menjadi acara rutinitas tahunan.
Namun demikian pelangaran demi pelanggaran oleh PNS, juga masih terjadi dengan tidak masuk kerja tepat pada waktunya. Sebab, negoisasi pengampunan dan ketidak tegaan Pimpinan, bagi PNS yang mangkir dengan memberikan sanksi yang seharusnya juga sudah menjadi pembiasaan.
Oleh karena itu guna mengembalikan mental disiplin, taat, tertib karena PNS adalah abdi masyarakat perlu sebuah ketegasan dalam sanksi (hukuman).

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia

Friday, September 12, 2008

Pengawasan Parsel Lebaran

Surat Pembaca Kompas Jateng 13/9/08

Menjelang hari raya lebaran pengusaha parcel sedikit memanen rejeki. Dipastikan omzet meningkat sesuai banyaknya pesanan.
Sudah sejak beberapa tahun lalu pengawasan pengiriman parsel oleh Pengusaha kepada pejabat Pemerintahan diperketat. Sebab ada indikasi parcel yang dikirimkan berbau KKN (korupsi Kolusi Nepotisme) sehingga dapan menjadi fulus (pelicin) untuk sebuah proyek.
Prinsipnya sebuah penyimpangan yang terjadi sampain sekarang berkenaan dengan mental atau kualitas dari manusianya. Apabila konsisten pada prinsip hidup pastik dapat menghindaru segala godaan.
Jadi pengiriman parsel dengan pengawasannya merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama. Seluruh elemen bangsa yang berkehendak menjadikan negara ini bersih dari tindakan penyuapan dan korupsi.

FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Saturday, August 23, 2008

GURU SMA PL SOLO TERIMA PENGHARGAAN


halaman utama harian Joglosemar 14 Agustus 2008



SOLO (Joglosemar): "Berita penghargaan itu membuat saya tidak bisa tidur semalaman, Informasinya sangat tiba-tiba, baru tadi via telpon." kata FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur (PL) Santo Yosef Surakarta kepada Joglosemar menjelang berangkat ke Jakarta, Selasa (12/8).
Di Solo Triyas dikenal sebagai guru yang atif menulis opini di berbagai media cetak. Salah satu artikel yang ditulisnya berjudul Dari Gaptek Menuju Melek Iptek yang dimuat di harian Kompas tanggal 26 Nopember 2007, dinyatakan sebagai karya jurnalistik terbaik tingkat Nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Tulisan tersebut menurut Triyas, tampil dari 772 naskah artikel di media massa dalam kurun waktu Juni 2007 sampai Mei 2008, yang dinilai oleh Pusat Informasi dan Humas Depdiknas. Hadiah dan penghargaan diberikan oleh Mendiknas di Jakarta, Kamis (14/8) hari ini.
Dibalik penghargaan itu diakui telah melalui proses yang panjang sebelum dirinya mapan sebagai kolumnis. " Saya senang dunia tulis menulis sejak kuliah di UKSW Salatiga. Di SMA Yosef Solo ini saya juga menjadi pendamping kegiatan ekstra Jurnalistik. Kemudian tahun 2003 saya menadapat pelatihan Jurnalistik oleh Yayasan di Bandungan Ambarawa".
Bermula dari pelatihan tersebut, kemudian mencoba menulis. Ternyata artikel pertamanya berjudul Plus Minus Full Day School, langsung dimuat di koran lokal Solo. Triyaspun ketagihan, hingga kini sudah ada lebih dari seratus opininya dimuat, plus sekitar 400 surat pembaca. (lea)

Thursday, July 31, 2008

Prokarsih

Surat Pembaca harian Joglosemar 31 Juli 2008


Kita sering mendengar kata Prokarsih (program kali bersih). Sebuah gerakan kebersihan lingkungan yang harusnya kontinyu dilaksanakan secara terprogram. Sebuah lingkungan kali (sungai) yang bersih akan berimplikasi pada kenyamanan lingkungan, terhindarnya dari banjir saat musim hujan dan terjaganya kesehatan. Sebab itu Prokarsih menjadi penting bila kesadaran masyarakat secara individual maupun komunitas sudah menjadi budaya. Karenanya di musim kemarau ini, ajak warga untuk membersihkan sungai di lingkungan kita yang mungkin sudah sarat dengan sampah dan terjadinya sedimentasi. Kalau saluran air (sanitasi) belum ada perlu sebagai prioritas pembangunan secara swadaya.Jangan ada kata penyesalan saat musim hujan tiba dan banjir melanda lingkungan kita. Sebab kita sendiri tidak berupaya menjaga lingkungan dan berinisiatif mengantisipasi segala yang mungkin terjadi di musim hujan. Air sangat dibutuhkan tetapi juga menjadi ancaman manusia bila kita tidak menjaganya dengan arif. Galakkan Prokarsih kembali mulai saat ini sebelum ada kata terlambat.

FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epsitoholik Indonesia

Friday, July 18, 2008

Mati lampu dan tertib berlalu lintas

dimuat dalam Pos Pembaca SOLOPOS 19 Juli 2008



Beberapa hari terakhir PLN mengumumkan adanya pemadaman listrik secara bergilir. Penyebabnya pasokan BBM dan ada perbaikan pembangkit Jawa-Madura.Idealnya memang pemadaman bergilir pada siang hari. Yang menjadi persoalan saat pemadaman listrik kadang sosialisasi/pemberitahuan tidak sampai kepada masyarakat. Seperti halnya yang pernah penulis alami, saat pulang sekolah arus lalu lintas sangat ramai karena banyak pengendara anak sekolah. Pengendara tidak tahu bila listrik mati. Maka bisa dibayangkan saat mereka bertemu di perempatan jalan. Ada yang berusaha mendahului dan berhenti di tengah jalan sambil melihat lampu lalu lintas.Sayangnya saat aliran listrik padam, tidak banyak polisi lalu lintas yang berjaga. Idealnya PLN berkoordinasi dengan polisi saat kondisi seperti ini, dalam upaya menjaga ketertiban di jalan raya.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, warga Epistoholik Indonesia
(Sabtu, 19 Juli 2008 )

Tuesday, July 01, 2008

SELAMAT HUT "KOMPAS

dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jogja 30 Juni 2008


Tahun 2004, Harian Kompas meraih penghargaan media terbaik mengenai information value, dengan skor 17,69 kategori bagus. Dan untuk media performance, 2004 juga menduduki peringkat pertama dengan skor 26,51 kategori bagus.

Begitu juga tahun 2006 Kompas menjadi Surat Kabar Terbaik menurut IBBA (Indonesian Best Brand Award). Sebuah ajang merek-merek terbaik Indonesia yang diselenggarakan lembaga Riset dan Pemasaran MARS bekerja sama dengan majalah SWA. Merupakan penghargaan ke-4 sejak 2003.

Prestasi terbaik memang layak disandang oleh harian ini. Pasalnya, memang sebuah koran yang mempunyai peran penting dalam membentuk civil society yang kritis, dinamis, dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Dengan penyajian berita yang berimbang (cover both side), independen, obyektif, dan memberikan opini serta analisis kritis semakin membentuk karakter Kompas sebagai media besar.

Dengan usia 43 tahun bulan ini, Kompas perlu selalu meningkatkan kualitas pemilihan berita (news selection). Harus semakin meningkatkan dimensi berita yang memiliki kedekatan psikologis (emosi) dengan pembaca (proximity psikografis).

Seperti halnya dengan kemunculan Kompas update, menunjukkan kepekaan akan kebutuhan pembaca setia. Begitu pula tiap terbitan Kompas selalu memberi suplemen berita daerah yang tentu harapannya semakin mendekatkan diri kepada pembaca daerah.

Selamat ulang tahun Kompas.

Fx Triyas Hadi Prihantoro Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Sunday, June 29, 2008

Hotspot Gratis di Sekolah

joglosemar 27 Juni 2008
SOLO (Joglosemar): SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta bakal meluncurkan area hotspot gratis di lingkungan sekolah. Menurut Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta FX Triyas Hadi Prihantoto, launching hotspot dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 Juni 2008 jam 09.00 WIB. “Di era teknologi informasi (IT), SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta perlu ikut mengadakan revolusi teknologi masuk sekolah. Hal itu sebagai upaya menyejajarkan pendidikan melalui pembelajaran yang mengglobal,” ujarnya, Kamis (26/6). Dijelaskan Triyas, sebelumnya SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta telah melaunching portal web setahun yang lalu (http://styosef.pangudiluhur.org), dan dilanjutkan portal e-learning (http: //www.yosefelearning. sch. id). Selanjutnya pada Sabtu (28/6), area hotspot akan dibuka. “Area hotspot merupakan sarana yang sangat vital dan dibutuhkan di era globalisasi ini guna menyeimbangkan ketertinggalan. Dengan demikian pendidikan di SMA Yosef semakin terbuka, selangkah ke depan dan transparan,” paparnya.Diharapkan setelah menjadi area hotspot, baik siswa, guru, dan karyawan dapat dengan mudah mengakses segala informasi yang dibutuhkan di lingkungan sekolah. Hal ini, kata Triyas, dalam upaya mendukung pembelajaran e-learning, sehingga keluarga besar SMA Yosef, alumni, dan masyarakat sekitarnya tidak lagi gaptek alias gagap teknologi.Pemasangan area hotspot ini bekerjasama dengan Telkom Speedy dalam program Internet Goes to School dengan aktivasi unlimited. “Jadi kapan saja dapat diakses dengan kecepatan 1 MBps Downstream dan 128 Upstream,” tandasnya. (atm/*)

Friday, May 30, 2008

Prihatin Reformasi

dimuat dalam surat pembaca Harian Joglosemar 21 Mei 2008

Tahun 2008 dapat dianalogikan sebagai “pangkat sepuluh”. Sebuah angka yang sempurna sebenarnya. Benarkah demikian dengan bangsa ini angka tersebut bermakna? Sebuah kesempurnaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan dambaan bersama. Sebuah keagungan bangsa yang berkemakmuran dan berkeadilan menjadi tujuan yang diidamkan, sepuluh tahun yang lalu reformasi bergulir. Harapannya akan ada perubahan hidup dalam negara menjadi lebih baik. Seratus tahun yang lalu Dr Sutomo dengan organisasi Budi Utomo mengobarkan semangat persatuan (nasionalisme). Pembentukan organisasi modern melebur sifat kedaerahan, provinsialisme dan perlawanan sporadis.Lalu kini di tahun 2008 makna sepuluh dan seratus tahun yang lalu, sudahkan mendapat secercah pencerahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelihatannya kita harus prihatin dan merefleksikan diri kembali dalam memperingati sepuluh tahun reformasi dan seratus tahun Kebangkitan Nasional. Kebangkitan itu harus selalu ada di manapun, kapanpun dan kepada siapa saja anak bangsa Indonesia.

FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epsitoholik Indonesia

Thursday, May 01, 2008

Olah Raga Minimalis

dimuat di kolom Surat Pembaca Kompas Jateng 2 Mei 2008

Terbatasnya ruang publik, area bermain dan lapangan olah raga di kota besar menjadikan banyak orang berpikir praktis. Sebab kebutuhan untuk berolah raga dan menjaga kesehatan menjadikan kebutuhan bersama. Akhirnya tempat yang masih tersisa di optimalkan perannya.
Model minimalis tidak hanya dalam bentuk rumah tetapi juga sarana bermain olah raga.
Maraknya Olah raga minimalis seperti dengan bermain futsal, bola basket dengan three on three, voli dikenal dengan voli pantai. Mungkin kelak akan muncul lagi jenis oleh raga berkelompok minimalis lainnya.
Ternyata tempat dan ruang terbatas tidak membatasi orang untuk berolah raga. Semua cara dapat dilakukan asal ada niat.
Makanya orang kota harus pandai memanfaatkan area publik yang tersisa guna berolah raga, berekreasi, bersosialisasi dan berkomunikasi.
Semoga menjamurnya area bermain futsal menjadi inspirasi warga kota untuk bisa memanfaatkan lahan yang tersisa dengan sarana olah raga yang rekreatif dan komunikatif.

FX Triyas Hadi Prihntoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef SUrakarta


Ironi Surat Pembaca

dimuat di harian Joglosemar 24 April 2008

Hari Rabu 9 April 2008 saya dapat SMS dari rekan EI (Epistoholik Indonesia). Sebuah harian terbitan nasional memberitakan vonis Rp 1 miliar bagi 4 penulis SP (Surat Pembaca) karena tulisannya di media massa. Ironis memang dalam ranah keterbukaan informasi dan komunikasi terjadi ketidakadilan dalam sebuah keputusan. Dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tercantum pula kode etik Pers. Ada sebuah hak jawab mengenai sebuah pemberitaan di mana pihak yang dirugikan diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi.Padahal para penulis SP dalam menyampaikan pesan umumnya berdasarkan apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan dialami. Sebuah pemberitaan berdasarkan kebenaran, kejujuran, lugas, apa adanya diperjuangkan melalui SP demi kemaslahatan publik. Namun saat ada tuntutan kepada penulis SP seolah-olah UU Pers terabaikan. Harapan saya sebagai salah satu dari sekian banyak penulis SP yang berjuang untuk kebenaran, penerapan UU Pers jangan hanya sebagai payung hukum bagi para wartawan. Perlu usaha advokasi bagi para penulis lepas (SP dan Opini) sebab di sinilah pembelajaran mengeluarkan pikiran dan pendapat teraktualisasi secara riil.

FX Triyas Hadi Prihantoro
warga Epistoholik Indonesia



Kontrak politik

dimuat di kolom Surat Pembaca Kompas Jateng 9 April 2008

Dalam era demokrasi secara langsung saat ini saatnya calon pemimpin melakukan kontrak politik. Sebab acapkali mereka lupa janji setelah terpilih menjadi Penguasa, meski itu berdasarkan suara rakyat.
Saat ini para calon Gubernur Jateng mengusung tema memperjuangkan kaum yang lemah, mengentaskan kemisikinan, pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis menjadi isu utama.
Oleh karena itu saatnya rakyat berani melakukan kontrak politik dengan para kandidat tersebut. Sebuah perjanjian dengan rakyat bisa menjadi alat "tagih" yang legal bila pemimpin terpilih mengingkari janji.
Kontrak politik menunjukkan kedewasaab berdemokrasi yang sesungguhnya. Kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang.?

FX TRiyas Hadi Prihantoro
SMA PAngudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Wednesday, March 12, 2008

Terimakasih Walikota Solo

dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng 3 Maret 2008

Obsesi walikota Solo untuk menghijaukan kota bukan basa-basi. Upaya penanaman pohon di area publik yang masih ada sudah biasa kita dengar. Bagaimana sekarang warga Solo mendukung dan mengaktualisasikan gagasan Walikota.
Seperti yang dilakukan SMA Pangudi Luhur Santo Yosef. Rasa prihatin akan global Warming (pemanasan global), aksi penanaman pohon sudah biasa dilakukan. Namun sekarang lebih gencar dan Intensif.
Seperti halnya pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2008, Walikota Solo berkenan audensi dengan Seluruh keluarga besar SMA Yosef. Dengan tajuk "Meet Mr. Meyer" dan bertema "Love Green" suasana hijau mendominasi pertemuan itu. Walikota sendiri memberi pujian bagi SMA Yosef sebagai sekolah yang terhijau di kota Solo. Sebab area 3,7 hektar 60 persennya merupakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) mulai dari lapangan sepak bola sampai "hutan kecil".
Sebuah kepedulian semua warga sekolah dan siswanya menjadikan walikota terketuk dengan memberi bantuan 25 bibit pohon nangka, 25 bibit pohon jambu biji, 25 bibit pohon akasia dan 25 bibit pohon Equalitus. Pada kesempatan itu Walikota juga secara simbolis berkenan menanam pohon wahyu turmurun dan Cempoko Mulyo. Selain itu Walikota juga berjanji mengucurkan bantuan dana Rp. 200 juta kepada SMA Yosef guna mengeksiskan RTHnya.
Terimakasih Walikota Solo, amanat untuk menghijaukan kota Solo akan dikawal dengan suasana hijau di Lingkungan SMA Pangudi Luhur Santo Yosef. Semoga derap pembangunan yang lain tidak melupakan untuk menyisakan bagi RTH.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta


Gus Dur dan Imlek

dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng tanggal 5 Februari 2008

Kebebasan memeluk Agama merupakan Salah satu Hak Asasi Manusia. Salah satu tokoh pejuang Hak ini adalah KH Abdurahman Wahid (Presiden keempat) Republik Indonesia.
Maka setiap kali menjelang perayaan Imlek saya selalu ingat Gus Dur. Dimana sejak menjabat sebagai Ketua NU tiada henti dia membela penganut Aliran Kepercayaan dan pemeluk Kong Hu Cu untuk memperoleh Haknya sebagai warga negara.
Maka tidak heran sejak Pemerintahan Gu Dur Perayaan Tahun Baru Cina mendapat tempat. Meski waktu itu baru secara fakultatif sebagai hari Libur Nasional namun sebuah kepastian pengakuan negara sebagai bukti bahwa Kebebasan beragama memang dijamin sesuai pasal 29 ayat 2 UUD 1945.
Sekarang Tahun Baru Imlek sudah menjadi hari Libur Nasional. Oleh karena itu marilah kita tebarkan semangat toleransi beragama. Kita hargai dan hormati siapa saja yang di sekitar kita meski memiliki agama dan keyakinan yang berbeda.
Seperti yang di deklarasikan oleh Tokoh Agama Nasional di Metro Lampung beberapa waktu yang lalu.
Selamat hari raya Imlek 2559 saudaraku. Gong Ci Fat Choi

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta



Pemimping perlu bersikap ramah

dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng tanggal 2 Februari 2008

Setiap menjelang pesta demokrasi. Baik itu untuk pengisian kursi di lembaga legislatif maupun eksekutif, para calon berusaha mencari dukungan dan perhatian rakyat.
Mulai ajang silaturahmi, aktif berkunjung, memberi bantuaan kepada rakyat dan berbagai aktifitas sosial lainnya. Upaya menarik simpati dan dukungan hanya sebatas saat membutuhkan saja. Padahal untuk menjadi Pemimpin dibutuhkan sikap ramah sepanjang masa.
Pemimpin yang seperti ini akan selalu di keenang oleh rakyatnya. Sehingga bukan lagi setelah tidak menjabat, justru hujatan yang diterima.Maka marilah menjadi pemimpin yang ramah.
Seperti contoh saat saya mendamping siswa untuk ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Presiden RI yang ke dua. Sejak pukul 07.00 pagi tanggal 28 Januari 2008 bersama 200 an siswa/siswi berjejer di sepanjang Jl. Adisucipto yang hendak dilewati rombongan jenasah maupun tamu yang hendak berbelasungkawa menuju Astana Giribangun.
Pada saat itu hampir tiap menit sirine petugas berbunyi meraung-raung mengiringi para tamu (pejabat) negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla. Ironisnya kami tidak bisa melihat siapa saja yang sedang mendapatkan pengawalan ketat tersebut.
Hanya satu rombongan yang cukup membanggakan bagi saya dan para siswa-i dan masyarakat yang berjejer. Saat Rombongan Orang nomor satu di tanah air lewat, jendela mobil sedan RI 1 yang ditumpangi Presiden SBY terbuka lebar-lebar. Dengan lambaian dan senyuman khasnya Bapak Presiden memberi salam kepada orang-orang yang berjejer di sepanjang jalan.
Sebuah sapaan yang menyejukkan. Sikap ramah seorang pemimpin (meski dengan senyum dan lampaian tangan) namun sebuah penghargaan kepada rakyat yang ikut menyambut cukup tinggi dan membahagiakan.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga Epistoholik Indonesia

Monday, January 28, 2008

Selamat Jalan Pak Harto

dimuat Surat Pembaca Kompas Jateng 28 Januari 2008 dan
Pos Pembaca Harian SOLOPOS 29 Januari 2008


Setelah hampir 24 hari menderita sakit, akhirnya Pak Harto berpulang pada hari Minggu, 27 Januari 2008. Pak Harto yang lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, adalah Presiden RI kedua.
Selamat jalan Pak Harto, jasa-jasamu selalu akan dikenang dalam goresan tinta emas sejarah bangsa Indonesia.
Meski saat sakit berbagai polemik selalu berseliweran, namun yakinlah bahwa engkau adalah salah satu putera terbaik yang dimiliki bangsa ini. Maka, sudah seharusnya dan sepatutnya semua elemen bangsa memiliki rasa hormat mikul dhuwur mendhem jero akan sosok dan pemikiran Pak Harto.
Bangsa Indonesia kembali berduka, namun sekaligus bangga karena telah memiliki bapak bangsa yang selalu menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme). Selamat jalan Pak Harto.

FX TRiyas Hadi Prihantoro
guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo



Pendidikan yang Menggairahkan

dimuat dalam Surat Pembaca di Harian Joglosemar 19 Januari 2008

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnolgi menjadikan banyak orang bermanja. Pasalnya segala fasilitas tersedia, dan tinggal klik kita sudah bisa dibantu oleh Iptek tersebut.Begitu pula dalam bidang pendidikan.
Saat berbagai Pembelajaran on line mudah diakses oleh media Internet, seorang siswa maupun guru tidak usah jauh-jauh mencari lieratur maupun bahan pembelajaran. E-Learning menjadikan pembelajaran online.Dengan demikian anggaran untuk membeli bukupun bisa dikurangi. Upaya saling belajar antar sekolah dapat dilakukan dalam pendidikan on line.
Sekolah penulis telah berupaya melakukan pembelajaran E-Learning dan akses Web yang up to date (http://yosefelearning.sch.id/ dan http://styosef.pangudiluhur.org/ )
Semua itu menjadikan pendidikan yang menggairahkan. Namun sudahkan siswa, guru dan orang tua kita selalu mengajak untuk selalu beriteraksi dengan tekhnologi?
Dan bagaimana stakeholder pendidikan menyikapi.Jangan ada kata terlambat, mari kita mulai sejak sekarang dan jangan tunggu besok. Sebab tekhnologi menjadikan pendidikan yang menggairahkan bila kita mengakrabinya.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Wednesday, January 16, 2008

Menggugah Nurani Anggota DPR

dimuat di Surat Pembaca harian Joglosemar 15 JAnuari 2008

Wacana pembagian insentif bagi anggota DPR dalam setiap pembuatan UU sungguh sesuatu yang wajib dipertanyakan. Pasalnya ditengah derita begitu banyak masyarakat Indonesia yang tertimpa bencana, masihkah mereka (anggota DPR) merasa kurang mendapatkan fasilitas dari negara?. Mulai dari kesejahteraan, kesehatan, perumahan, alat komunikasi dan lain sebagainya.Memang dalam iklim negara demokratis segala kebijakan yang menyangkut anggaran negara harus ”didiskusikan” dengan wakil rakyat. Namun apakah pantas bila setiap kebijakan mengabaikan kebutuhan yang lebih penting malah mendahulukan kepentingan diri.Bukan saatnya Anggota DPR banyak menuntut.Lebih pantas dan layak mengalokasikan dana insentif diberikan pada daerah bencana. Banyak jalan untuk kegiatan sosial ini. Meski banyak pihak mengatakan sebuah curi start kampanye, toh sebuah pemberian bantuan kepada daerah bencana, meski dengan bendera Partai. Lebih kental suasana empati kemanusiaannya daripada sebuah upaya cari dukungan.Mari kita gugah nurani anggota DPR baik pusat maupun daerah, untuk bisa menyisihkan pendapatanya dari perolehan apapun untuk membantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Ibaratnya mendahulukan kepentingan umum lebih mulia diatas kepentinmgan pribadi maupun kelompok.

FX Triyas Hadi Prihantoro Warga Epistoholik Indonesia



Perilaku yang tertib, patuh dan disiplin

dimuat di Pos Pembaca SOLOPOS 31 Desember 2007

Keterpurukan bangsa ini tidak lepas dari perilaku diri yang kurang terpuji. Kebiasaan melanggar atura, tidak patuh dan disiplin sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Kemungkinan menjadikan negara akan berubah ke arah yang diharapkan masih membutuhkan waktu lama . Sebab memang kita belum mampu dan mau untuk koreksi diri dan menghargai diri sendiri apalagi orang lain.
Suatu contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari yang selalu ditemui. Setiap hari manusia hidup butuh waktu perjalanan menuju ke tempat tugas/ kerja/ sekolah maupun tujuan lain. Lihatlah bagaimana perilaku kita dan saudara yang ditemui di jalan. Sudahkan terjadi saling patuh, disiplin dan tertib serta menghormati antara sesama pemakai jalan.
Aksi nylonong, mau menang sendiri, berhenti sesuka hati, ngebut, tidak berasesoris lengkap merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap aturan berlalu lintas. Meski Aparat selalu mensosialisasikan namun sering kita mengabaikannya
Contoh konkret perilaku yang selalu penulis temui saat mau berangkat kerja. Orang bersepeda dan pengemudi becak tidak pada jalurnya, naik motor tidak berhelm, pengemudi mobil tidak mengenakan sabuk pengaman serta berhenti seenaknya sendiri. Bahkan kebijakan baru ang selalu digembar-gemborkan oleh petugas, bagi para pengemudi motor harus memakai jalur kiri dan menyalakan lampu dianggap sebuah himbauan semu.
Kepatuhan perilaku, tertib dan disiplin memang harus mengakar dan membumi pada hati kita semua. Bila ini masih selalu dianggap angin lalu dan dilanggar,sebuah keniscayaan bangsa lain akan percaya pada bangsa kita. Sebab martabat bangsa akan di akui bila kita sendiri telah mampu melaksanakan dengan sungguh.Saatnya kita benar-benar berubah muali dari diri kita sendiri.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta
warga epsitoholik Indonesia

Wednesday, December 19, 2007

Hari Raya dalam Kebersamaan

dimuat dalam Surat Pembaca Kompas Jateng 19 Desember 2007

Tahun ini dalam waktu tenggang 10 hari, bersamaan 3 hari besar yaitu Idul Adha , Natal dan Tahun Baru tidak hanya sebuah peringatan, tapi juga perayaan bagi umat manusia yang mengimaninya.
Sebuah kebersamaan dalam realitas menuju keharmonisan dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sebuah cita-cita negara Integralistik dalam semangat persatuan dan kesatuan menuju negara yang Berbhineka Tunggal Ika merupakan tujuan kita.
Semangat kebersamaan dalam kehidupan negara yang multikulturalistik inilah yang harus kita semai

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Sunday, December 16, 2007

Dari Gaptek Menuju Melek Iptek

dimuat dalam kolom DIDAKTIKA hal 14 harian KOMPAS 26 Nopember 2007

Dari Gaptek menuju melek Iptek
oleh FX Triyas Hadi Prihantoro

Guru profesional adalah guru yang mau mengembangkan dirinya dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Meski dalam UU Guru dan Dosen dikatakan guru harus mempunyai kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, di era Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi harus mau merubah pola pikir..
Bagaimana merubah pola pikir guru yang sudah kadung (terlanjur) gaptek (gagap tekhnologi) alias katro ini? Mungkinkah secara radikal dan ekstrim bisa melakukan manufer menjadi guru yang berkarakter Iptek?
Melakukan perubahan ini tidak gampang di era iptek seperti sekarang ini. seorang guru harus mempunyai peran ganda sebagai koordinator, fasilitator, pembimbing, pendamping dan mitra belajar bagi siswanya..
Tantangan tersulis tentu saja tingkat pendidikan guru. Berdasarkan data dari Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) tahun 2005-2006., guru yang berijasah Sarjana masih di bawah angka ideal.
Guru Taman Kanak-Kanan (TK) yang berijasah Sarjana misalnya baru 10,69 persen dan Sekolah Luar Biasa (SLB) 44,46persen , SD 16,57 persen , Madrasay Ibtidaiyah 15,29 persen , guru SMP 61,31 persen, Madrasah Tsanawiyah 53,02 persen SMA 83,43 persen dan Madrasah Aliyah 70,79 persen
Tingkat Pendidikan
Bagaimanapun tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam kualitas seorang guru. Itulah sebabnya untuk laolos dalam sertfikasi guru minimal seorang guru sudah sudah memiliki Ijasah Diploma 4 (D4) atau S1. Sebab dengan bekal kesrjanaan dianggap mampu menyesuaikan diri di era Tekhnoligi Informasi dan Komunikasi (.TIK)
Tonggak TIK yang paling fenomenal antara lain adalah dengan hadirnya Internet termasuk ke sekolah-sekolah. Kehadiran Internet telah menggeser menggeser dan merubah pola atau sistem hidup manusia. Dengan Internet sumber informasi menjadi lebih beragam dan luas, tidak semata-mata dari buku teks di sekolah. Jarak dan Waktu bukan lagi kendala yang utama.
Munculnya sistem pembelajaran On-line (E-Learning) dipastikan bakal menjadi proses pendidikan masa depan. Guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas juga menjadi teman diskusi bagi siswa saat belajar melalui internet.
"E-Learning"
Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh mengatakan, pengembangan sistem pembelajaran jarak jauh, terbuka atau berbasis internet (E-Learning) membutuhkan dukungan infrastruktur informatika yang memadai. Sejauh ini, infrastruktur tersebut masih sangat terbatas (Kompas 19/11/07)
Meski demikian memang dalam kemajuan tekhnologi dalam Internet masih ada sisi negatif yang perlu direduksi, semisal munculnya Carding, Hacker; Violence and Gore, Cracker, penipuan, perjudian bahkan Pornografi mudah diakses siapa saja. Karena itu di era E-Learning ini, peran guru masih sangat penting dalam mentransformasikan nilai-nilai etika, sosial dan budaya dalam tatanan kehidupan.
Perubahan nilai sosial yang muncul dari internet menuntut pergerakan dengan cepat menyiapkan infrastruktur dan faktor-faktor yang bersangkutan dengan bidang tersebut. Internet merupakan salah satu jembatan penting untuk masuk dalam kancah dunia. Begitu pula pendidikan Indonesia yang menduia akan terealisir bila di nahkodai oleh guru-guru yang tidak gaptek.
Karena itu bukan hal yang mengherankan bila Depdiknas mau menanamkan modal sebanyai 1 triliun guna membangun pusat sumber atau resources center di sekolah-sekolah untuk mempercepat TIK di tahun 2008 (Kompas 15/11/07).
"Lembaga pendidikan dapat menjadi tempat untuk pembelajaran TIK sehingga nantinya terwujud masyarakat melek digital”, seperti ungkapan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional Lilik Gani. (Kompas 19/11/07).
Guru abad 21
Menjadi guru abad 21 sungguh tidak mudah. Kemampuan dalam bidang tekhnologi, berkomunikasi menjadi suatu keharusan. Ditambah dengan kemampuan berkolaborasi dengan siapa saja yang peduli pendidikan.
Disi lain seorang guru dalam pembelajaran harus mulai mengedepankan problem solving sebab bermasalahan siswa semakin kompleks. Selain itu sisiwa semakin kritis dan kreatif bahkan wawasannya semkin luas dengan terbukanya akses Internet.
Perubahan di era TIK seprti sekarang ini sangat sulit diprediksi sebab skala waktu yang relatif cepat, tepat, singkat dan mudah berubah. Karena itu untuk menghadapi di era digital seperti ini perlu guru - guru yang mumpuni. Antisipasi segala bentuk perubahan diawali dengan menyiapkan guru yang berkualitas.
Tak cukup silabus
Menyadari beratnya tantangan Guru di abad 21 program peningkatan mutu guru tidak lagi cukup hanya sebatas bagaimana membuat silabus atau kerangka pembelajaran dan evaluasi melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Gurupun tidak lagi hanya sibuk mencari sertifikat guna memenuhi syarat sertifikasi
Disisi lain Dirjend PMPTK harus gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran E-Learning yang berbasis Internet. Saat ini sudah banyak sekolah mendapat bantuan perangkat multimedia (Lab Multimedia), namun tanpa menyiapkan guru-gurunya ber IT menjadi hal yang mubasir.
Seorang gurupun harus mulai terbiasa menggunakan komputer jinjing (laptop).Dalam pelatihan/penataran/lokakarya mestinya bukan hal yang aneh jika guru membawa Laptop. Maklum guru harus berubah dari gaptek menuju melek Iptek.
Momentum peringatan hari Guru 25 Nopember 2007 mudah-mudahan awal dari guru untuk berubah

FX Triyas Hadi Prihantoro
Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Sunday, December 09, 2007

Vine, Vidi, Vici kontingen Indonesia

Dimuat di Surat Pembaca Kompas Jateng 6 Desember 2007

Hajat pesta olah raga bangsa serumpun Asia Tenggara (Sea Games) sudah dimulai. Segala persiapan, doa dan restu dari rakyat Indonesia meyertai kepergian kontingen Indonesia.
Harapannya nama baik, keharuman bangsa akan terukir dalam berbagai prestasi yang akan diorehkan. Optimisme dan semangat juang wakil kita tidak diragukan.
Bukanlah nasib yang yang menjadikan kita belum berhasil menorehkan lagi "tinta emas" kejayaan Indonesia. Persiapan, Evaluasi dan Intropeksi dirilah yang menjadi wacana untuk memperbaiki demi "keagungan bangsa".
Ada apa dengan bangsa ini, sebab segala pretasi olah raga seolah-oleh menjauh.Meski demikian kita perlu memberi suport dan apresiasi yang tinggi kepada mereka (atllet) yang sedang berjuang.
Dalam ingatan saya era tahun 1970-1980 an Indonesia selalu menapaki nomer puncak setiap perolehan medali. Sampai surat iini saya tulis,posisi Indonesia masih menjadi juru kunci.
Bagaimana dengan semboyan vine, vidi, vici (Datang, melihat dan menang) Kita ingin merekadatang, melihat dan menang untuk Indonesiaku.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudiluhur Santo Yosef Surakarta





Sampah di Monumen 45 Banjarsari

dimuat Di Pos Pembaca SOLOPOS 23 Nopember 2007

Mencintai lingkungan sendiri kadang sulit dilaksanakan. Mungkin tangan serasa gata bila tidak melakukan semestinya. Demikian halnya nasib monumen kebanggan wong Solo, Monumen 45 Banjarsari.
Apa yang dialami penulis saat bersama dengan pengurus OSIS melakukan aksi pembelajaran Cinta Tanah Air membersihkan Monumes 45 Banjarsari dari segala sampah.
Kegiatan yang dilakukan hari Kamis tanggal 8 Nopember 2007 merupakan bentuk pembelajaran cinta tanah air dan memupuk semangat nasionalisme menjaleng hari Pahlawan 10 Nopember 2007.
Monumen yang membanggakan penuh dengan berbagai coretan dan cat (pilox) yang realitasnya sulit dihapus. Baik itu dengan tinner, bensin maupun diampelas. Belum lagi sekitar monumen banyak seklai sampah berceceran.
Ironisnya, tempat sampah disekitar monumen pun tidak ada. Ini menjadi keraguan penulis bahwa kita memang sulit untuk membuang sampah sembarangan. Sebab tempatnyapun tidak ada.
Hemat penulis, sebuah pengawasan dan kesadaran warga sangat dibutuhkan demi keasrian wilayah ini yang mulai tertata baik. Begitu juga Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) segera memikirkan tempat sampah yang represntatif.
Sebab apa yang sudah direncanakan tanpa dukungan semua pihak akan mubazir. Sebab dari sini akan membentuk karakter warga yang tertib dan disiplin termasuk tidak corat-coret membuang sampah sembarangan

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta




Hilangnya Kepercayan

dimuat di Surat Pembaca Kompas Jateng 20 Nopember 2007

"Tobat! Ampun! Tak akan mengulang!" Itulah kata yang sering kita dengar dari pelaku kejahatan saat tertangkap basah. Bisakah pertobatan itu dipercaya?
Melihat mimik, raut muka, tangisan, keseriusan berubah menjadikan pemberian maaf sebagai salah satu jalan keluar. Namun bila pengulangan perbuatan yang sama, rasanya jadi jengkel.
Seperti halnya tertangkapnya aktor Roy Marten saat pesta Narkoba di salah satu hotel di Surabaya baru-baru ini. Ironisnya saat dia sedang nerkampanye antinarkoba yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional.
Sebagai figur publik tenhtu pemberitaan terus menerus oleh pencari berita akan gencar menghiasai media massanya. Jadilah kita tak lagi mempercayai pertobatan mereka.
Dalam ingatan publik ada beberapa figur yang tersangkut Narkoba mulai dari Zarima, Doyok, Polo, Revaldo, Gogon, Faris RM dan Roy Marten sendiri.
Seharusnya dari mereka kepercayaan publik guna membantu pemberantasan narkoba terbentuk sebab sebuah pengakuan, keinsafan, pertobatan yang hakiki menjadi bentuk keteladanan bagi masyarakat untuk selalu jauh dari penyalahgunaan narkotika.
Hilangnya kepercayaan menjadikan sesungguhan usaha BNN, Kepolisian dan sekolah melalui pendidikan hanya fatamorgana.

FX Triyas Hadi Prihantoro
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

Friday, November 02, 2007

Membudayakan Tertib dan Disiplin

dimuat di Surat Pembaca KOMPAS Jateng 3 Nov 2007

Bulan November ini Kepolisian Mencanangkan "Bulan Tertib Lalu Lintas". Berbagai operasi rutin dilakukan, baik itu mengenai perlengkapan kendaraan, ketaatan berlalu lintas, maupun penyalaan lampu (light on) pada siang hari bagi pengendara motor.
Pencanangan tertib lalu lintas ini membuktikan bahwa tertib dan disiplin belum menjadi budaya masyarakat Indonesia. Segala pengawasan dan pemberian sanksi tegas menjadikan kita hanya "takut" sementara waktu. Namun bila aparat kendur dalam melaksanakan tugas, kembalilah kita kepada kebiasaan/budaya lama yang tidak tertib dan disiplin.
Perlu membumikan budaya tertib dan disiplin sejak dini. Salah satunya melalui pendidikan di sekolah. Seperti halnya di sekolah penulis, guru piket selalu datang lebih pagi.

FX TRIYAS HADI PRIHANTORO
SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta